Kisah Vinno Merawat Piringan Hitam Peninggalan Kakek

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 16:37 WIB
Kisah Vinno Merawat Piringan Hitam Peninggalan Kakek Vinno 'diwarisi' ratusan piringan hitam oleh kakeknya. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Jujur, gue bukan anak piringan hitam banget," kata Vinno Zahran.

Meski begitu, Vinno punya sekitar 300 piringan hitam. Di antaranya piringan hitam The Beatles, The Ventures, Andy Williams, Nat King Cole, The Beach Boys, dan Cornie Francies.

Piringan hitam itu merupakan warisan dari kakek Vinno, Ragowo Hadiwigeno.


Piringan hitam yang masih dimiliki Vinno.Piringan hitam yang masih dimiliki Vinno. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Ragowo meninggal akhir 2015 lalu. Rumahnya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan hendak dijual. Barang-barangnya pun harus disortir. Saat itulah ratusan piringan hitam ditemukan.

'Harta karun' itu tersimpan dalam tiga kardus berukuran sedang di salah satu ruangan rumah. Berlapis debu, beberapa bagian kardus itu sudah hancur termakan usia. Saat dibuka, isinya vinil.

"Kurang lebih ada 300 keping," kata Vinno. Tidak ada yang mau mengambil rilisan fisik itu. Vinno pun baru tergerak setelah disarankan ayahnya.


Menurut cerita Vinno saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di rumahnya di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan, diiringi alunan If I Fell milik The Beatles dari piringan hitamnya, Ragowo merupakan atase pertahanan Indonesia di Amerika serikat.

Ia aktif dari era '50-an sampai '60-an.

Di Negeri Paman Sam itulah Ragowo yang memang pencinta musik, sering membeli piringan hitam. Kebanyakan adalah musisi Latin yang tidak diketahui Vinno. Beberapa di antaranya merupakan original soundtrack film zaman dahulu.

Vinno menyimpan ratusan piringan hitam di rumahnya.Vinno menyimpan ratusan piringan hitam di rumahnya. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Vinno terpikir untuk menjual piringan hitam itu. Lagipula, ia bingung menyimpannya. Kamarnya yang berukuran 2,5 x 3 meter sudah dipadati barang pribadi. Disimpan di ruang tamu maupun ruang keluarga, tidak mungkin. Vinno pun mencoba ke Pasar Santa dan Blok M.

Ia berbekal catatan dari tantenya yang berisi daftar piringan hitam milik kakeknya secara rinci. Ada tujuh lembar kertas putih yang berisi nama musisi dan berapa banyak piringan hitam dari musisi tersebut. Berkeliling, Vinno menawarkan jika ada yang mau membelinya.

"Tapi enggak ada yang mau beli, mereka bilang piringan hitam itu enggak akan laku. Wajar sih, soalnya itu musik era '50-an yang hit di Amerika," kata Vinno.


Ia pun mencoba ke toko barang antik di Jalan Surabaya, membawa sekitar 200 piringan hitam.

"Ada yang mau beli semua dengan harga Rp2 juta. Hitungannya itu murah karena borongan, mereka bilang itu enggak laku dijual, dan akan dijual untuk bahan dekorasi," ujar Vinno.

Beberapa piringan hitam akhirnya ia relakan. Namun di kamarnya yang terletak di lantai dua, hingga kini Vinno masih menyimpan koleksi kakeknya lainnya. Beberapa piringan hitam yang tidak ia jual itu ia dengarkan di waktu luang. Seperti, saat berbincang dengan saya dalam rangka merayakan Record Store Day yang jatuh tiap 20 April. 

Piringan hitam peninggalan kakek Vinno.Piringan hitam peninggalan kakek Vinno. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Setumpuk piringan hitam itu tergeletak di lantai dekat sudut tempat tidur. Di sebelahnya, terdapat pemutar piringan hitam yang sudah cukup modern. Pemutar itu bisa difungsikan menjadi radio dan mendengar kaset.

"Pemutar piringan hitam ini juga peninggalan kakek gue, waktu itu sekalian gue bawa. Ya kondisi seadanya, kadang suaranya suka enggak jelas," tutur pemuda 25 tahun itu.

Di atas jarum pemutar piringan hitam itu terdapat sekeping uang logam Rp500. Fungsinya sebagai pemberat agar jarum tetap menempel pada piringan hitam. Cukup berguna untuk mengatasi piringan hitam yang sudah peang, seperti If I Fell The Beatles yang ia putar.


Piringan hitam yang disimpan Vinno biasanya yang langka dan musisinya masih dia kenal.

"Waktu itu sebenarnya ada juga piringan hitam musisi Indonesia, seperti Dara Puspita, soundtrack film Tiga Dara dan beberapa penyanyi daerah. Total ada sekitar 12 piringan hitam," ujar pria berkaca mata itu. Namun, piringan hitam itu sudah ia jual.

"Gue menyesal jual piringan hitam musisi Indonesia," ia melanjutkan.


Perlahan, Vinno mulai jadi penyuka piringan hitam. Ia bahkan ingin lebih menikmati musik dengan membeli pemutar piringan hitam berkualitas agar suara yang dihasilkan lebih bagus.

"Lagi ngumpulin uang dulu, karena mahal. Mungkin setelah itu gue akan membeli piringan hitam dari musisi yang gue suka," kata Vinno.

"Gara-gara kakek gue, gue jadi suka mendengarkan piringan hitam. Suara dari piringan hitam itu terasa warm dan analog, beda gitu," pewaris ratusan piringan hitam itu menambahkan. (rsa)