'Gemintang' Hidup Seorang Koruptor

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 29/06/2018 21:51 WIB
'Gemintang' Hidup Seorang Koruptor Lakon 'Gemintang' yang dipentaskan Teater Koma menceritakan kehidupan seorang koruptor yang berantakan. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam kisah Mahabharata, sosok Arjuna dikenal sebagai anggota Pandawa yang berparas rupawan sekaligus berhati menawan. Dia seakan tak punya masalah soal cinta. Istrinya saja ada empat, Drupadi, Ulupi, Citranggada, dan Subrada.

Namun itu bertolak belakang dengan Arjuna Wibowo, seorang Doktor Astronomi yang menjadi pemeran utama dalam pementasan lakon 'Gemintang,' produksi ke-153 Teater Koma.

Meski menyandang nama yang sama, kisah cinta bahkan hidup Arjuna Wibowo begitu rumit.


Dalam 'Gemintang,' Arjuna jatuh cinta dengan alien.Dalam 'Gemintang,' Arjuna jatuh cinta dengan alien. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Ia terlibat percintaan dengan seorang putri raja dari planet Ssumvitphphpah yang letaknya di luar galaksi, bernama Ssumphphwttsspahzaliapahssttphph. Mereka terpisah 12 miliar tahun Bumi. Cara sang alien menemui Arjuna hanya dengan teleportasi.

Sulit mengucap nama sang kekasih, Arjuna pun memanggil dia Sumbrada.

Tak hanya rumit soal cinta, kehidupan keluarga Arjuna pun begitu kompleks. Secara ekonomi, mereka berkecukupan. Tapi tiap anggota keluarga punya masalah sendiri.

Sang ayah, Wibowo Surmadjo, dulunya seorang pedagang yang kemudian masuk partai dan menjadi anggota Dewan Rakyat. Dia menjadi orang kepercayaan. Sayang, dia korupsi.


Adik Arjuna, Pratiwi, seorang anak pintar dan selalu menjadi jawara di sekolah. Tapi ia terjerat kehidupan malam. Sang kakak, Samudra, seorang dokter tapi terbawa 'kebiasaan' sang ayah untuk korupsi. Saudara tirinya, anak dari istri kedua Wibowo, mengidap autis.

Lalu nenek dan pamannya, yang kerap menjuluki diri sebagai Kejora dan Rambo mengidap gangguan jiwa. Belum lagi dua penasihat pribadi Wibowo, Aprat Sakiro dan Subrat Balia.

Dalam kondisi seperti itu, Arjuna memperkenalkan Sumbadra kepada seluruh keluarganya. Namun, mereka tak dapat melihat wujud Sumbrada. Arjuna pun disangka tidak waras. Meski begitu, mereka tetap menerima Sumbrada dan keinginan Arjuna menikahinya.

Keluarga Wibowo yang seorang koruptor, berantakan.Keluarga Wibowo yang seorang koruptor, berantakan. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Meski garis besar cerita mengarah pada kisah cinta Arjuna dan Sumbrada, secara keseluruhan lakon Gemintang merupakan cuplikan kehidupan keluarga seorang koruptor. Sang koruptor seolah terlena dengan kehidupannya saat berjaya. Keluarganya pun ia abaikan.

Akibatnya, hidup anak-anaknya tak jelas. Putranya bahwa jatuh cinta dengan alien.

Namun saat Wibowo terjatuh, tertangkap melakukan tindak korupsi, pada akhirnya hanya keluarga yang ada di sampingnya. Seluruh kawannya di partai membuang dirinya.

Lakon 'Gemintang' sarat akan pesan, bahkan di tiap karakternya.Lakon 'Gemintang' sarat akan pesan, bahkan di tiap karakternya. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Seperti lakon Teater Koma biasanya, 'Gemintang' sarat akan pesan. Masing-masing karakter bahkan memmbawa makna khusus. Pratiwi misalnya, menggambarkan pergejolakan remaja masa kini yang ogah diatur orang tua dan menuntut kebebasan.

Kehidupan dua istri Wibowo di luar, seolah menjadi gambaran para sosialita. Kumpul di kafe dan bergosip. Dan Arjuna, menjadi simbol utama dari tema besar lakon ini.

"Kisah Cinta di Negeri Tanpa Cinta."


Dengan tegas, sang sutradara Nano Riantiarno menyatakan, "Selama masih ada korupsi berarti itu negeri tanpa cinta, karena mengambil hak orang lain."

Namun Nano seakan ingin menyampaikan cerita tentang koruptor dari sudut pandang yang berbeda.

Selain membawa sisi lain kehidupan koruptor, lakon ini pun menjadi potret sindiran Teater Koma akan kondisi perpolitikan Indonesia. Dalam dunia Teater Koma, Indonesia berubah nama menjadi negeri Hindanasasa.


Potret negeri Hindanasasa dituturkan dua tokoh yang cukup memikat perhatian, yakni Sakiro dan Subrat. Keduanya bercerita soal karakter presiden demi presiden hingga tingkah laku seorang koruptor. Bakpau, tiang listrik, pemesanan kamar di rumah sakit pun disinggung.

Menariknya, ini menjadi pementasan pertama Teater Koma yang dipadukan dengan teknologi video mapping. Itu menjadi percobaan pertama Teater Koma setelah 40 tahun berkiprah di tanah air.

"Bagus ya, ada semi hologram juga. Sehari kalau sewa bisa Rp75 juta, coba dikali 15 hari. Saya beruntung banget dibantu mereka [tim dari Bandung Visual]," kata Nano.

Teater Koma mulai menggunakan video mapping dalam 'Gemintang.'Teater Koma mulai menggunakan video mapping dalam 'Gemintang.' (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Ini juga pentas pertama Teater Koma yang menyasar anak muda. Dalam lakon 'Gemintang,' Nano turut memasukkan unsur budaya populer seperti musik rap.

Nano menyatakan, regenerasi pemain Teater Koma mulai berjalan. Lakon 'Gemintang' bahkan menjadi pentas perdana bagi 14 anggota baru usai mengikuti PATEKO (Pembekalan Anggota Teater Koma).

Lakon 'Gemintang' dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki setiap hari, mulai dari 29 Juni sampai dengan 8 Juli 2018, setiap pukul 19.30 WIB kecuali hari Minggu, pukul 13.30 WIB.

Tiket pentas ini dijual mulai Rp80 ribu hingga Rp400 ribu. (rsa)