Dilema DWP: antara Bali, Miras dan Taman Budaya GWK

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 16:35 WIB
Dilema DWP: antara Bali, Miras dan Taman Budaya GWK GWK Bali akan menjadi tuan rumah bagi festival musik elektronik DWP akhir tahun ini. (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Untuk pertama kalinya Djakarta Warehouse Project (DWP) diselenggarakan di Bali tahun ini. Festival musik elektronik itu bakal diselenggarakan di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park, di mana ikon terbaru baru yang tertinggi se-Indonesia baru berdiri gagah.

Setelah hampir 30 tahun, patung GWK menjulang, lengkap dengan Wisnu yang bermahkota emas menunggangi garuda. Rabu (8/8) lalu, patung itu selamatan, dan akan diresmikan pada 22 September mendatang. Setelah itu, GWK dengan patung barunya 'sibuk' jadi 'tuan rumah.'

GWK Cultural Park menjadi lokasi diadakannya festival musik Soundrenaline pada September, IMF-World Bank Annual Meeting pada Oktober sampai DWP pada akhir tahun.



Sebelumnya sudah pernah ada festival musik di tempat itu. Dreamfields dan Soundrenaline beberapa kali digelar di sana. Namun ini kali pertama DWP, festival musik yang identik dengan joget dan minuman keras, memilihnya sebagai lokasi. Apalagi kini ada patung GWK.

Tahun lalu, DWP di JIExpo Kemayoran sempat menuai kontroversi. Sejumlah ormas menilainya berbau maksiat lantaran menjual minuman keras di lokasi festival. Salah satu ormas yang menolak, Forum Umat Islam Kemayoran bahkan menggelar aksi di depan JIExpo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tinia Budiati saat itu mengatakan, DWP mendapat izin menggelar acara musik, namun dengan jaminan tak ada penjualan minuman keras atau minuman beralkohol di dalam acara. Miras hanya bisa dijual di tempat-tempat yang berizin.


Berbeda dengan Tinia, PR & Media Relations Officer Ismaya Live Kevin Wiyarnanda mengatakan bahwa DWP mendapat izin menjual alkohol, tapi hanya untuk usia di atas 21 tahun.

Ketika acara demikian 'hijrah' ke Bali, perwakilan GWK Cultural Park yang dihubungi CNNIndonesia.com pada Selasa (14/8) merasa tidak masalah. Pegawai yang tak ingin disebut namanya itu mengatakan, di kawasan GWK sendiri ada kafe yang menjual minuman beralkohol.

Kafe itu juga sudah mendapat izin, mengingat Bali sering dikunjungi wisatawan asing.

"Kalau ada acara musik, penyelenggara musik harus izin khusus sendiri. Kami hanya memberikan surat rekomendasi," ujar pegawai tersebut melalui sambungan telepon.

[Gambas:Video CNN]

Menurutnya, GWK Cultural Park tidak sembarangan menerima proposal pengajuan acara. Pihaknya akan terlebih dahulu melihat sepak terjang acara dan apakah ia bisa memberi nilai tambah terhadap GWK Cultural Park. "Jadi kami bukan hanya berpikir dari segi bisnis saja."

Pegawai itu sendiri sudah mengikuti sepak terjang dan pernah datang ke DWP sebelumnya. Ia paham seperti apa suasana DWP, juga tahu bahwa tahun lalu acara itu menuai kontroversi.

Dan menurutnya, tak masalah jika acara itu digelar di GWK. Secara pribadi ia menilai penjualan minuman keras memang tidak harus dilarang di kawasan GWK Cultural Park.


"Dalam kawasan GWK Cultural Park, hanya Plaza Wisnu yang tidak boleh dijadikan tempat acara. Di situ terdapat sumber mata air yang tidak pernah kering dan dianggap suci oleh masyarakat sekitar," katanya lanjut menjelaskan, masih melalui sambungan telepon.

DWP sendiri memakai tiga area GWK Cultural Park. Area Lotus Pond dengan kapasitas 25 ribu orang, Festival Park dengan kapasitas 35 ribu orang dan Tirtha Agung dengan kapasitas 15 ribu orang. Total, acara itu memakai area berkapasitas 75 ribu orang. Itu sesuai dengan besarnya acara DWP selama ini di Jakarta, yang bisa dikunjungi kurang lebih 90 ribu orang.

Di sisi lain, Nyoman Nuarta selaku penggagas patung GWK, merasa acara musik seperti DWP tidak cocok diselenggarakan di GWK Cultural Park. "Sayang, nilai budaya yang ada di tempat ini tidak cocok dengan acara. Cari duit jangan dengan macam seperti itu, jangan hanya berpikir uang saja," kata sang seniman kepada CNNIndonesia.com pada Selasa (14/8).


Nyoman sudah mengawal GWK sejak 1989. Ia sempat memiliki 22 persen saham GWK Cultural Park. Meski kini ia telah dijual ke perusahaan properti Alam Sutera dan status Nyoman hanya sebagai pematung, ia yang membuat filosofi GWK sebagai taman budaya.

"GWK itu taman budaya, artinya kegiatan di sini harus cocok dengan suasana Bali itu sendiri," kata Nyoman, juga melalui sambungan telepon.

Ia sebenarnya tidak masalah dengan penjualan minuman keras. Nyoman juga tahu GWK Cultural Park memperdagangkannya. Selain sebagai destinasi wisatawan asing, Bali sendiri punya alkohol tradisional. Namun, ia tak setuju jika di sana jadi arena bebas mabuk-mabukan.


"Mereka [para peminum minuman keras di Bali selama ini] semua masih bisa kontrol diri saat minum. Kalau mabuk yang sampai enggak sadar diri, itu malah dimusuhi," kata Nyoman.

Ismaya Live sebagai penyelenggara DWP belum menjelaskan alasan 'hijrahnya' acara itu ke GWK Cultural Park. CNNIndonesia.com sudah berusaha menghubungi PR & Media Relations Officer Ismaya Live, namun hingga berita ini diturunkan belum mendapat tanggapan.

Sehingga belum diketahui apakah kontroversi tahun lalu berpengaruh terhadap keputusan tersebut. Mereka juga belum menjelaskan seperti apa kontrol penjualan minuman kerasnya.


Patung GWK yang menjulang setinggi sekitar 120 meter terdiri atas dua tokoh penting dalam ajaran Hindu, Wisnu dan Garuda. Wisnu merupakan dewa pemelihara dan pelindung alam semesta. Sementara Garuda merupakan burung mitologis yang menjadi kendaraan Wisnu.

Pembuatan patung GWK di GWK Cultural Park sudah diusahakan Nyoman sejak 1989. Melampaui presiden demi presiden, masalah demi masalah, baru tahun ini akhirnya ia diselesaikan. Patung itu punya arti mendalam bagi masyarakat Bali.

Tahun ini, patung itu akan menyaksikan panggung DWP yang menurut akun Instagram resminya akan menampilkan sederet musisi ternama, termasuk The Weeknd dan Major Lazer. (rsa)