Harry Roesli, Akhir Sebuah Pencarian Teater Koma

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 15/09/2018 16:06 WIB
Harry Roesli, Akhir Sebuah Pencarian Teater Koma Harry Roesli. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Norbertus 'Nano' Riantiarno masih mengingat jelas peran Harry Roesli dalam hidupnya dan juga Teater Koma yang ia dirikan. Baginya, Harry tidak pernah tergantikan meski telah pergi sejak 14 tahun lalu.

Nano menyebut Harry sebagai sahabat yang selalu menjadi sandaran setiap kali dirinya menyambangi Bandung. Selepas musisi legendaris itu pergi pada 2004 lalu, Nano merasa tak punya arah.

"Berapa belas tahun ini setiap saya ke Bandung, saya kebingungan," ungkap Nano kala berbincang dengan CNNIndonesia.com melalui telepon baru-baru ini.


Harry merupakan orang yang bisa diandalkan Nano untuk memuaskan dirinya segala hal soal Bandung, mulai dari menjelajah Kota Kembang hingga soal kuliner. Bahkan, rumah Harry di Jalan WR Supratman 57 itu juga kerap jadi tempat beristirahat Nano.

"Saya itu punya dua sahabat luar biasa, Butet [Kertaradjasa] dan Harry. Kalau Butet, pokoknya setiap saya ke Yogyakarta itu dia selalu yang membantu saya untuk kenal dengan kuliner atau tempat-tempat legendaris, dan kalau di Bandung itu ya Harry," ungkapnya lebih lanjut.

Harry adalah kehangatan seorang sahabat bagi Nano. Nano ingat betul pertama kali bertemu dengan mendiang musisi besar itu pada 1982. Kala itu, Nano masih di tahun-tahun awal mendirikan Teater Koma, sedangkan Harry adalah musisi yang mendobrak tren umum musik Indonesia.

Nano saat itu baru rampung menyelesaikan lakon 'Bom Waktu' di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki ketika dirinya bertatapan langsung dengan Harry yang namanya sudah terdengar di mana-mana. Tapi Nano mendatangi Harry dengan niat tertentu.

Nano ingin menggaet Harry yang sudah dikenal untuk mengisi musik pementasan impiannya: The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht atau Opera Ikan Asin yang musik aslinya dibuat oleh Kurt Julian Weill. Bagi Nano, musik pementasan itu harus Harry Roesli, atau tidak sama sekali.

"Saya yakin dia mampu menafsirkan karya Kurt Weill yang monumental itu. Banyak orang bilang, Kang Harry tidak cocok memainkan musik Kurt Weill," tutur Nano.

"Saat itu, Kang Harry tengah menggemari musik elektronik. Sedang Kurt Weill, konon, lebih pas jika dimainkan dengan musik akustik. Tapi saya tidak terpengaruh," lanjutnya.

Harry Roesli kala menempuh studi di luar negeri.Harry Roesli kala menempuh studi di luar negeri. (Dok. Pribadi)

Insting seni dan perasaan memiliki cita rasa, tafsir, dan estetika yang dinilai sama menjadi modal Nano maju ke hadapan musisi genius itu meski belum pernah bertemu sebelumnya. Kala berhadapan langsung, bak prosesi melamar, Nano pun mengutarakan maksudnya tanpa tedeng aling-aling.

"Saya berkata, 'Teater Koma tidak akan mampu membayar Kang Harry dan DKSB [Depot Kreasi Seni Bandung]. Saya hanya bisa berjanji, setelah pemasukan dan pengeluaran dihitung, sisanya akan dibagi secara terbuka. Sepertiga untuk Kang Harry dan dua per tiga untuk Teater Koma. Tapi kalau pertunjukan rugi, Akang tidak akan mendapat apa-apa selain ucapan terimakasih,'" ucap Nano menirukan permintaannya pada pencetak hit Malaria itu.

Nano sadar diri kala itu Teater Koma masih belum memiliki nama sebesar Harry Roesli yang dikenal sebagai jebolan Fakultas Teknik ITB; pendiri band rock 'Gang of Harry Roesli' yang karyanya terkenal kritis; dan pendiri teater Ken Arok.

