Feast Suarakan Cerita Kehilangan dari Bom Surabaya

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 07:34 WIB
Feast Suarakan Cerita Kehilangan dari Bom Surabaya Feast merilis dua lagu baru, 'Peradaban' dan 'Berita Kehilangan.' (Dok. Feast/Melina Anggraini)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah merilis album perdana bertajuk Multiverse (2017), Feast kini meluncurkan dua lagu baru secara digital. Satu lagu yang berjudul Peradaban sudah bisa didengar sejak Juli, sementara Berita Kehilangan (featuring Rayssa Dynta) dirilis Rabu (9/8) pekan lalu.

Dua lagu itu memiliki nuansa musik yang sama. Keduanya menggunakan lirik bahasa Indonesia. Itu berbeda dengan album Multiverse, yang mengandung 11 lagu dari beragam genre.

Vokalis Baskara Putra menjelaskan, Multiverse memang berisi permainan nuansa musik. Band yang terbentuk sejak 2013 ini bahkan membuat cerita fiksi saat menggarap album itu. Arti albumnya saja 'kumpulan sejumlah alam semesta atau bumi menjadi satu.'



Dari filosofi itu, Multiverse pun direncanakan mengandung lagu dengan berbagai genre.

Sementara untuk dua lagu barunya, Feast ingin lebih membumi.

"Kalau dua lagu baru ini menceritakan hal-hal yang terjadi di Bumi kedua, Bumi di mana kami tinggal sekarang. Makanya dari segi lirik kami menggunakan bahasa Indonesia, kami ingin membumi di projek ini," kata Baskara kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/8).

Peradaban, kata Baskara, bercerita tentang budaya Indonesia yang tak akan hilang. Budaya dan peradaban tak akan luntur meski diterpa isu, budaya baru atau paham baru.


Inspirasi Peradaban muncul ketika tragedi Bom Surabaya beberapa waktu lalu. Dari diskusi bersama personel Feast lain, ia berpikir bahwa paham teroris yang belakangan disebut radikal tidak ada artinya melawan keaslian Indonesia.

"Seberapa kuat paham radikal ditanamkan enggak akan bisa. Peradaban dan budaya Indonesia sudah ada jauh lebih lama dari paham yang coba mereka tanamkan," kata Baskara.

Berita Kehilangan, bercerita tentang korban kematian dari suatu kejadian. Sama seperti Peradaban, lagu berdurasi empat menit lebih itu juga terinspirasi dari bom Surabaya.

[Gambas:Youtube]

Baskara menjelaskan, Berita Kehilangan mengandung penggalan surat seorang ibu kepada anaknya yang meninggal. Bagian lirik itu dinyanyikan Rayssa Dynta:

Jika ini memang caranya
Menggenapkan namamu yang kuberikan
Sama seperti artinya
Saat kau berkorban, menyadarkan

Sayang, kau telah menjadi abadi
Di hati, di sejarah kami
Dan kurelakan hari ini, esok, lusa
Atau lain kali, karena

Lirik itu asli dari sebuah surat seorang ibu. "Gue enggak bisa cerita anak ini korban kejadian apa, tapi kejadian itu pahit banget. Ibu yang izinkan suratnya dikutip jadi lagu ini memang minta untuk enggak kasih tau nama anaknya dan kejadiannya," kata Baskara.

[Gambas:Youtube]

Untuk mengerjakan materi yang lebih membumi itu, Feast jadi banyak mendengar musisi Indonesia, salah satunya Iwan Fals. Mereka bahkan mengutip sejumlah lagu musisi Indonesia.

Pada Peradaban misalnya, terdapat penggalan lirik lagu Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti karya Banda Neira. Sementara pada Berita Kehilangan terdapat penggalan lirik lagu Taifun karya Barasuara.

Bersamaan dengan perilisan lagu, Feast juga merilis video musik. Uniknya, dua video itu berformat vertikal, sehingga bisa dilihat dengan telepon genggam tanpa harus mengubah format layar. Kata Baskara, dengan begitu pesan lagunya bisa lebih tersampaikan.

(rsa)