Eka Kurniawan Raih Prince Claus Awards 2018 di Belanda

CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 15:37 WIB
Eka Kurniawan Raih Prince Claus Awards 2018 di Belanda Penulis Eka Kurniawan kembali raih penghargaan. (Foto: Detikcom/Grandyos Zafna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penulis Eka Kurniawan baru-baru ini kembali menorehkan prestasi. Ia baru saja dianugerahi penghargaan dalam Prince Claus Awards 2018 untuk kategori Sastra/Literatur, pada Kamis (6/12) malam, di Belanda.

Berdasarkan siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (7/12) penghargaan tahunan ini diberikan kepada individu, kelompok, atau organisasi yang bergerak di bidang kebudayaan dan karya-karyanya memberikan dampak positif pada pengembangan masyarakat, terutama di Afrika, Asia, Amerika Latin dan Karibia.

Tercatat 213 orang diundang secara resmi untuk mengajukan diri sebagai nominasi Prince Claus Awards 2018. Namun, hanya 85 di antaranya yang kemudian diterima serta diseleksi kembali oleh Biro Prince Claus Awards.


Mereka yang terpilih selanjutnya diundang untuk menerima penghargaan pada sebuah upacara formal di Royal Palace, Amsterdam, di hadapan anggota keluarga kerajaan dan tamu-tamu dari seluruh dunia. Penghargaan ini juga akan diberikan di negara masing-masing penerima, disertai upacara oleh Duta Besar Belanda.


Selain Eka Kurniawan, beberapa nama lain yang juga menerima Prince Claus Awards 2018, yaitu Adong Judith dari Uganda untuk bidang Teater, Marwa al-Sabouni dari Syria untuk kategori Arsitektur dan Urbanisme, Kidlat Tahimik dari Filipina untuk Visual Arts/Film, dan O Menelick 2º Ato dari Brasil, untuk kategori Media/Jurnalistik.

Sementara, Market Photo Workshop dari Afrika Selatan meraih Principal Prince Claus Award 2018 untuk bidang Fotografi, dan Dada Masilo yang juga berasal dari Afrika Selatan meraih Next Generation Award 2018 untuk bidang Tari.

Berdasarkan laporan, penyelenggara memilih Eka Kurniawan sebagai peraih Prince Claus Award 2018 karena kemampuannya menarasikan kisah-kisah imajinatif lewat keindahan prosa-prosanya, dan juga universalitas materinya.

"Eka dianggap mampu memberikan perlawanan terhadap tindakan politik yang sewenang-wenang, membawa isu-isu sosial dalam bentuk yang akrab dengan masyarakat, juga membentuk pemahaman sejarah di masyarakat, guna membangun persepsi tentang sebuah negara dengan lebih baik," demikian pernyataan yang tertulis dalam siaran pers.


Tidak hanya itu, Eka juga dinilai berhasil mengangkat budaya Indonesia lewat penceritaan kembali kisah dan mitologi lokal yang selama ini mulai terabaikan. Ia menggunakan kekuatan sastra dan literatur sebagai penyampai topik-topik krusial, terutama dalam masa-masa ketika kebebasan berpendapat banyak dibungkam.

Dan yang paling utama, Eka dianggap berhasil menarik perhatian dunia dengan menyampaikan sejarah Indonesia alternatif, yang berdampak pada meningkatnya kesadaran dan pemahaman terhadap Indonesia.

Sebelumnya, novel pertama Eka yang berjudul Cantik Itu Luka telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Sementara novel keduanya, Lelaki Harimau, telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Italia, Korea, Jerman dan Prancis.

Novel keduanya itu juga berhasil mengantar Eka Kurniawan ke jajaran sastrawan dunia, sehingga pada 2015 Jurnal Foreign Policy menobatkannya sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia, karena berhasil menegaskan posisi Indonesia di peta kesusastraan dunia.

Dan pada Maret 2016, Lelaki Harimau berhasil mencatatkan prestasi sebagai buku Indonesia pertama yang dinominasikan di ajang penghargaan sastra bergengsi dunia: The Man Booker International Prize. (agn/rea)