Tertular Semangat Berkarya Adrian Yunan

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 30/12/2018 09:08 WIB
Tertular Semangat Berkarya Adrian Yunan Adrian Yunan tetap berkarya meski divonis degradasi retina. (CNN Indonesia/Ajeng Dinar Ulfiana)
Jakarta, CNN Indonesia -- Efek Rumah Kaca (ERK) sedang berada di masa emas saat pemetik basnya, Adrian Yunan ditimpa masalah. Ia divonis mengidap retinitis pigmentosa, penurunan performa retina. Selain karena keturunan, penyakit itu juga menyerang daya tahan tubuh.

Awalnya Adrian tak percaya. Diagnosa bisa saja salah. Apalagi ia yakin keluarganya tidak ada yang pernah divonis serupa. Ia pun sampai periksa ke Singapura. Saat itu, ERK-band yang digawanginya bersama Cholil Mahmud dan Akbar Bagus, manggung di sana.

Adrian disebut terpapar virus toksoplasma tingkat tinggi.



Tak lama, pada 2010, Adrian buta total. Ia sampai harus mempelajari dan mengingat sudut rumah agar bisa berjalan. Letak barang-barang pun ia hafal betul.

"Saya melewati masa transisi dari melihat sampai tidak melinat. Sejak saat itu punya cara pandang ruang dan kehidupan secara berbeda," kata Adrian beberapa waktu lalu.

Ia harus rela tak ikut tampil kala ERK manggung. Posisinya digantikan oleh Poppie Airil.

Meski begitu ia tidak benar-benar diam. Adrian membantu ERK saat membuat album Sinestesia (2015). Tangannya tetap ikut 'meracik' Putih, Keberagaman dan Nyala Tak Terperi.


Adrian juga menulis lagu yang sangat personal. Pengalaman-pengalaman semenjak buta, ia tuangkan di sana. Gitar masih ia petik. Sang istri lalu membantunya merekam draf lagu.

"Karena kepekaan yang berbeda, karya orang disabilitas potensial berkarakter. Dari segi musik, lirik dan konteks berbeda karena indera yang bekerja juga beda," kata Adrian.

Sejak buta total Adrian jadi lebih sensitif. Hal-hal di sekelilingnya seakan memanggil meminta dibuatkan lagu. Ia akhirnya punya album solo bertajuk Sintas, pertengahan 2017.

"Saya merasa down dan tidak tahu mau ngapain, saya cuma mau cerita ke orang. Saya berpikir, yang sudah saya jalani musik. Jadi jalan saya untuk bercerita adalah musik," kata Adrian mengungkapkan. Rasa musiknya pun jadi lebih berbeda.


Ruang Yang Sama misalnya, bercerita tentang apa yang ia rasakan setelah tidak melihat. Ia menulis lirik sederhana yang mudah dimengerti, seperti 'karena mendengar tak hanya telinga' atau 'karena berjalan tak hanya melangkah.'

Dengan semangat itu, Adrian tetap bermusik. Ia juga terlibat di ruang-ruang komunitas seperti difabel, seperti sore itu saat bertemu CNNIndonesia.com dalam sebuah diskusi.

Ia menyemangati difabel lain di luar sana.

Dilihatnya mereka banyak yang berbakat, namun belum juga berkarya. Menurutnya, itu karena Indonesia masih dalam tahap transisi untuk melihat difabel.

"Kalau yang ditampilkan mood heroik, menurut saya itu trigger. Media masih mengangkat difabel dengan seperti itu adalah masa transisi, suatu saat akan sampai pada tahap orang difabel setara," kata Adrian, yang terlihat asyik bicara, santai dan tertawa. Ia, setara. (adp/rsa)