Feast Rilis Mini Album Sarat Makna 'Beberapa Orang Memaafkan'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/09/2018 21:16 WIB
Feast Rilis Mini Album Sarat Makna 'Beberapa Orang Memaafkan' Feast merilis mini album Beberapa Orang Memaafkan. Seperti yang lalu, mereka masih berbicara soal kondisi sosial masyarakat. (Dok. Feast)
Jakarta, CNN Indonesia -- Feast merilis mini album terbaru bertajuk Beberapa Orang Memaafkan. Mini album itu mereka rilis secara digital melalui sejumlah layanan musik streaming.

Beberapa Orang Memaafkan berisikan enam lagu yaitu Apa Kata Bapak (featuring Sir Dandy), Padi Milik Rakyat, Peradaban, Minggir! dan Berita Kehilangan (featuring Rayssa Dynta). Sebelumnya lagu Kami Belum Tentu, Peradaban dan Berita Kehilangan sudah dirilis sebagai single.

Semua lagu di atas mengandung kritik sosial terhadap kejadian aktual dan kejadian masa lalu. Lagu Peradaban yang bercerita tentang budaya Indonesia yang tak akan hilang, terinspirasi dari tragedi Bom Surabaya beberapa waktu lalu.



Kemudian Berita Kehilangan bercerita tentang korban kematian dari suatu kejadian. Sama seperti Peradaban, lagu berdurasi empat menit lebih itu juga terinspirasi dari Bom Surabaya.

"Kalau Padi Milik Rakyat itu hasil gua ngobrol sama warga Wonogiri pada 2010 saat tugas sekolah. Gue sempat catat tapi hilang, karena masih ingat gue bikin lagu," kata vokalis Baskara Putra kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (21/9).

[Gambas:Youtube]

Semua lagu dalam Beberapa Orang Memaafkan memiliki gaya musik yang sama dan semuanya menggunakan lirik bahasa Indonesia. Berbeda dengan album Multiverse (2017) yang mengandung 11 lagu dengan genre yang berbeda-beda.


Multiverse memang berisi permainan nuansa musik. Band yang terbentuk sejak 2013 sengaja membuat cerita fiksi saat menggarap album tersebut, sementara Multiverse sendiri berarti kumpulan sejumlah alam semesta atau bumi menjadi satu.

Feast diceritakan berada di bumi kedua saat merilis Beberapa Orang Memaafkan, bumi di mana tempat mereka tinggal saat ini. Itu menjadi alasan mengapa semua lagu menggunakan bahasa Indonesia.

"Kalau dengan konsep bumi kedua, mungkin itu menjadi alasan mengapa musik kami seragam dalam satu mini album. Tapi kalau nanti ada bumi berikutnya, musik bisa beda," kata Baskara.

Feast menampilkan gambar tubuh orang tertutup kain putih berlumuran darah yang membentuk tulisan 'Beberapa Orang Memaafkan' sebagai kover. Orang tersebut mengenakan mahkota, memegang rantai di tangan kanan dan rosario di tangan kiri.


Baskara menjelaskan kover itu merujuk pada Bunda Maria. Ia sendiri dan seniman visual yang mengerjakan kover tersebut berasal dari keluarga pemeluk agama Katolik.

[Gambas:Instagram]

Terlebih, dalam mini album tersebut terdapat lagu yang terinspirasi dari tragedi bom gereja di Surabaya. Dua unsur membuat Feast berdiskusi soal kover yang tak jauh dari agama Katolik.

"Ketika ngomongin konsep kami inget mitos-mitos gereja, Bunda Maria kadang menangis darah kalau ada tragedi atau akan ada tragedi, sehingga harus ditutup kain," kata Baskara.

Baskara dan Feast mengaku tidak khawatir bila ada yang menganggap mereka melakukan Kristenisasi lewat musik. Pasalnya, kata Baskara, Feast tidak pernah memaksa pecinta musik untuk mendengarkan dan harus memahami karyanya. (adp/rea)