Mencari Sisa Tawa dan Nyanyian Benyamin Sueb

Agniya Khoiri & Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 09:35 WIB
Mencari Sisa Tawa dan Nyanyian Benyamin Sueb Mencari film dan lagu asli karya Benyamin Sueb tak semudah ketika tayang di televisi. Pihak keluarga pun terus mencari demi dokumentasi yang lengkap. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelak tawa selalu mudah keluar saat melihat aksi Benyamin Sueb melalui film-film lawas yang sesekali muncul di televisi nasional, entah mendekati Hari Ulang Tahun Jakarta atau lainnya.

Namun ternyata mencari rekaman asli film yang pernah dimainkan oleh Benyamin Sueb tak semudah memencet tombol remot televisi. Dan itu baru dari karya filmnya.

Pengalaman itu dirasakan CNNIndonesia.com ketika mencoba menelusuri peninggalan Benyamin Sueb.


Benyamin Sueb yang lahir pada 5 Maret 1939 itu tercatat memiliki puluhan karya baik berupa film, lagu, maupun barang pribadi bukti eksistensinya di dunia fana selama 56 tahun.


Menurut buku biografi Benyamin S: Muka Kampung Rezeki Kota yang ditulis Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri cetakan September 2005, semasa hidup Bang Ben telah membintangi 61 judul film, serta menyanyikan 312 lagu, baik dinyanyikan secara solo maupun duet.

Jumlah tersebut belum dapat dipastikan sebagai jumlah yang pasti. Ketua Yayasan Benyamin Sueb yang sekaligus anak keempat sang legenda, Beno Rachmat juga belum mengetahui secara tepat jumlah lagu yang dinyanyikan dan film yang dibintangi ayahnya.

"Kalau film itu susah ya hitungnya, karena kadang Babe hanya kontrak jadi pemain dan film menjadi milik produser. Kalau lagu yang Babe nyanyiin ada sekitar 500, itu juga bisa lebih kalik," kata Beno dengan logat Betawi nan kental, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Mengenakan baju milik babenya, Beno paham betul drama mengumpulkan karya-karya peninggalan Benyamin Sueb. Ia dan saudaranya yang lain berjuang selama beberapa tahun terakhir untuk melengkapi karya yang nantinya mengisi Museum Benyamin Sueb.

Mencari Sisa Tawa dan Nyanyian Benyamin SuebAksi Benyamin Sueb dalam film 'Bencong Slebor'. (dok. Jiung Film via YouTube Falcon Pictures)
Museum itu digagas oleh keluarga Benyamin Sueb melalui Yayasan Benyamin Sueb. Dulu, yayasan itu dipimpin oleh anak pertama Benyamin yaitu Bieb. Kini, Beno yang bertugas mengelola yayasan itu usai Bieb tiada pada 2012.

Yayasan yang Beno pimpin fokus mengumpulkan karya Benyamin yang masih tercecer. Ia mendapat karya benyamin dalam bentuk kaset atau piringan hitam dari koleksi keluarga.

Sampai saat ini ada sekitar 400 lagu yang berhasil dikumpulkan yayasan, sementara untuk film belum dapat dihitung karena sulit ditemukan. Secara keseluruhan yayasan baru berhasil mengumpulkan 60 persen dari seluruh karya Benyamin.

Beno yakin karya Benyamin yang belum ditemukan tidak hilang. Melainkan ada di tangan kolektor atau di tangan produser yang membeli master lagu serta film.


"Jika nanti ada museum Benyamin, saya minta kelegaan hati kolektor atau produser untuk melengkapi museum. Kalau memang yang mereka punya master lagu atau film, itu tetap punya meraka, kami hanya minta itu ditaruh di museum," kata Beno.

Dugaan Beno bahwa banyak karya Benyamin Sueb yang dipegang individu bisa jadi benar. CNNIndonesia.com mencoba menelusuri sejumlah institusi yang menyimpan arsip seperti Perpustakaan Nasional.

Institusi penyimpan arsip terbanyak di Indonesia itu juga telah terhubung dengan sejumlah lembaga lain seperti Sinematek Indonesia yang menyimpan koleksi film-film lawas Indonesia, sehingga memungkinkan penelusuran lebih menyeluruh.

