Air Mata Istri Harry Roesli Kehilangan Belahan Jiwa

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 15/09/2018 12:08 WIB
Air Mata Istri Harry Roesli Kehilangan Belahan Jiwa Harry Roesli (kiri) dan sang istri. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kania Perdani Handiman tak bisa menutupi genangan air mata yang muncul kala obrolan tentang mendiang Harry Roesli terus membuka kenangan-kenangan manisnya dengan sang musisi genius dari Bandung tersebut.

Cuaca cerah Bandung pada 10 September 2018 pagi pun tak cukup menjadi penawar duka Kania yang masih tersisa hingga kini meski sudah 14 tahun ditinggal sang suami. Harry bukan sekadar suami bagi Kania, musisi itu adalah belahan jiwanya.

Kania ingat betul, 11 Desember 2004 adalah hari dirinya dipisahkan dengan pria berewok yang dipandang orang sangar tapi di matanya adalah sosok suami jahil yang gemar membuat tertawa itu.

Kania, di usianya yang kini sudah kepala enam, masih bugar untuk melakukan kegiatannya sendiri. Kala CNNIndonesia.com datang, dirinya bahkan sedang asyik sarapan dengan ketupat sayur sembari berkutat dengan laptop.


Kania menikmati hidangan itu di ruangan penuh dengan foto-foto lawas mendiang Harry Roesli. Tapi obrolan kami dengan Layala Khrisna Patria, anaknya, tentang mendiang sang suami menggerakkan tubuhnya untuk datang bergabung.

"Begitu saya bertemu dia, nyambung," kenang Kania dengan suara berat, menahan luapan kerinduan akan sosok Harry yang selalu menemani malam-malamnya sejak 1981 hingga 2004.

"Apa yang menjadi pemikiran-pemikiran saya, apa yang saya rasakan. Semua frustasi, kekecewaan saya pada negeri ini," lanjutnya.

Harry Roesli, di mata wanita dua anak tersebut, bukan hanya sekadar musisi kala mereka bertemu di dekade '80-an silam. Harry adalah musisi yang unik, berbeda dengan lainnya yang dikenal publik pada kala itu.

Harry Roesli (kanan) bersama istrinya, Kania Perdani Handiman.Harry Roesli (kanan) bersama istrinya, Kania Perdani Handiman. (Dok. Pribadi)

Kania ingat, musik nyentrik Harry Roesli pertama kali dia dengar saat rampung menyelesaikan studi di luar negeri. Semula, Kania mengira melodi yang dimainkan Harry Roesli berasal dari musisi luar.

"Kalau saya dengar musik, saya tidak hanya mendengar melodi, tapi liriknya apa yang dibicarakan," kata Kania. "Dan begitu saya di sini, mendengar musik orang sini, ini apa ya kok semua lagu itu melankolis penuh cinta,"

"Tapi waktu saya dengar [punya Harry], 'wah ini orang beda'. Saya pikir dia bukan orang Indonesia, mungkin dari Malaysia," lanjutnya.

Darah seni memang mengalir di pembuluh nadi Kania. Orang tuanya pemusik, sehingga menangkap kegeniusan musik Harry Roesli membuatnya 'terkoneksi'.

Ketertarikan dengan musik Harry Roesli adalah alasan pertama yang membuat Kania mulai memperhatikan jajaka Bandung itu. Musisi bertemu dengan anak dari musisi, itulah yang terjadi dengan kisah cinta Kania.

Sudah kenal langsung dan merasa saling tertarik, keduanya pun berpacaran. Harry yang tumbuh dari keluarga protektif dan cukup berada kala itu ternyata serius untuk membawa Kania ke pelaminan.

Keduanya pun menikah pada 1981. Padahal kala itu, Harry juga tengah menyelesaikan studi doktoral musik elektronik, hasil beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM).

Sejak saat itu, Kania hanya bisa memandang karya musik Harry dari dalam. Dirinya jarang mengikuti lagi karya Harry secara seksama. Namun ia mengaku kerap menemani Harry tampil dari satu panggung ke panggung lainnya.

Usai Harry meninggal, Kania kadang memutar kembali lagu-lagu karya sang suami. Sekadar untuk mengobati rindu. Namun semakin sering ia putar, semakin dirinya tak menyangka betapa luar biasa suaminya itu.

