DWP 2018 Bakal 'Kerja Keras' Agar Sesuai dengan Budaya Bali

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Kamis, 04/10/2018 08:42 WIB
DWP 2018 Bakal 'Kerja Keras' Agar Sesuai dengan Budaya Bali Penyelenggara DWP 2018 yang berlokasi di GWK yakin keraguan Nyoman Nuarta bahwa acara dugem itu tak sesuai dengan budaya Baliakan bisa diakali. (AFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyelenggara festival musik elektronik Djakarta Warehouse Project (DWP) ke-10 yang akan digelar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, Bali, akan 'kerja keras' menyesuaikan acaranya dengan budaya setempat.

Upaya ini dilakukan menanggapi pernyataan seniman sekaligus kreator patung GWK, Nyoman Nuarta yang menyatakan bahwa acara yang identik dengan 'dugem' itu tidak cocok dilaksanakan di GWK dengan alasan kebudayaan.

"Nanti kita buat cocok," kata Brand Manager Ismaya Group, Sarah Deshita kala ditemui di Jakarta, Rabu (3/10).



"Bocorannya akan ada momen ke-Bhineka-an, rencananya akan ajak ngobrol bareng penari-penari GWK juga untuk ikut andil di panggung itu juga. Kita di sini sama-sama membawa nama Indonesia, itu selalu menjadi goal kita setiap tahun," lanjutnya.

Sebelumnya, Nyoman yang merupakan pencipta GWK sejak 1989 dan setia memperjuangkan proyek itu rampung pernah mengatakan keberatannya bila DWP 2018 jadi diadakan di kawasan GWK. 

"GWK itu taman budaya, artinya kegiatan di sini harus cocok dengan suasana Bali itu sendiri," kata Nyoman kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (14/8), kala pihak DWP mengumumkan akan mengadakan di kawasan GWK.

"Sayang, nilai budaya yang ada di tempat ini tidak cocok dengan acara. Cari duit jangan dengan macam seperti itu, jangan hanya berpikir uang saja," kata sang seniman. 

[Gambas:Instagram]


Penolakannya itu mengingat Patung GWK mengandung makna budaya dan agama yang tinggi. Terlebih lagi, patung itu punya arti mendalam bagi masyarakat Bali.

Patung tertinggi di Indonesia itu terdiri atas dua karakter penting dalam agama Hindu, Wisnu dan Garuda. Wisnu merupakan dewa pemelihara dan pelindung alam semesta, sementara Garuda merupakan burung mitologis yang menjadi kendaraan Wisnu.

Patung yang berdiri tegak setinggi sekitar 120 meter itu telah lama diupayakan Nyoman sejak 1989. Seiring bergantinya kepemimpinan kepala negara, setelah setumpuk masalah berlalu, baru tahun ini akhirnya karya itu terselesaikan.

[Gambas:Instagram] (tsy/rea)