Memotret Budaya Tato Dayak Iban

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 10/09/2018 13:54 WIB
Memotret Budaya Tato Dayak Iban Sebuah pameran foto menunjukkan budaya tato Dayak Iban yang dilakukan turun temurun tergerus zaman dan berjuang bertahan dan kembali dengan sisa nafas yang ada. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gambar yang terpajang di dinding putih itu menggambarkan seorang pria tua berambut dan berjenggot putih, berdiri diam di tengah hutan. Berbagai tato menghiasi pangkal lengan dan lehernya.

Pria di dalam gambar itu bernama Bandi. Ia adalah tuai alias kepala rumah panjang Sungai Utik, Desa Batu Lintang, Embaloh Hulu, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bandi adalah salah satu pemegang tradisi tato yang nyaris punah.

Foto Bandi yang juga dikenal dengan Apay Janggut itu merupakan karya mahasiswa Fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Bonfilio Yosafat, yang dipajang dalam sebuah pameran di Los Tjihapit, Bandung, Jawa Barat mulai 5 September hingga 6 Oktober mendatang.


Foto itu merupakan satu dari hasil ekspedisi Bonfilio yang menampilkan berbagai tradisi dan aktivitas masyarakat Dayak Iban sehari-hari, termasuk dengan tradisi tato yang nyaris punah di suku di pedalaman Kalimantan itu.


Bila selama ini tato kerap diidentikkan dengan budaya Barat, maka masyarakat Dayak Iban membantahnya. Tato adalah hal yang sudah mereka lakukan dari generasi ke generasi, dan bukan sekadar gaya atau lambang yang buruk, justru tato juga bagian dari budaya asli Indonesia.

"Yang pertama, saya ingin membuktikan bahwa Indonesia itu punya budaya tato. Maksudnya, agar ini tidak serta merta menjadi stigma orang kalau ngomongin tato itu kriminal," kata Bonfilio.

Bonfilio mencari budaya tato di masyarakat Dayak Iban ini dalam sebuah ekspedisi ke lokasi tersebut pada 2017. Ia menemukan, tato yang menjadi tradisi turun-temurun dan sebagai sebuah lambang identitas diri dan keberanian, kini terancam musnah.

"Tato di sana hampir punah karena tidak ada regenarasi. Karena dengan bertato ada anggapan tak punya masa depan. Keinginannya sederhana, ingin jadi PNS tapi ketika berato itu tidak boleh. Sehingga mereka memilih untuk tidak bertato," kata Bonfilio.

Pameran foto yang menggambarkan budaya tato Dayak Iban di Bandung, 6 September - 6 Oktober 2018.Pameran foto yang menggambarkan budaya tato Dayak Iban di Bandung, 6 September - 6 Oktober 2018. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Selama berada di Sungai Utik, Bonfilio merekam berbagai aktivitas masyarakat, kondisi alam, dan budaya tato Dayak Iban melalui foto dan video. Karyanya kemudian dipamerkan sebagai upaya menerjemahkan realita perkembangan budaya merajah tubuh Dayak Iban.

Bonfilio menjelaskan, budaya tato di masa lalu merupakan tanda yang menunjukkan status atau kelas sosial seseorang, misalnya perantau atau pun kesatria.

Bahkan, di masa masih terjadinya perang suku, tato dalam tubuh seseorang merupakan tanda dirinya telah berbuat sesuatu. Misalnya pada pria, tato pada tubuhnya bisa berarti ia telah membunuh atau mengayuh pada perang suku atau pun pernah menolong seseroang.

Motif pada tato Dayak Iban ini pun memiliki makna yang beragam tergantung dari tujuannya, mulai dari penangkal hal buruk hingga penghargaan atau peringatan atas momen tertentu.


Karena menunjukkan identitas bahkan penghargaan, pembuatan dan peletakan tato tak dilakukan sembarangan. Namun kini, merajah tubuh tak lagi dipandang sebagai sebuah tradisi dan lebih lekat dengan stigma negatif.

Masyarakat Dayak Iban pun kini, disebut Bonfilio, sedang berjuang mengembalikan tradisi budaya itu pada semangat yang sama.

"Jadi ini makanya saya buktikan lewat film, wawancara, rekaman, foto dan buku yang nantinya bisa diperlihatkan ke semua orang. Masyarakat apapun, suku apapun yang akhirnya bisa tahu, bisa sama-sama saling mencintai dan menjaga kebudayaan kita," jelas pria berusia 23 tahun itu.

Kurator pameran, Sandi Jaya Saputra menyebutkan tato pada masyarakat Iban punya makna yang luar biasa dan menurutnya karya Bonifilio memiliki narasi yang menarik terkait hal tersebut.

[Gambas:Instagram]

"Bila diperhatikan, posisi tato dengan motif bunga terung yang berada di pundak, khususnya laki-laki adalah makna keseimbangan dan spiritualitas suku Iban," kata Sandi.

Dari segi proses, kata dia, Bonfilio melakukan riset terlebih dulu sebelum mengeksekusi hal-hal secara teknik fotografi dokumenter.

"Menariknya, biasanya fotografer masuk ke suku pedalaman datang dengan gift atau uang. Bonfilio datang justru membawa salib. Dengan pendekatan salib, jadi cukup menarik di mana dia menempatkan manusia pada tempatnya bukan sebagai objek eksploitasi visual," kata Sandi.

Sandi menambahkan, foto dokumentasi Bonfilio pada pameran kali ini terdiri dari bagian spiritual, berburu, keseharian, keluarga dan portrait. "Apa yang ditampilkan merupakan usaha untuk menyeimbangkan narasi yang dibangun modernitas," katanya. (hyg/end)