Kala 'Segunung' Pusaka Benyamin Sueb Menunggu Dijaga

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 04/03/2018 08:32 WIB
Kala 'Segunung' Pusaka Benyamin Sueb Menunggu Dijaga Benyamin Sueb telah meninggalkan 'segunung' karya. Namun nasib pusakanya tak jelas hingga kini. (Courtesy of Falcon Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nyok, kite nonton ondel-ondel
Nyok, kite ngarak ondel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye
Anaknye ngigel ter-iteran

Siapa yang tak kenal lagu Ondel-Ondel? Lagu yang kerap muncul kala ulang tahun ibu kota Jakarta itu begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Atau, pernahkah menonton atau mengetahui film Tarzan Kota? Zorro Kemayoran? Si Doel Anak Betawi? Betty Bencong Slebor? Sejumlah film lawas yang masih mampu mengocok perut saat ditayangkan di jaringan televisi nasional.


Semua itu hanya secuil dari 'segunung' karya Benyamin Sueb.


Benyamin Sueb lahir di sebuah rumah sederhana khas Betawi di sudut kampung Utan Panjang Kemayoran. Ia anak kedelapan dari delapan bersaudara pasangan Siti Aisyah dan Suaeb.

Ayah dari ibunya adalah jawara Betawi, Haji Rofiun alias Haji Ung yang namanya diabadikan menjadi sebuah jalan dan jembatan di kampungnya. Berpuluh tahun setelahnya, Benyamin pun dijadikan nama jalan utama di Kemayoran yang penuh bangunan modern dan berkelas.

Sejak lahir pada 5 Maret 1939, Benyamin Sueb memang terkenal jadi biang kerok. Namun ia juga dikenal sebagai sosok yang jenius, cerdas, dan memberikan keceriaan bagi sekelilingnya.


Kala dewasa, ia adalah salah satu pion dalam perkembangan budaya popular di Indonesia.

Sejak bertemu dengan seniman Bing Slamet di era 1960-an, Benyamin Sueb bak mata air yang terus memancarkan karya-karya. Bagai menemukan takdirnya, Benyamin perlahan menjadi seniman besar hingga akhir nyawanya pada 1995.

Kala 'Segunung' Pusaka Benyamin Sueb Menunggu DijagaBenyamin Sueb mendapatkan penghargaan dari Gubernur DKI, Ali Sadikin. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Menurut buku biografi Benyamin Sueb: Muka Kampung Rezeki Kota karya Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri cetakan September 2005, Bang Ben diketahui telah bermain dalam 61 film, menghasilkan 312 lagu yang terdiri dari 165 lagu single dan 147 lagu duet.

Itu belum termasuk dengan sejumlah album seperti lima album lawak, dua album tema film, dan 10 album kompilasi. Plus, beragam koleksi penghargaan dan barang pribadinya, termasuk sebuah rumah di Kemayoran yang menjadi saksi bisu kehidupan Benyamin.

"Kalau lagu yang Babe nyanyiin ada sekitar 500, itu juga bisa lebih kali," kata Beno Rachmat, anak keempat Benyamin Sueb sekaligus ketua Yayasan Benyamin Sueb.


Namun sayang, warisan pusaka dari Zorro Kemayoran ini banyak yang tak jelas nasibnya. Sebagian besar lagu-lagu memang telah didigitalisasi dan disimpan di Bens Radio, namun sebagian sisanya masih terus dicari.

Nasib film-film yang pernah dimainkan Benyamin Sueb pun banyak yang tak diketahui rimbanya. Masalah kontrak Benyamin dahulu kala menjadi salah satu faktor yang membuat master film-film itu mencar.

Belum lagi soal polemik nasib rumah Benyamin di tanah leluhurnya, Utan Panjang Kemayoran. Rumah yang telah berdiri sejak dekade '70-an itu kini nyempil di tengah pemukiman penduduk, terkurung akibat masalah status lahan.


Padahal, rumah itu adalah saksi bisu kehidupan Benyamin sebagai bintang besar Indonesia nyaris lima dekade silam. Pun rumah itu konon diwakafkan Benyamin kepada masyarakat sebagai tanda baktinya.

Masalah pelestarian karya dan peninggalan Benyamin juga tak bisa dilepaskan dari drama rumitnya penggagasan museum Benyamin Sueb. Ide museum tersebut telah ada sejak 2010, tapi tak pernah ditanggapi serius oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta.

Foto Benyamin Sueb tengah rekaman ditunjukkan ketika perayaan mengenang Bang Ben oleh penggemarnya, 2015.Foto: Endro Priherdityo
Foto Benyamin Sueb tengah rekaman ditunjukkan ketika perayaan mengenang Bang Ben oleh penggemarnya, 2015.
Gagasan museum dan juga taman budaya Benyamin selalu jadi korban 'harapan palsu' pemerintah daerah, di berbagai lapisan, selama bertahun-tahun dengan alasan "masih dikaji."

Entah apa kata Benyamin bila masih hidup melihat kondisi nasib karya yang ia tinggalkan, seperti melihat kali Utan Panjang yang dahulu jernih penuh ikan tempat ia mancing dan mandi tapi kini bau amis berair hitam pekat.

Masalah pelestarian karya kebudayaan selalu menjadi isu klasik yang tak kunjung rampung di negeri ini. Padahal infrastruktur perundangan telah ada, hanya tinggal aksi nyata tanpa embel-embel harapan yang cuma modus belaka.


Jelang ulang tahun Benyamin Sueb ke-79, Senin (5/3) esok, CNNIndonesia.com mencoba mengenang dan memberikan kado ulang tahun lebih awal kepada sang Pahlawan Budaya dengan asa karya Bang Ben segera dijaga demi tawa anak-cucu melihat aksi jenaka nan ceria dari seorang Benyamin.

Selamat ulang tahun, Bang Ben! (end)