Ulasan Konser

Tertawan Nostalgia di Konser Butut Guns N Roses

Agung Rahmadsyah, CNN Indonesia | Jumat, 09/11/2018 17:44 WIB
Tertawan Nostalgia di Konser Butut Guns N Roses Hadir dalam formasi legendaris, sayang sekali bahwa konser Guns N Roses ini tidak didukung tata suara yang memadai. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap menyambut bulan November, ada sebuah 'ritual' yang selalu saya lakukan yakni memutar dua buah lagu. Pertama adalah 'November Hotel' milik Mad Season dan kedua 'November Rain' milik Guns N Roses (GNR).

Kedua lagu adalah milik band rock yang berbeda kutub, Mad Season yang 'kumal' dan Guns N Roses yang glamor. Namun untuk negara dengan iklim tropis dan selera pasar yang 'tragis', lagu milik Guns N Roses terasa lebih cocok menggambarkan suasana di Indonesia pada bulan November.

Celakanya, pada Kamis (8/11) Guns N Roses menggelar konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Bisa dipastikan, ribuan penggemar yang sudah membeli tiket berharap agar hujan tidak menyertai aktivitas 'ibadah' mereka.


Pasalnya sudah sejak awal November, hujan kerap menjadi teror bagi warga ibu kota. Bahkan pada hari-H konser Guns N Roses, yang masuk dalam seri tur bertajuk Not in This Lifetime, awan gelap menggelantungi Jakarta sepanjang hari.

Namun hal itu nampaknya tidak mampu menghalangi niat para penggemar untuk melihat tiga personel legendaris Guns N Roses, yaitu Axl Rose (vokal), Slash (gitar), dan Duff McKagan (bas).



Berdasarkan unggahan yang berseliweran di Instagram dan Twitter, para penggemar GNR sudah memadati kawasan Gelora Bung Karno sejak pukul 14.00 WIB. Meskipun sudah diinfokan pintu akan dibuka pukul 17.00 WIB.

Saya sendiri tiba pukul 17.00 WIB, dan seperti yang saya duga kawasan GBK sudah penuh oleh orang berbaju hitam.

Pengemudi ojek online yang saya tumpangi bertanya perihal kerumunan manusia berbaju hitam tersebut, ketika mendengar nama Guns N Roses saya sebut mendadak raut mukanya menjadi panik.

"Waduh, beneran GNR bang? Ada Axl Rose sama Slash?" ujar lelaki yang tinggal di Bulak Kapal, Bekasi, mencoba memastikan.

Ternyata ia sudah menggemari band yang terbentuk medio 1980-an di Los Angeles, Amerika Serikat, sejak di bangku SMP. Sayangnya ia tidak menyimak kalau GNR akan mengadakan konser di Jakarta, alhasil ia hanya terpaku melihat backdrop konser GNR yang berada kawasan GBK.

Temu kangen dan kualitas sound yang tidak optimal

Konser ini rencananya akan dimulai pukul 20.00 WIB. Memiliki waktu sekitar tiga jam, saya pun mengontak beberapa kawan yang sudah terlebih dulu datang sembari mengamati suasana Stadion Utama GBK.

Salah seorang teman yang sudah 'kesurupan' GNR sejak kecil dan tidak bisa move on hingga hari ini, mengaku baru saja membeli merchandise asli GNR berupa kaos dan bandana. Untuk kaos ia tebus seharga Rp450 ribu, sedangkan bandana dibanderol seharga Rp250 ribu.

Ia berkilah jika itu adalah kenang-kenangan untuk calon keturunannya kelak, bahwa sang ayah pernah mejadi saksi sebuah konser band rock legendaris.

"Ya orang kalau kaya terus gila, bebaslah mau ngapain," ujar saya untuk mematikan pembicaraan, sebelum ia melancarkan jurus meracuni membeli official merchandise.

Satu hal yang menarik bahwa jalur masuk lokasi konser ditata rapi dan memudahkan penonton. Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Satu hal yang menarik bahwa jalur masuk lokasi konser ditata rapi dan memudahkan penonton.


Menjelang pukul 19.00 WIB, saya pun melanjutkan perjalanan untuk mencari zona Rock B seperti yang tertera dalam tiket berbentuk gelang yang saya kenakan.

Standar penataan alur masuk ke konser ini sangat bagus, tidak perlu membuat calon penonton yang sudah memliki tiket menunggu lama atau kebingungan.

Petugas yang disebar juga cukup banyak dan yang terpenting mereka menguasai informasi tentang lokasi kelas-kelas penonton, bahkan letak toilet sekalipun.

