FOTO: Melihat Afrika di Belgia

Reuters, CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 13:44 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Orang-orang Afrika mempunyai sejarah kelam dengan negara Belgia, sehingga kehadiran Museum Afrika ini pun mengundang berbagai perdebatan terkait kolonialisme.

Museum Afrika di Tervuren, Belgia ini membutuhkan lima tahun masa renovasi sebelum akhirnya kembali dibuka untuk umum pada 9 Desember 2018. Museum di-modernisasi dari propaganda pro-kolonial. (REUTERS/Yves Herman)
Seorang pria melewati gajah Afrika yang menjadi bagian dari Museum Afrika di Tervuren, Belgia, pada 6 Desember 2018. (REUTERS/Yves Herman)
Museum Afrika ini dipenuhi artefak dan hewan-hewan seperti gorila di atas, kerap dikritik karena mengabaikan kebrutalan Raja Leopold II kala memerintah Kongo yang mengakibatkan kematian jutaan penduduk sipil. (REUTERS/Yves Herman)
Salah satu kekejaman Raja Leopold II adalah memotong dan mengumpulkan tangan orang-orang Kongo yang menolak turut dalam kerja paksa. (REUTERS/Yves Herman)
Masih banyak artefak yang tersisa seperti yang tampak di gambar, tetapi ada lebih banyak komentar dari orang-orang Afrika yang ditampilkan di video yang dibuat oleh seniman-seniman Kongo. (REUTERS/Yves Herman)
Patung-patung yang menjadi koleksi Museum Afrika yang menghabiskan dana $75,1 juta atau sekitar Rp1 biliun untuk renovasinya.  (REUTERS/Yves Herman)
Bangunan museum ini berada di sebuah gedung megah bergaya neo-klasik dengan taman yang indah, sedikit di luar ibukota Brussels. (REUTERS/Yves Herman)
Namun perubahan ini pun memancing perdebatan, setelah beberapa artefak diklaim merupakan hasil curian. Menurut para aktivis, tindakan memajang artefak curian merupakan warisan kolonial. (REUTERS/Yves Herman)
Tengkorak-tengkorak turut menjadi koleksi Museum Afrika, mengingatkan publik pada penjajahan dan berbagai tindak rasisme yang menimpa orang Afrika selama berpuluh-puluh tahun. (REUTERS/Yves Herman)