"Saya lihat lagi karya-karyanya, saya dengarkan liriknya, ini orang gila juga. Dipikir-pikir dia ciptakan Malaria itu umur 20 tahun, Ken Arok usia 23 atau 24 tahun, lalu lihat karyanya Indonesia Jangan Menangis itu dia umur 26, dia udah buat seperti itu. Ini orang penting buat musik di sini," kata Kania.

Harry Roesli kala bekerja di studio.Harry Roesli kala bekerja di studio. (Dok. Pribadi)

Pengamat musik mendiang Danny Sakrie pernah mengulas soal lagu Malaria. Danny menyebut, lagu yang termasuk dalam album awal Harry Roesli itu merupakan metafora potret Indonesia.

"Apakah kau seekor monyet/ yang hanya dapat bergaya?/ Kosong sudah hidup ini bila kau hanya bicara/ Guling bantalmu kan bertanya/ Apa yang kau pikirkan orang? Kau hanya bawa air mata dan ketawa yang kau paksa," lantun Harry dalam lagu Malaria.

Kania tahu suaminya berasal dari keluarga mapan, anak Mayor Jenderal TNI Roeshan Roesli, pun cucu pujangga besar Marah Roesli. Namun Kania baru sadar suaminya memiliki kepekaan sosial yang amat tinggi dengan kondisi bangsanya.

Kepekaan itu tak hilang meskipun Harry dibesarkan dan dimanjakan di keluarganya. Namun Kania menduga pengasuhan yang amat protektif dari keluarga membuat rasa penasaran Harry semakin tinggi atas situasi Indonesia.

"Ini yang membuat dia beda dari orang lain dan buat saya semakin respect. Sekian lama kami jadi kayak soulmate, jadi saya sekarang bisa lebih menilai dia dengan lebih objektif karena saya sekarang out of the box, kalau dulu kan saya di dalam," tuturnya terbata-bata menangan tangis.

"Ada banyak hal yang saya rindukan terutama teman ngobrol dan diskusi, sekarang enggak ada orang yang bisa saya percaya untuk dimuntahkan [isi pikirannya]," lanjutnya.

Sisi Romantis

Kania juga mengenang sosok Harry sebagai suami yang romantis, di luar kejahilannya yang kadang membuatnya sebal. Namun justru sisi romantis itu semakin kuat muncul sebelum Harry sebelum meninggal dunia karena komplikasi penyakit diabetes.

Setahun sebelum Harry meninggal dunia, Kania kaget diajak berlibur ke Singapura. Kania menduga, cara itu dilakukan Harry agar bisa menjauhkan istrinya yang pekerja itu dari belenggu pekerjaan dan menikmati momen suami-istri bersama-sama.

"Tapi sesampainya di sana [Singapura] saya sakit, dan dia yang mengurus," ungkapnya. "[Dia] sangat romantis, saya yang enggak. Jadi kita hitam dan putih,"

Kania juga masih ingat betul tingkah romantis Harry yang lain jelang kepergiannya. Suatu kali, Harry mendadak mau ikut hadir di sebuah acara keluarga. Padahal biasanya, Harry ogah untuk datang. Harry juga tiba-tiba ingat hari ulang tahun pernikahan mereka, biasanya hanya Kania yang ingat.


Potret keluarga Harry Roesli.Potret keluarga Harry Roesli. (Dok. Pribadi)

"Banyak hal aneh yang enggak biasa untuk membuat saya senang, saya enggak sadar awalnya. Tapi, tapi sekarang kalau dipikir-pikir sebenarnya itu sudah kelihatan dari awal," ungkapnya sembari termenung.

Sebelum semua aksi Harry yang tak biasa itu, Kania mengenang sisi romantis sang suami hanya sebatas pemberian kado, bunga di kala ulang tahun pernikahan. Sisanya, Harry adalah pria yang protektif terhadap dirinya, dan dua anak mereka, Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana.

Bahkan, sekadar bepergian keluar saja, Harry selalu bersikeras ingin mengantar Kania. Namun, permintaan Harry itu selalu ditolak karena Kania telah biasa mandiri.

"Dia sudah biasa dengan sikap saya yang 'real', enggak suka mimpi-mimpi, saya pragmatis. Dia juga lama-lama mengerti sendiri, tapi kalau dia berbuat sesuatu ya saya apresiasi, cuma saya tidak berbuat seperti itu karena rasanya aneh." (end)