Kompetisi Mencari Rapper Terbaik di Indonesia Digelar

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 18/09/2018 16:22 WIB
Kompetisi Mencari Rapper Terbaik di Indonesia Digelar Ilustrasi panggung musik rap. (REUTERS/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dapat dikatakan genre musik hip hop tengah bangkit di Indonesia. Mulai dari kemunculan rapper muda seperti Ramengvrl, Matter Mos, kolektif hip hop Onar sampai Rich Brian yang berhasil go internasional.

Perlahan tapi pasti musik hip hop kian mendapat tempat di telinga pecinta musik Indonesia.

Hal itu membuat komunitas All Day Music, yang dihuni oleh Ben Utomo dan Eitaro, membuat kompetisi rap perdana bertajuk Beef Rap Battle.


Mereka ingin memantik regenerasi rapper dan tak ingin musik hip hop timbul tenggelam.

"Dulu Iwa K muncul kemudian hilang, 10 tahun kemudian ada Saykoji kemudian hilang lagi dan setelah itu muncul Young Lex. Gue enggak mau rapper hilang kemudian nunggu bertahun-tahun baru ada lagi," kata Ben dalam jumpa media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (17/9).

Rapper Iwa K, Saykoji dan Laze dipilih sebagai juri Beef Rap Battle yang sudah dimulai sejak bulan Juli 2018.

Mereka juga menjadi narasumber lokakarya yang dimulai sejak babak 16 besar.

Iwa menjadi narasumber untuk lokakarya tentang pembentukan karakter seorang rapper, Saykoji lokakarya tentang industri musik Indonesia dan Laze lokakarya tentang lirik.

Kurang lebih terdapat 1.200 peerta dari berbagai daerah di Indonesia.

Setelah melewati babak kualifikasi saat ini menyisakan empat perserta yang akan bertarung di babak semifinal.

"Final akan digelar bulan Oktober, tanggal belum kami tentukan. Final akan digelar setelah semua dokumentasi episode Beef Rap Battel diunggah ke kanal Youtube kami," kata Eitaro.

Dalam kesempatan yang sama, Iwa menjelaskan hip hop bertumbuh baik bila membandingkan dengan tahun 1990-an di mana ia mulai berkarya.

Menurutnya kemampuan dan pengetahuan kaum milenial tentang hip hop lebih baik karena mudah mencari referensi.

"Dulu dari 10 peserta yang bagus cuma dua, sekarang dari 10 peserta yang bagus ada enam. Anak-anak sekarang lebih ngulik," kata Iwa.

Setali tiga uang, Saykoji memberikan pendapat serupa.

Menurutnya pada kompetisi rap awal tahun 2000-an peserta menyiapkan dua sampai tiga lagu tanpa memikirkan faktor penilaian lain.

Berbeda dengan peserta saat ini yang memikirkan karakter dan gaya.

"Kami tes mental mereka juga. Ada yang gugup ketemu juri dan ada yang enggak," kata Saykoji.

Selama kompetisi berlangsung, Iwa menilai banyak peserta dari daerah lebih menarik ketimbang peserta dari kota-kota besar.

Banyak peserta dari daerah tampil membawakan lagu bertemakan kritik kehidupan urban.

Iwa sempat mengira akan merasa bosan karena banyak peserta yang tampil dengan tema yang sama.

Sebaliknya, ia merasa proses penjurian berlangsung menarik karena tema lagu sangat beragam.

Laze menambahkan, "Ada peserta dari daerah bukan dari kalangan hip hop dan mereka keren-keren. Banyak juga yang pakai bahasa dan logat Indonesia Timur, seperti Ambon dan Papua."

Laze yang memiliki nama asli Havie Parkasya sempat menjuarai kompetisi rap pada 2007 dalam kompetisi yang digagas Saykoji.

Predikat juara membuat terus bermusik dan yakin bahwa musik adalah pilihan hidupnya.

Selain itu ia juga dipandang sebagai rapper yang kredibel.

"Kalau sekarang butuh lebih dari itu, saingan rappe sekarang bukan rapper doang, tapi ada Youtuber dan Selebgram," kata Laze.

Lebih lanjut, Eitaro menjelaskan pemenang Beef Rap Battle akan mendapat hadiah uang Rp100 juta, cincin juara, mentoring dari ketiga juri dan dibuatkan video musik.

(adp/ard)