Ulasan Film: 'A Man Called Ahok'

dna & , CNN Indonesia | Kamis, 08/11/2018 23:09 WIB
Ulasan Film: 'A Man Called Ahok' 'A Man Called Ahok' adalah film keluarga yang banyak berbicara soal hubungan antar ayah dan anak. (Foto: Dok. The United Team of Art via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pepatah 'air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga' nampaknya cocok menjadi payung besar penggambaran cerita film 'A Man Called Ahok'. Sepanjang 102 menit, film ini mengisahkan peran istimewa keluarga, khususnya sang ayah, dalam membentuk karakter seorang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sosok Ahok memang memiliki pesona kuat di masyarakat. Hampir semua masyarakat di penjuru Indonesia tahu sepak terjang atau minimal pernah mendengar nama ini. Selain karena berasal dari ras minoritas dalam semesta politik Indonesia, dirinya kerap tampil blak-blakan dan sarat dengan keputusan kontroversial.

Namun, jangan berharap menyaksikan tontonan politik dalam film ini.




Alih-alih berfokus pada kisah politik Ahok yang 'seksi', film 'A Man Called Ahok' lebih memilih untuk mengisahkan masa kecil Ahok bersama keluarganya di Belitung Timur. Film bergenre drama keluarga ini akan memusatkan cerita pada dua karakter yakni sosok Ahok sendiri dan ayahnya, Kim Nam.

Secara garis besar, film ini menceritakan cara didik Kim Nam kepada Ahok dan adik-adiknya. Ia merupakan seorang pengusaha timah di Belitung Timur yang cukup terpandang, namun hal ini tak membuat dirinya 'lembek' kepada anak-anaknya. Tak hanya dikenal sebagai 'tauke' alias bos besar, ia juga diingat sebagai pengusaha dermawan yang kerap membantu masyarakat sekitar. Kebaikan ini yang selalu ingin ditanamkan Kim Nam kepada anak-anaknya.

Cara mendidik Kim Nam inilah yang akan memancing emosi 'gado-gado' penonton hadir. Mulai dari gelak tawa, rasa frustasi, hingga rasa haru turut muncul karena terciptanya hubungan benci tapi cinta antara Kim Nam dan Ahok.

Eksekusi budaya Tionghoa dalam film ini juga baik, tak ditampilkan berlebihan yang pada umumnya berujung pada stereotyping. Penggunaan Bahasa Khek yang tidak dibuat-buat serta pemunculan budaya khas Tionghoa seperti tingginya harga diri dan gaya bicara blak-blakan menjadi nilai tambah film garapan Putrama Tuta ini.



Film ini begitu apik memanfaatkan momen magis orangtua dan anak. Ada banyak dialog mengharukan antara orangtua-anak yang menunjukkan arti kasih sayang tak selalu berwujud manis. Namun sayang, petuah dan kata-kata bijaksana lebih banyak disampaikan secara lisan tanpa penggambaran adegan yang cukup.

Jika diibaratkan dengan tempo, jalannya cerita di film 'A Man Called Ahok' memiliki tempo sedang di awal. Namun setelah sosok sang ayah meninggal dunia, adegan terasa berlompat dan cepat berlalu.

Soal aksi para pemainnya, Daniel Mananta sebagai pendatang baru di layar lebar Indonesia tergolong mampu memerankan sosok Ahok dengan cukup baik dan matang. Daniel bisa mengeksekusi dengan baik detil-detil khas seorang Ahok, seperti cara senyum, gestur tangan kala berbicara, dan sebagainya.

Para pemain lain yang kebagian berbicara Bahasa Khek dan logat Belitung juga menunjukkan konsistensi yang baik. Sebut saja Denny Sumargo, Chew Kin Wah Eriska Rein, Sita Nursanti, dan Jill Gladys mampu menampilkan logat Belitung yang terkesan tidak dibuat-buat walau terkadang masih terlihat kaku.



Secara umum, film ini cukup baik untuk ditonton bersama keluarga. Saratnya makna akan pentingnya keluarga dalam membentuk karakter anak menjadi sebuah pengingat penuh haru bagi orang tua dan anak untuk saling menjaga satu sama lain.

Film yang diadaptasi dari novel karya Rudi Valinka bertajuk senada ini telah naik layar pada 8 November 2018.

[Gambas:Youtube] (rea)