Stan makanan dan minuman, hingga official merchandise pun tertata rapi. Namun yang terpenting adalah stan untuk berfoto di area photo booth, juga dijaga oleh petugas yang mengatur penonton untuk mengantre agar semua kebagian.

Memasuki stadion utama GBK, petugas kembali memeriksa barang bawaan penonton. Barang bawaan yang dilarang seperti rokok dan air minum dalam kemasan, disita karena itu masuk dalam daftar barang yang tidak boleh dibawa. Meskipun tetap saja ada yang berhasil membawa masuk rokok.

GNR memulai konser sekitar pukul 20.15 WIB. Namun sebelumnya, animasi tank di sebuah kawasan penuh tengkorak dan darah berhasil membuat histeris ribuan penonton yang sudah menunggu selama berjam-jam.



Band yang kini berawakkan Axl Rose (vokal), Slash (gitar), Duff McKagan (bas), Dizzy Reed (kibor, perkusi), Richard Fortus (gitar), Mellisa Reese (synthesizer), dan Frank Ferrer (dram) memulai konser dengan lagu 'It's So Easy' kemudian disambung 'Mr. Brownstone'.

Penonton yang dari berbagai latar belakang dan usia tidak bisa untuk tidak bernyanyi, ketika dua lagu dari album terbaik milik GNR, 'Appetite for Destruction', dikumandangkan.

Salah satu yang menjadi perhatian saya selama konser berdurasi sekitar 180 menit ini adalah kualitas suara Axl Rose, khususnya saat menyentuh nada-nada rendah, yang sudah tidak lagi gemilang bahkan cenderung hilang.

Akhirnya saya harus menyadari jika realitanya Axl Rose sudah nyaris berusia 60 tahun, usia yang sangat jauh dari ingatan saya saat pertama kali melihat video konser GNR ketika mereka memporakporandakan The Ritz 30 taun silam.

Karena faktor usia, persoalan kualitas vokal pun harus bisa maklumi. Tetapi untuk urusan stamina, pria tua yang kini tidak 'seksi' lagi masih luar biasa.

Kualitas vokal Axl Rose yang ikonik sudah tak seperti dulu, meski fisiknya jelas masih terlatih.Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Kualitas vokal Axl Rose yang ikonik sudah tak seperti dulu, meski fisiknya jelas masih terlatih.


Namun saat bicara soal kualitas tata suara, konser GNR kali ini tergolong butut.

Sepanjang konser, hanya suara gitar berdistorsi milik Slash yang membahana sedangkan suara dari instrumen-instrumen lainnya seperti 'minder' untuk mendekatinya. Padahal permainan gitar Slash malam itu juga tidak sedikit luput.

Terlepas dari apapun alasannya, saya tidak bisa menikmati konser GNR dari segi tata suara. Tapi jika bicara soal nostalgia, maka ceritanya akan berbeda.

Sebagai band yang pernah menjadi kanon musik rock dunia, GNR menggeber lagu-lagu hits mereka seperti 'Sweet Child o' Mine', 'Estranded', 'Rocket Queen', 'Civil War', 'Night Train', 'Knocking on Heaven's Door', 'November Rain', 'Live & Let Die', 'Patience', 'Don't Cry', 'Paradise City', 'You Could be Mine', dan 'Welcome to The Jungle'.

Bahkan mereka sempat membawakan lagu milik Pink Floyd berjudul 'Wish You Were Here', 'Slither' milik Velvet Revolver, dan 'Black Hole Sun' milik Sound Garden.

Tentu saja hal ini membuat kualitas tata suara menjadi tidak penting lagi, karena orang-orang yang hadir memang hanya untuk ditahan oleh nostalgia mengingat masa muda mereka, baik GNR atau pribadi orang tersebut.

Ribuan orang berbaju hitam larut dalam nostalgia Guns N Roses.Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino
Ribuan orang berbaju hitam larut dalam nostalgia Guns N Roses.


Sepanjang konser itu, hanya ada muka-muka sumringah yang saya lihat. Entah karena bisa 'berkaraoke' bersama GNR, melihat konser GNR bersama kawan-kawan masa mudanya dan anak-anaknya, atau mungkin semuanya bercampur menjadi satu.

Saya sendiri melihat ada seorang pria tua yang rambutnya sudah didominasi oleh uban, berjingkrak-jingkrak bersama dua orang anak muda yang mungkin saja baru akan menempuh Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun depan, saat Axl Rose memulai 'sabda' legendarisnya dalam lagu 'Welcome to The Jungle'.

"You know where you are? You're in the jungle, Jakarta! You're gonna die!" (rea)