Ulasan Film: 'Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 18:26 WIB
Ulasan Film: 'Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald' JK Rowling membangun kisah 'Fantastic Beasts: The Crime of Grindelwald' dengan banyak keterkaitan dan kejutan untuk penggemar dunia sihir Harry Potter. (Dok. Warner Bros Pictures via imdb.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sulit membahas Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald tanpa menyinggung betapa rumitnya kisah yang ditawarkan film ini dibandingkan dengan versi prekuel.

Kerumitan film ini datang bukan hanya dari banyaknya tokoh baru yang dimunculkan oleh JK Rowling sebagai pencipta Wizarding World Harry Potter, melainkan juga masalah dan cerita yang dibawa mereka.

Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald lebih dari sekadar film saga Harry Potter yang biasanya membawa fantasi sihir penggemarnya ke langit dengan cepat bak bermain Quidditch.


Film ini lebih gelap, rumit, dan membutuhkan waktu untuk mencerna semua jejalan cerita Rowling yang diberikan dalam 134 menit. Gumoh rasanya.


Hal ini jelas berbeda dengan prekuelnya, Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016) yang masih mengundang tawa dan takjub dengan petualangan Newt Scamander (Eddie Redmayne) mencari berbagai makhluk sihir yang lucu, menggemaskan, sekaligus memukau.

Fantastic Beasts 2 masih membawa obsesi Scamander mencari berbagai koleksi makhluk sihir.

Namun kali ini, berlatar dekade 1920-an, ia kesulitan mendapatkan izin ke luar Inggris karena sempat mendapatkan catatan buruk kala berkunjung ke New York yang dikisahkan dalam Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016).

Newt sempat ditawari oleh Kementerian Sihir Inggris menjadi Auror untuk membantu menangkap penyihir hitam terhebat kala itu, Gellert Grindelwald (Johnny Depp) yang kabur dalam perpindahannya dari Amerika Serikat ke Inggris dan dimunculkan di awal film.

Johnny Depp (kiri) menjadi Gellert Grindelwald.Johnny Depp (kiri) menjadi Gellert Grindelwald. (Dok. Warner Bros Pictures via imdb.com)

Sebagai seorang magizoologis dan benci kerja kantoran, Newt menolak tawaran Kementerian. Akan tetapi, dirinya tak bisa menolak permintaan Albus Dumbledore (Jude Law) untuk mengejar Grindelwald sekaligus berkesempatan ke luar negeri secara ilegal.

Kemauan Newt untuk menerima tawaran Dumbledore yang lebih mirip paksaan itu juga dipengaruhi peluang bertemu Tina Goldstein (Katherine Waterston), Auror yang menemaninya dalam Fantastic Beasts 1 (2016) dan membuatnya jatuh hati.

Ditambah, secara kebetulan, ia ditemani oleh sahabat muggle-nya, Jacob Kowalski (Dan Fogler) yang mencari kekasihnya, Queenie Goldstein setelah mereka putus karena salah paham.

Mereka kemudian berangkat ke Paris, sebagai lokasi yang diduga didatangi Grindelwald karena mencari Credence, seorang dengan Obscurus yang sempat didekati Grindelwald sebelumnya.


Kejadian di Paris lebih dari sekadar petualangan. Di kota itu pula, ada banyak tokoh serta cerita yang baru terkuak dalam Wizarding World Harry Potter, seperti asal-usul Nagini yang ternyata ditemukan di Indonesia, hingga leluhur keluarga Lestrange.

Lestrange merupakan nama yang tak asing bagi penggemar Harry Potter. Dalam saga Harry Potter, keluarga ini merupakan keturunan darah murni yang mengabdi kepada Lord Voldemort.

Melalui Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, Rowling tampaknya ingin melengkapi bagian-bagian cerita yang masih bolong dalam dunia Harry Potter.

Namun tampaknya banyaknya cerita tersebut tak sanggup diakomodir dalam tayangan layar lebar yang digarap David Yates. Yates yang sudah dikenal menggarap tiga film terakhir Harry Potter dan Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016) seolah kali ini tak berdaya menahan ego Rowling dalam membangun cerita.

Jude Law (tengah) menjadi Albus Dumbledore.Jude Law (kanan) menjadi Albus Dumbledore. (Courtesy of Jaap Buitendijk/Warner Bros. Entertainment Inc)

Hasilnya, tempo penuturan film ini menjadi amat lambat dan fokus serta alur cerita berpindah-pindah.

Karena memiliki banyaknya cerita yang saling terkait, Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald juga sejatinya menuntut penonton memiliki pengetahuan cukup baik tentang Wizarding World Harry Potter yang biasanya didapat dari membaca versi novelnya tanpa ada yang terlewat.

Dengan kata lain, imjinasi Rowling di Fantastic Beasts The Crime of Grindelwald ini sebenarnya akan jauh lebih baik dan menyenangkan dituangkan dalam bentuk novel.

Akan tetapi, Rowling memang pintar dalam membuat cerita dan mengembangkan dunia sihir itu.

Hal ini terlihat dari banyaknya kejutan dalam film yang sanggup membuat penggemar fanatik Harry Potter tak percaya. Rowling juga menampilkan kembali Hogwarts yang membuat fan dipenuhi rasa rindu akan sekolah sihir tersebut.


Selain itu, Yates juga sudah khatam soal dunia imaji Harry Potter. Kedua film Fantastic Beasts merupakan bukti dirinya semakin lihai menampilkan visualisasi akan keajaiban sihir dunia Harry Potter secara apik.

Pujian juga patut diberikan untuk Johnny Depp yang memerankan Gellert Grindelwald. Di balik kontroversi kehidupan pribadinya, Depp memang seorang aktor karakter jempolan dan sanggup menggambarkan karakter Grindelwald yang misterius.

Jude Law memang bermain cukup baik sebagai Albus Dumbledore versi muda. Namun agaknya, versi muda dari profesor favorit sejuta penyihir ini agak terlalu modern untuk di masanya dan terlalu 'straight', mengingat hubungan Dumbledore-Grindelwald lebih dari sekadar sahabat dua anak lelaki.

Sejujurnya, saya membayangkan Albus Dumbledore kala muda seperti Elton John di awal kariernya, nyentrik, ceria, dan kreatif.

Di luar cerita film Fantastic Beasts: The Crimes Grindelwald yang padat, JK Rowling dipastikan memiliki kejutan lain di serial Fantastic Beast selanjutnya yang bisa jadi memiliki banyak keterkaitan dengan seri saat ini.

[Gambas:Youtube] (end)