Permainan Tradisional, Puncak dari Segala Kebudayaan

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Minggu, 19/08/2018 07:49 WIB
Foto: CNN Indonesia/Safir Makki
Jakarta, CNN Indonesia -- Permainan tradisional adalah salah satu bagian dari ragam kebudayaan yang tumbuh di Indonesia. Sebelum gempuran perkembangan teknologi muncul, aneka permainan tradisional sempat mewarnai kehidupan anak-anak Indonesia.

Beberapa di antaranya dikenal luas di berbagai daerah, seperti petak umpet, galah asin atau gobak sodor, kelereng, lompat karet, ampar-ampar pisang serta bentengan. Namun itu nyatanya hanya segelintir dari ribuan permainan yang tersebar di Indonesia.

Setidaknya, menurut peneliti dan 'doktor' permainan tradisional Mohamad Zaini Alif, ada hampir 2.600 permainan tradisional yang ada di Indonesia.


Sering dimainkan sebagai lomba ketika momen perayaan Kemerdekaan Indonesia, Zaini menyebut bahwa permainan tradisional hakikatnya tercipta sebagai hasil kebudayaan dari masyarakat setempat, bukan bawaan bangsa asing yang sering dikira sebagian pihak.

Bahkan, kata Zaini yang merujuk teori sejarawan Belanda Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens (1938), permainan tradisional adalah puncak dari segala hasil kebudayaan.


"Jadi asal-usul perwujudan kebudayaan itu dari permainan tradisional. Dari permainan, dari konsep bermain di anak-anak itu sendiri. Anak-anak memiliki konteks bermain, orang dewasa memiliki konteks bermain, kemudian jadilah budaya-budaya itu muncul," kata Zaini saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di Bandung, beberapa waktu lalu.

Bila kini permainan tradisional dinilai hanya soal menang atau kalah dan mengisi waktu luang, Zaini mengatakan di masa lalu permainan tradisional juga bisa dianggap sebagai persembahan, pengabdian untuk negerinya, serta cara dalam bekerja.

Satu Keturunan

Zaini mengisahkan petualangannya mencari asal-usul permainan tradisional dalam berbagai riset yang pernah ia lakukan. Ia sudah menelusuri permainan tradisional sejak SMA, menyelesaikan pendidikan doktoral alias S3 dan masih berlanjut hingga kini.

"Asal-usul permainan tradisional di Indonesia sendiri sebenarnya saya menemukan dalam berbagai naskah-naskah kuno abad ke-15, naskah saweka darma Sanghyang Siksa Kandang Karesian," kata Zaini.

"Bahwa ternyata mainan yang dimainkan saat itu dikuasai oleh satu ahli yang bernama Hempul. Naskah itu menjelaskan bahwa dulu mainan sudah jadi hal penting sehingga ada ahlinya," lanjutnya.
Zaini sudah menelusuri permainan tradisional Indonesia sejak SMA.Zaini sudah menelusuri permainan tradisional Indonesia sejak SMA. (CNN Indonesia/Yoko Yonata Purba)
Hempul merupakan staf kerajaan yang ahli memainkan permainan tradisional di samping beberapa staf ahli lain seperti Paraguna (ahli perang) dan Cakra (ahli masak).

Dalam pencarian lainnya, ia menemukan sebuah kamus yang dibuat pada 1869 yang telah mencantumkan berbagai nama permainan. Salah satunya, permainan yang menggunakan gerak lompat telah ada sejak abad 15.

Selain mencari tahu berdasarkan data yang ada dapat di Indonesia, ketertarikannya pada permainan tradisional pun membuat ia sampai mengembara ke Belanda. Di kota Leiden, Zaini mendapatkan banyak temuan tentang permainan tradisional Indonesia.

"Belanda sangat berkonsentrasi bahkan membuat buku Javanese Kinde Spellen, buku tentang permainan anak-anak Jawa dan itu ada 250. Bukunya sangat tebal, bahkan foto-foto permainan. Artinya, ada satu perhatian khusus oleh Belanda terhadap permainan di Indonesia," kata Zaini.

Berbagai temuan itu diakui Zaini membuat dirinya semakin bertanya sebab permainan bisa memiliki kesamaan di berbagai tempat. Ia pun menemukan jawabannya dari teori yang dikemukakan Granville Stanley Hall, psikolog Amerika Serikat (1846-1924).


Stanley Hall mengemukakan sebuah teori yang dikenal dengan teori atavistis, yang berasal dari kata 'atavus' yang bermakna 'nenek moyang'. Stanley Hall menyebutkan bahwa di dalam permainan akan timbul bentuk-bentuk perlaku yang menggambarkan bentuk kehidupan yang pernah dialami oleh leluhur.

"Ternyata, begitu satu permainan sama di semua wilayah maka semua wilayah itu satu keturunan yang sama, teori atavus begitu. Berarti, untuk menunjukan satu keturunan yang sama meskipun kita berbeda negara, agama, budaya, itu dengan permainan tradisional, itu entry point-nya," kata Zaini.

"Dalam permainan tradisional, saya ingin memperlihatkan bahwa dalam keragaman adalah kesatuan. Kalau ada beragam permainan tetapi memiliki esensi nilai yang sama, maka kita satu keturunan yang sama. Itu kalau kesejarahan bermain," lanjutnya.


Zaini membongkar keunggulan permainan tradisional atas modern di halaman selanjutnya..

Televisi dan Pergeseran Minat Anak

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2