Analisis

Kasus Foto Holocaust, Syahrini Dinilai Kurang Berempati

Agniya Khoiri & Resty Armenia, CNN Indonesia | Kamis, 22/03/2018 20:00 WIB
Kasus Foto Holocaust, Syahrini Dinilai Kurang Berempati Empati sosial Syahrini dianggap kurang terasah. (Detikcom/Noel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Syahrini kembali menuai kontroversi karena berpose di salah satu situs bersejarah di Jerman, Holocaust Memorial. Dia dianggap melanggar norma kesopanan karena tidak menghormati tempat yang dikenal atas sejarah gelap Eropa, yakni pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi atau Holocaust.

Fotonya sendiri sempat ia unggah di akun Instagram, tapi langsung dihapus begitu menjadi kontroversi. Dalam unggahan yang sempat diabadikan warganet, penyanyi berusia 40 tahun ini nampak berpose di atas memorial yang berbentuk banyak pusara.




Tidak jelas apa maksud dirinya berpose di sana. Dalam keterangan, Syahrini hanya menuliskan bahwa dia berada di Jerman untuk pemeriksaan kesehatan.

"Jerman. Beberapa hari sebelum periksa ke dokter, berharap semuanya baik-baik saja," tulisnya.

Selain berpose, Syahrini pun ketahuan mengunggah video ke fitur Story di Instagram. Dalam video itu, Syahrini juga menunjukkan sikap kurang hormatnya.

"Bagus yah, tempat Hitler bunuh-bunuhan dulu," ucapnya dalam video yang kini beredar di dunia maya itu. Video itu pun menuai kecaman.



Sutradara Joko Anwar bahkan ikut merespons video Syahrini yang menjadi viral di dunia maya. Dia mencuitkan bahwa perilaku itu memuakkan.




Bukan kali ini saja Syahrini menuai kontroversi hanya demi eksistensi di dunia maya. Sebelumnya, pada 5 Maret lalu, dia juga mendapat kecaman karena berpose di jalan bebas hambatan atau tol di Surabaya.

"Melangkah manja di jalan tol Surabaya, ya kan," tulisnya pada keterangan foto yang masih dipajang di akun Instagram miliknya.

[Gambas:Instagram]

Kala itu, pose Syahrini turut menuai kecaman. Dia dianggap dapat mengganggu pengguna lainnya di jalan tol itu. Terlebih, kerap dijumpai bahwa ada rambu-rambu yang tertulis jika bahu jalan tol hanya dapat digunakan untuk darurat.

Melalui klarifikasinya, Syahrini mengakui bahwa dia meminta rombongan untuk berhenti karena melihat ada spot bagus untuk berfoto. Dia kemudian turun dan mengambil beberapa foto.

Menurut pembelaannya, saat itu di jalan tol tengah sepi dari lalu lintas dan merasa dengan berfoto selama 3-5 menit tidak menjadi masalah. Dia juga berdalih hal itu tak menjadi masalah karena merasa dirinya tidak tahu ada aturan yang melarang.

"Ku pikir berhenti di bahu jalan tidak melanggar karena ada yang mengantar, saat itu ada yang mengawal. Dan itu tidak lama," kata Syahrini dalam video yang diunggah pada 9 Maret lalu.


Pelantun Sesuatu itu kemudian menyatakan bahwa sepengetahuannya seseorang disebut melanggar jika menyebabkan kecelakaan beruntun atau mengganggu laju lalu lintas. Ia pun membela diri seraya mengaku kurang mendapat pengetahuan terkait aturan soal penggunaan bahu jalan di tol.

[Gambas:Youtube]

Padahal, jika benar-benar memperhatikan, rambu-rambu yang terpampang di jalan tol cukup jelas dan sering ditemukan bahwa bahu jalan hanya untuk darurat.

Aturan itu sendiri juga telah tertulis pada Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan Pasal 12, bahwa setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan, ruang milik jalan, dan ruang pengawasan jalan.

Jika melanggar, menurut pasal 63, setiap orang yang dengan sengaja melakukan itu dapat dijebloskan ke penjara paling lama 18 bulan atau denda paling banyak Rp1,5 miliar.

Sementara, untuk kasus foto di lokasi bersejarah di Berlin, Jerman, mengutip berbagai sumber, norma setempat melarang tindakan yang tidak menghormati terhadap para korban yang tewas di tempat itu, seperti duduk-duduk, memanjat, berfoto atau vandalisme.

Monumen itu diketahui mulai dibangun pada 2003 dan disahkan pada 2005, 60 tahun setelah Perang Dunia II, untuk menghormati ribuan kaum Yahudi Jerman yang menjadi korban genosida oleh Nazi pimpinan Adolf Hitler.

