Music Automata, Proyek 'Musik Gaib' Rasa Orkestra

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Kamis, 24/05/2018 12:20 WIB
Music Automata, Proyek 'Musik Gaib' Rasa Orkestra Leonardo Barbadoro sedang menciptakan proyek yang memungkinkan alat musik dikontrol robot yang digerakkan laptop. (Dok. Musica Automata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jangan terkejut jika kelak ada alat-alat musik yang menyala dan bermain sendiri di atas panggung orkestra. Mereka bukan digerakkan oleh kekuatan gaib.

Kalau pun ada 'kekuatan gaib,' itu adalah tangan Leonardo Barbadoro, komposer musik dan produser musik elektronik asal Florence, Italia. Setelah sekitar satu dekade bermusik di bawah nama Koolmorf Widesen, ia tertantang menggarap 'mission impossible.'

Proyek yang dibantu The Logos Foundation itu akan memungkinkan alat-alat musik tampil sendiri tanpa sosok manusia yang memainkannya di atas panggung.



Pemain alat-alat musik akustik itu adalah robot, yang dikontrol oleh Barbadoro melalui laptopnya dari balik panggung. Ia kini tengah disibukkan menulis musik untuk menciptakan orkestra terbesar di dunia tanpa manusia.

Alih-alih, akan ada lebih dari 50 robot yang menggantikannya memainkan instrumen seperti perkusi, organ dan berbagai alat musik tradisional lain di panggung orkestra itu.

Selama berabad-abad, kata Barbados dalam video dan keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com, sudah banyak musisi yang berusaha mengimitasi bunyi-bunyian dari alat musik tradisional. Ada yang menggunakan pita kaset magnetik sampai digital.


Namun, menurutnya, imitasi itu terlalu mentah. Suara alat-alat musik itu hanya diterjemahkan ke dalam kode biner. "Suara akustik yang sebenarnya lebih kompleks dari itu," kata Barbadoro dalam videonya.

Alat musik itu mengeluarkan suara khusus yang kemudian bercampur dengan lingkungan, termasuk temperatur udara dan kepadatan udara. Belum lagi ada musisi di baliknya, yang dengan kemampuan berbeda-beda, menambah variabel tak terhingga sampai suara musiknya didengar orang lain. Ia berusaha menangkap itu semua melalui sistem tertentu.

Begitu menemukan formulanya, ia bisa menciptakan pengalaman multi-sensorik bak orkestra.

[Gambas:Youtube]

"Musik yang dimainkan oleh robot secara teknis bisa melampaui kemampuan musisi manusia, tapi dampak emosionalnya adalah tujuah utama saya dalam proyek ini," ujar Barbadoro.

Meski nanti robot yang 'berkuasa,' menurutnya tetap butuh manusia di baliknya untuk menulis lagu yang bisa dibaca oleh mereka, agar pengalaman orkestra tetap terasa.

Proyek itu dinamainya Music Automata, yang dimulai 21 Mei hingga 8 Juli mendatang. (rsa)