Pertama Kali Ada KBBI Braille di Indonesia

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Rabu, 26/12/2018 14:09 WIB
Pertama Kali Ada KBBI Braille di Indonesia Kemendikbud mencetak KBBI Braille untuk tunanetra. (Ilustrasi/Istockphoto/serezniy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa bilang tunanetra tak boleh belajar dan memahami bahasa Indonesia. Agar tunanetra bisa lebih dalam mempelajari makna tiap kata bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) mencetak Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Braille.

KBBI Braille akan mengalih huruf KBBI V cetakan II.

Ini baru pertama ada KBBI Braille di Indonesia. Kamus itu diserahkan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Poppy Dewi Puspitawati di kantor BPPB Rawamangun, Jakarta, Rabu (26/12).



Namun peluncuran perdana kamus sudah sejak Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu.

Dengan kamus itu, Poppy berharap para penyandang disabilitas netra tetap bisa mendapat informasi, terutama terkait kosakata baru. Mereka pun lebih kaya kosakata.

"Kami ingin semua anak-anak mendapat pendidikan. Kami akan sosialisasikan kamus ini di mana pun Sekolah Luar Biasa (SLB) berada," katanya.


Saat ini Kemendikbud menyediakan setidaknya satu KBBI Braille di setiap kabupaten. Padahal SLB di Indonesia saja jumlahnya lebih dari 2.000. Nantinya, pemerintah berjanji akan memperbanyak penyediaan KBBI Braille. Cetakannya akan dilipatgandakan.

Namun sebelum disebarluaskan ke masyarakat, sosialisasi KBBI Braille akan dilakukan di Kementerian Sosial (Kemensos).

Kepala Subdirektorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Kementerian Sosial (Kemensos) Tedi Tresnayadi mengatakan, berdasarkan data 2012, populasi lembaga dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) sensorik netra di Indonesia adalah yang terbanyak dibanding lainnya. Jumlahnya mencapai 142.860 dari total 350.668.


Persiapan membuat KBBI Braille tidak sebentar. Kemendikbud butuh waktu enam bulan untuk mempersiapkan sekaligus mencetaknya. Pembuatan kamus itu adalah upaya pemenuhan hak untuk penyandang disabilitas sesuai UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Dicetak bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI), alih huruf dari KBBI V cetakan II ke KBBI Braille melibatkan tunanetra sebagai pengguna. Mereka menyunting kamus itu usai dialih huruf dan dicetak.

Secara keseluruhan KBBI Braille terbagi menjadi 139 jilid, yang setiap jilidnya berisi 50 lembar kertas khusus. Di sampulnya terdapat logo Braille. (Antara/rsa)