Ulasan Seni

Konflik Cinta 'Preman Parlente' di Tanah Batak

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 03/03/2018 17:41 WIB
Konflik Cinta 'Preman Parlente' di Tanah Batak 'Preman Parlente' mendapuk Cak Lontong sebagai Ucok, preman yang merantau ke Jakarta. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pilihan Ucok Lontong (diperankan Cak Lontong) merantau ke Jakarta sebagai preman bukan hanya berhasil membuatnya lebih kaya. Di Ibu Kota, Ucok juga bertemu dengan pujaan hati.

Meski mengalami berbagai lika-liku dalam hubungannya dan terkenal sebagai penipu ulung, jika sudah soal cinta Ucok nomor satu. Ia sangat menyayangi kekasihnya, Butet.

Sampai pada suatu ketika, Ucok yang tengah asyik bernostalgia kala bertemu karib lama dari kampung, didatangi sang kekasih yang kesal karena dirinya tidak bisa dihubungi.



Keduanya lantas bertengkar hebat. Butet pun menuntut keseriusan Ucok. Sang preman diminta segera menemui ibunya di kampung halaman, Samosir. Ucok panik sekaligus takut.

Ia tak mau nantinya harus berbohong kepada calon mertua bahwa dia hanyalah preman yang bertopeng pengusaha sukses. Terlebih, dia sebenarnya bukan Batak asli. Ucok berdarah Jawa.

Sekilas gambaran itu menjadi pembuka pentas ke-27 program Indonesia Kita bertajuk 'Preman Parlente' yang digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat (2/3) malam.

Cak Lontong menjadi Ucok, pemeran utama dalam 'Preman Parlente.'Cak Lontong menjadi Ucok, pemeran utama dalam 'Preman Parlente.' (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Meski kisah cinta Ucok dan Butet agak rumit, aksi Cak Lontong yang piawai bersilat lidah dan memainkan kata membuat pertunjukan ini terasa lebih ringan. Belum lagi, sentilan tentang situasi terkini yang berkembang di masyarakat membuat pentas ini cukup relevan.

Tahap demi tahap konflik hubungan Ucok dan Butet diselingi musik rap berbahasa batak dari grup Siantar Rap Foundation. Tak hanya itu saja, 'Preman Parlente' juga memunculkan konflik kawasan wisata di Danau Toba yang ingin dikuasai investor besar.

Sang investor menugaskan anak buahnya membujuk dan menghasut warga agar mau menjual tanah mereka. Tak luput, ia memberi janji uang kepada para preman yang bisa mengumpulkan kekuatan dan menguasai warga. Kedatangan Ucok ke Samosir dijadikan jalan mencapai tujuan.


Ucok difitnah dan dianggap ingin menguasai wilayah kekuasaan mereka. Tak cukup sampai di situ, Butet dirayunya dengan cinta dan harta. Mana kah yang akan menang?

Mengambil latar di tanah Sumatra, pentas ini benar-benar mengangkat budaya daerah. Tak sekadar jadi latar, budaya Batak juga mewarnai kostum, penggunaan bahasa, serta musiknya.

Pentas ini patut diapresiasi karena masih menggambarkan prosesi penyambutan tamu di tanah Batak dengan mengalungi kain ulos, tari-tarian, serta mempertahankan bahasa asli sana.


Hanya saja, gambaran konflik serta pertentangan batin yang dialami Ucok dan Butet kurang gereget. Porsi komedi dalam cerita ini terlalu mendominasi, hingga garis besar cerita agaknya kurang sampai. Kehadiran Cak Lontong sebagai komedian pun mendukung itu.

Setiap perkataan Ucok yang pandai berdalih kerap mengundang gelak tawa. Namun itu terkadang terasa berlebihan sehingga melampaui kisah yang ingin disampaikan.

Padahal akan lebih menarik jika budaya serta kehidupan di tanah Sumatera lebih dieksplorasi lagi hingga menghidupkan cerita. Pentas juga akan terasa lebih kaya jika perpaduan budaya Jawa-Batak lebih ditonjolkan, tak hanya masing-masing secara terpisah.

Sindiran akan situasi politik masa kini tampaknya masih menjadi bumbu menarik dalam sebuah pementasan. Gelak tawa penonton terdengar keras saat sindiran dilontarkan secara satir.

'Preman Parlente' menonjolkan budaya Batak.'Preman Parlente' menonjolkan budaya Batak. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Secara keseluruhan, pentas yang disutradarai Agus Noor ini menghibur dan layak disaksikan untuk mengisi akhir pekan. Selain dimeriahkan penampilan Cak Lontong, pentas ini juga didukung aksi Akbar, Marwoto, Mery Sinaga, Louise Sitanggang, Flora Simatupang, Trio GAM(Joned, Wisben, dan Dibyo Primus), OBAMA (Otak Batak Marlawak), Sigma Dance Theatre Indonesia, Siantar Rap Foundation, serta Vicky Sianipar Ensemble.

Preman Parlente akan berlangsung hingga besok, Minggu (4/3). Tiket yang dijual mulai dari Rp150-750 ribu. (rsa)