Lalu, Harry juga dikenal membuat geger dunia musik sebagai musisi serba bisa dengan keahlian tak hanya sebatas gitar, melainkan juga gong, gamelan, drum, botol, kaleng bekas dan kliningan.

Belum lagi Harry Roesli juga dikenal sebagai penerima beasiswa doktoral musik di Rotterdam Conservatorium, Belanda; akademisi di Departemen Musik LPKJ atau IKJ; pengajar musik di IKIP Bandung yang sekarang bernama UPI; dan gelar "profesor musik" pada dirinya.

Ditambah, Harry Roesli adalah 'guru' bagi mayoritas musisi Bandung melalui DKSB alias Depot Kreasi Seni Bandung.

Nano pun sempat ragu Harry akan mau menerima tawaran tak menguntungkan secara materil itu. "Saya tidak tahu apa harus saya lakukan jika dia menolak. Hanya dia pilihan saya," kata Nano.

"Tapi, dia tersenyum lebar dan menjawab sangat ramah, 'Wah, saya senang dipercaya menjadi tukang musik Teater Koma. Soal pembagian honor, tidak perlu lagi dibicarakan. Kapan saya mulai bekerja?'" kata Nano menirukan ucapan Harry. Kala itu, seolah beban terberat dalam hidup Nano terangkat dari pundaknya.

Harry Roesli kala bekerja.Harry Roesli (tengah) kala bekerja. (Dok. Pribadi)

"Dia rendah hati, menyebut diri sebagai tukang musik. Itu lah kenapa Harry itu tak pernah bisa digantikan, dia selalu memberikan seluruhnya yang ia mampu, dan selalu berkomitmen dengan yang dilakukannya," tambah Nano.

Sesudah itu, Harry Roesli berturut-turut terlibat dalam produksi Teater Koma untuk lakon Opera Salah Kaprah (The Comedy of Error) karya William Shakespeare pada 1984.

Selain itu, ada Opera Kecoa (1985), Wanita-Wanita Parlemen (Women in Parliament) karya Aristophanes (1986), kemudian Opera Julini (1986), dan Opera Para Binatang (Animal Farm) karya George Orwell pada 1987.

Dua tahun setelah itu, kata Nano, Harry sibuk menggelar berbagai protes terhadap ketidakadilan di Indonesia lewat pertunjukan musik atau orasi. Baru pada produksi Banci Gugat, lakon yang ditulis Nano pada 1989, Harry kembali bergabung.

Hanya saja, pada pementasan Opera Kecoa yang kedua kalinya pada 1990, mereka terhadang pelarangan. Nano menuturkan pada malam pelarangan itu, ketika semua anggota terbawa perasaan penuh kekecewaan, Harry secara naluriah mengambil alih dan memimpin semuanya untuk berdoa.

Harry mengajak siapapun yang ada kala itu menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha Kuasa sampai akhirnya para anggota Teater Koma kala itu mendapat sedikit ketenangan dan pasrah.

Nano yang merasa emosional saat itu pun sampai membuat pernyataan tidak akan mengerjakan kegiatan teater selama dua tahun. Namun ia kemudian diingatkan oleh Harry untuk mempertimbangkan kembali pernyataannya.

"Dia bilang, 'Tidak melakukan kegiatan teater, sama artinya dengan tidak memedulikan ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang terus terjadi di depan mata. Dari pada diam, lebih baik berbuat sesuatu, meskipun tidak ada yang mau melihat dan mendengar,'" kata Nano menirukan ucapan Harry.

Berkat pesan Harry itulah, Nano kemudian membatalkan niatnya dan kembali menggelar teater hingga kini.

"Usia Kang Harry lebih muda dari saya. Dia lahir di Bandung, 10 September 1951. Tapi dia lebih bijak. Kata-katanya benar. Panggilan 'Akang', adalah cerminan rasa hormat saya kepadanya," kata Nano terkenang Harry.

Hingga kini, pola musik pertunjukan Teater Koma disebut Nano masih mengikuti pakem yang dibuat Harry Roesli. Menurutnya, pakem itu memadukan musikal bak Broadway dengan sentuhan Nusantara.

Bagi Nano dan Teater Koma, Harry Roesli adalah 'titik'.

[Gambas:Youtube] (end)