Sebelumnya telah ada gerakan bertajuk Yolocaust, yang digagas Shahak Shapira dengan mengumpulkan foto-foto yang diambil dari berbagai media sosial seperti Instagram, Tinder, dan Facebook kala berpose tak sopan di lokasi itu. Foto itu kemudian digunakan untuk menunjukan betapa buruknya gambar akan terlihat di area kamp kematian dengan latar kondisi aslinya.

"Sekitar 10 ribu orang mengunjungi Monumen Holocaust setiap harinya. Banyak dari mereka mengambil gambar konyol, melompat, bermain skate atau sepeda pada 2.711 lempengan beton dari struktur seluas 19 ribu meter persegi," tulisnya pada keterangan, dikutip dari Metro.

"Bagi banyak orang, pusara abu-abu ini melambangkan batu nisan bagi 6 Juta orang Yahudi yang dibunuh dan dikubur di kuburan massal, atau abu dari mereka yang dibakar di kamp kematian," lanjutnya.


Para wajah yang bertingkah di lokasi itu diabadikannya dalam sebuah situs dan akan dihapus jika mengajukan permintaan maaf. Di sisi lain, ada yang menyebutkan bahwa mereka yang ketahuan bertindak tidak sopan kelak tidak lagi diizinkan masuk ke monumen tersebut.

Alhasil, dari segala tindakan yang hanya dilakukan demi eksistensi ini dapat berdampak luas. Mulai dari sanksi sosial, seperti kecaman yang disampaikan pada Syahrini, hingga ancaman hukum pidana jika terbukti bersalah.

Menurut Psikolog Mira Amir, saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (22/3) ini mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan Syahrini merupakan bagian dari tuntutan eksklusifitas untuk menampilkan hal beda dan menunjukkan keberadaan dirinya.

"Menjadi beda meski melanggar dianggapnya jadi sah-sah saja, dan popularitas menjadi pembenaran perilakunya. Hal itu kemudian mencirikan tidak dewasa sebagai pribadi," katanya.

Lebih lanjut, Mira menyatakan bahwa dampak itu bukan hanya berpengaruh pada dirinya, melainkan juga pengikut Syahrini di media sosial jika belum mampu memisahkan mana yang baik dan buruk.

"Seyogyanya diiringi kedewasaan untuk menjadi contoh, karena tidak menutup kemungkinan dari sekian banyak pengikut akan meniru. Selebriti harusnya tetap memberi edukasi," ujarnya.

Namun untuk kasus ini, menurutnya orang-orang yang haus eksistensi, akan semakin senang bila terus dibahas. Orang seperti itu akan mengabaikan komentar-komentar negatif tentang dirinya.

"Karena mereka butuhnya perhatian, semakin banyak komentar, semakin hidup," kata Mira.


Mira menilai Syahrini paling tidak sedikit tahu tentang tempat yang dikunjunginya itu karena sempat menyebut sejarah Nazi dalam Story yang diunggahnya. Apalagi, sang biduan tidak datang sendiri, melainkan bersama temannya. Namun, ia dan kawannya kurang begitu paham mengenai latar

"Dari sisi pengetahuan, dia tidak paham benar bahwa peristiwa Holocaust membuat bekas luka yang dalam bagi keluarga korban. Karena kurang paham itu, jadinya dia tidak punya empati. Empati sosialnya kurang terasah atau bermasalah," ujarnya.

Mira menambahkan, "Jika empati sosial seseorang kurang terasah, maka, bahasa gampangnya, orang itu menjadi kurang sensitif. Itu kan kecerdasan tersendiri ya, jadi ibaratnya di bagian itu dia [Syahrini] lemah."

Bagi Syahrini, lanjut Mira, yang penting adalah fotonya terlihat bagus, disukai banyak orang, dan menjadi buah bibir masyarakat.

"Bahwa unggahannya itu bisa berdampak sesuatu terhadap orang lain, Syahrini tidak peduli," imbuhnya.

Oleh karenanya, berkaca dari perilaku Syahrini yang tidak sepatutnya dicontoh, Mira mengatakan agar lebih cerdas dan berempati terhadap lingkungan sekitar.

"Orang-orang harus bisa memisahkan mana public figure yang bisa disimak dan mana yang hanya dilihat saja. Untuk Syahrini, ini tipe selebriti yang dilihat saja, tidak usah diharapkan bisa berbuat lebih. Banyak selebriti yang cerdas sosial juga kan," papar Mira. (res)