Namun dalam upaya pencarian, tercatat Perpustakaan Nasional hanya empat arsip karya Benyamin Sueb, yaitu rekaman suara Benyamin Sueb dalam Irama Dangdut, rekaman video film Cukong Bloon, rekaman video film Tarzan Kota, dan rekaman video film Traktor.

[Gambas:Youtube]

Ternyata, faktor status hak berdasarkan kontrak berperan besar dalam nasib peninggalan Benyamin ini.

Dalam karya film, Beno mengatakan Benyamin lebih banyak dikontrak hanya sebagai pemain. Ini membuat Benyamin tidak memiliki hak apa pun atas film tersebut usai merampungkan perannya.

Benyamin Sueb pernah membuat filmnya sendiri. Ia mendirikan Jiung Film pada 1974 yang dinamakan terinspirasi dari nama kakeknya sendiri.

Lewat Jiung Film, Benyamin berhasil membuat Duyung Ajaib, Hipies Lokal, Koboi Ngungsi, Iblis Loker, Musuh Bebuyutan, Bencong Slebor, dan Buaya Gile.

Meski Jiung Film milik Benyamin, Beno tak yakin hak cipta ataupun bukti fisik film yang diproduksi babenya itu masih ada. "Sekarang sudah dilempar ke orang, saya tidak tahu. Mungkin sudah dipunya orang," kata Beno.


Sedangkan untuk karya musik, masalah kontrak juga jadi kendala. Benyamin diketahui memiliki tiga jenis kontrak untuk musik selama dia hidup.

Menurut Beno, kontrak itu adalah sebagai penyanyi dengan lagu karya produser, kontrak menyanyikan lagu sendiri yang diaransemen produser, dan kontrak titip edar lagu yang dibuat sekaligus dinyanyikan Benyamin.

Atas beragam ketidakpastian kepemilikan karya Benyamin, Beno menyebut kerap bertemu orang yang mengklaim memiliki bukti karya babenya. Namun kerap kali pula, orang-orang itu tak dapat membuktikan kontrak dengan Benyamin.

"Kalau orang punya master yang dari membeli kemudian dia mau edarin lagi, saya bisa nuntut. Kalau lagu kan jelas hak patennya. Jadi dia hanya pegang master aja." kata Beno.

Nasib luntang-lantung yang dialami ratusan karya Benyamin setidaknya tidak terjadi untuk barang pribadi milik seniman tersebut. Keluarga mengaku masih menyimpan sejumlah barang pribadi yang siap masuk Museum Benyamin Sueb, bila kelak terwujud.

Mencari Sisa Tawa dan Nyanyian Benyamin SuebPara penggemar Benyamin Sueb mengenang idolanya melalui sejumlah acara, salah satunya menyanyikan lagu-lagunya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Tapi barang-barang itu mencar di berbagai tempat, mulai dari rumah Noni, istri pertama Benyamin di Cinere, hingga kantor Bens Radio di Jagakarsa dan Ciputat.

Barang-barang itu seperti bakiak, sepatu, tas, kacamata, tulisan lirik, rekaman asli pita kaset, hingga berbagai foto-foto Benyamin dulu kala.

Seperti yang terpajang di kantor Bens Radio di Ciputat. Di gedung yang kembali ditempati di awal 2018 itu, sebuah foto hitam putih yang menggambarkan Benyamin bersalaman dengan Presiden Soeharto tergantung di salah satu dinding bercat hijau.

Di sisi lain, dua foto Benyamin menerima penghargaan tampak tersenyum kepada siapa pun yang memandangnya. Sayang, tak diketahui kapan Benyamin difoto sebahagia itu.

Pernak-pernik Benyamin yang dibuat penggemarnya.Pernak-pernik Benyamin yang dibuat penggemarnya. (CNN Indonesia/ Endro Priherdityo)
Kantor Bens Radio di Jagakarsa disebut Benny Pandawa, anak kelima Benyamin yang juga mengelola Bens Radio, lebih banyak berisi baju serta atribut panggung yang pernah dikenakan Benyamin semasa hidup. Tapi ada juga yang entah rimbanya.

"Gitar akustik yang biasa dia pakai untuk genjrang-genjreng sudah enggak tahu ke mana, terus Saksofon juga. Mungkin bukan hilang tapi dikoleksi sama orang." kata Benny. (end)