Menguak Makna Mendalam Congklak sampai Bentengan

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 19/08/2018 09:40 WIB
Menguak Makna Mendalam Congklak sampai Bentengan Ilustrasi permainan tradisional lomba balap bakiak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bermain permainan tradisional identik dengan kenangan menyenangkan, berkumpul di waktu luang, memanfaatkan benda-benda di sekitar, hingga bersenda gurau dengan sesama.

Namun permainan tradisional bukan hanya soal kesenangan. 'Doktor' permainan tradisional sekaligus pendiri Komunitas Hong, Mohamad Zaini Alif menjabarkan kepada CNNIndonesia.com banyak makna mendalam di balik berbagai permainan tradisional.

Tak semua makna dan filosofi permainan tradisional bisa dijabarkan di sini, mengingat Zaini menemukan hampir 2.600 permainan tradisional menyebar di seluruh Indonesia. Berikut beberapa permainan yang terkenal berikut makna di dalamnya.


Congklak

Zaini mengisahkan, berdasarkan pengembaraannya ke beberapa pelosok di dalam dan luar negeri, ia menemukan puluhan jenis congklak dengan ragam nama.

"Dari Afrika namanya Mankala, kemudian ada lagi di Eropa namanya permainannya Mangala. Di India namanya lain lagi, itu semuanya congklak," kata Zaini.

Selain nama, jumlah lubang permainan congklak pun ada variasinya. Zaini menyebut congklak versi Afrika memiliki 15 lubang dalam sebaris, sementara di Indonesia ada tujuh lubang.

Di Indonesia, kata Zaini, lubang yang berjumlah tujuh itu punya makna tersendiri, yaitu jumlah hari dalam sepekan. Sedangkan cara bermain congklak ternyata mengajarkan pemain untuk menyiapkan kebutuhannya sendiri tanpa lupa berbagi.

[Gambas:Instagram]

Congklak dimainkan dengan cara memberikan satu per satu biji ke dalam setiap lubang. Setelah membaginya secara rata, pemain harus menyimpannya di sebuah lubang yang lebih besar.

Setelahnya, biji yang tersimpan di lubang besar itu mesti dibagi ke lubang di sisi pemain lain satu per satu tanpa mengisi lubang yang lebih besar miliknya sendiri.

"Artinya dia tidak pernah memberikan uangnya, tapi memberikan pekerjaan yang bisa diputarkan setiap harinya, yang kemudian bisa
menghidupinya dan menghidupi kita juga. Nah, dari sana lah dia belajar memberi, menolong," tutur Zaini.

Kelom Batok

Permainan yang memanfaatkan batok kelapa ini, menurut Zaini, merupakan permainan keseimbangan. Permainan ini menuntut si pemain berjalan menggunakan batok kelapa sebagai alas dan berpegangan dari seutas tali yang terikat dengan batok tersebut sehingga dapat berjalan.

"Artinya bisa dimaknai bahwa di dunia ini, Anda tidak bisa apa-apa tanpa memiliki pegangan yang kuat," kata Zaini. "Begitu Anda punya pegangan, maka bisa berdiri. Semakin pegangan itu kuat, bahkan bisa membuat berlari. Begitu sebaliknya,"

Dia menambahkan, "Itu dari segi filosofi, sedangkan dalam kegiatan anak-anak tersebut belajar tentang keseimbangan tubuhnya,"

Menguak Makna Mendalam Permainan TradisionalPelajar sekolah dasar (SD) Negeri Jombatan III bermain permainan tradisional egrang batok kelapa di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Selasa (5/5). (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Injit-injit Semut

Permainan injit-injit semut biasanya dimainkan oleh tiga sampai lima orang. Cara bermainnya yakni dengan cara kedua belah tangan pemain disusun bertingkat, saling mencubit, dan mulai menyanyikan lagu Injit-injit Semut.

Bila lagu selesai, tangan pemain yang terletak di paling bawah berpindah ke posisi paling atas. Permainan itu, menurut Zaini, mengajarkan tentang empati.

"Ketika seseorang yang dicubit paling bawah dia tidak bisa mencubit yang lainnya, tetapi saat ke atas dia misalnya membalas mencubit dengan keras sehingga terasa ke semuanya sampai akhirnya dia merasakan juga ke tangan yang satu, itu akan membuat dia sadar bahwa cubitan yang ia mulai mungkin akan berdampak pada dirinya sendiri," kata Zaini mengawali.

Dengan itu, lanjut Zaini, permainan ini melatih bahwa sang pemain tidak akan merasakan sakit bila melemahkan cubitannya.

"Makna filosofi itu lebih mendalam, ketika kita dicubit oleh seseorang tanpa rasa ingin membalas, tanpa merasa sakit, maka dia akan menuai hasil yang sempurna," tambahnya.


Bentengan

Zaini dalam bukunya, Mozaik Seni dan Budaya Indonesia: Permainan Tradisional Anak Indonesia (2015), turut menjabarkan berbagai manfaat dan makna dari bermain permainan tradisional.

Salah satunya dalah permainan bentengan atau biasa dikenal bebentengan. Permainan ini bersama dengan paciwit-ciwit lutung, anjang-anjangan atau rumah-rumahan, dan kasti memiliki makna mengembangkan rasa empat terhadap orang lain.

Bebentengan dimainkan dengan cara beregu. Ada dua regu yang berisi empat sampai delapan orang dan memiliki markas mereka sendiri yang bisa terbuat dari tiang, pohon, dinding, atau batu.

[Gambas:Instagram]

Keduanya saling berhadapan dan berusaha mengalahkan benteng lawan dengan cara merebut satu per satu anggotanya dan menawannya di benteng sendiri. Grup yang kalah adalah ketika bentengnya berhasil disusupi tim lawan.

Grup yang anggotanya ditawan harus bisa menyelamatkan kawannya di benteng musuh, namun di saat yang bersamaan, juga mesti memikirkan strategi mempertahankan benteng agar tak jatuh ke tangan lawan.

"Permainan-permainan tersebut dapat membantu mengasah emosi untuk saling menolong antar anggota tim," tulis Zaini.

[Gambas:Video CNN] (end)