Analisis

Lagu 'Meraih Kemenangan' Via Vallen untuk Jokowi

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 19:11 WIB
Lagu 'Meraih Kemenangan' Via Vallen untuk Jokowi TKN tak menampik bila muncul anggapan pihaknya mengkomoditaskan dangdut untuk mendulang massa Jokowi-Amin lewat lagu 'Meraih Kemenangan'. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Meraih Bintang' yang dibawakan Via Vallen mungkin menjadi salah satu lagu yang paling banyak didengar pada akhir tahun lalu sejak gelaran Asian Games 2018.

Aksi Presiden Joko Widodo berjoget 'dayung' menjadi viral saat Via membawakan lagu itu di pembukaan Asian Games 2018 juga menambah popularitas lagu ini. 

Kini, gubahannya muncul pada Senin (18/2). Bukan sembarang gubahan, melainkan dengan tujuan mengajak pendengar memilih pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang kemudian dibungkus dengan tajuk 'Meraih Kemenangan'.


Lagu Meraih Kemenangan pun sama-sama dibawakan oleh Via Vallen, nadanya pun tak berubah. Hanya berbeda lirik di bagian chorus.

Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Usman Kansong, menjelaskan bahwa nada lagu 'Meraih Bintang' diambil menjadi lagu 'Meraih Kemenangan' karena dinilai pas. Terlebih, lagu itu dibawakan oleh Via yang memiliki banyak penggemar.


"Kira-kira lagu itu pas untuk kami pakai sebagai lagu resmi Jokowi-Ma'ruf Amin," ujar Usman kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (19/2).

Usman menyebut lagu 'Meraih Kemenangan' sebenarnya belum dirilis secara resmi oleh TKN. Ia menjelaskan lagu itu akan dirilis dalam waktu dekat di momen yang dirasa tepat.

Ia juga menjelaskan bahwa dengan menyanyikan lagu itu, tidak berarti Via terikat dengan TKN. Perempuan asal Jawa Timur itu hanya berperan sebagai penyanyi.

Aksi Via Vallen kala Asian Games 2018 membuat Jokowi 'goyang dayung'.Aksi Via Vallen kala Asian Games 2018 membuat Jokowi 'goyang dayung'. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Lagu 'Meraih Bintang' sejatinya diciptakan oleh musisi Parlin Burman Siburian alias Pay. Pay membuat lagu yang menjadi lagu tema Asian Games 2018 itu kental dengan genre dangdut dibalut pop modern.

Usman menjelaskan Pay telah menyumbangkan nada lagu itu kepada Jokowi-Amin. Dengan begitu, urusan izin hak cipta dan lain-lain sudah diurus.

CNNIndonesia.com sudah menghubungi Pay melalui pesan singkat dan telepon untuk mengonfirmasi klaim Usman tersebut. Namun sampai berita ini diturunkan Pay tidak merespons.

Manajemen Via Vallen pun telah coba dihubungi oleh CNNIndonesia.com sejak Senin (18/2), namun tak jua memberikan tanggapan.


Makin Banyak

Dengan munculnya lagu 'Meraih Kemenangan' ini, semakin banyak lagu dangdut yang dibuat menjadi komoditas politik terutama saat musim pemilu. Bukan tanpa alasan banyak peserta pemilu menggunakan dangdut sebagai komoditas menarik massa, terutama masyarakat menengah ke bawah.

Hal ini pernah disinggung Andrew N Weintraub dalam bukunya, Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia, yang juga dibaca oleh Usman.

Andrew menegaskan dalam buku tersebut, dangdut sebagai musik rakyat memang sering digunakan untuk kepentingan politik, atau dalam kata lain dangdut dijadikan komoditas politik.

[Gambas:Instagram]

Berdasarkan penelitian Andrew, dangdut telah digunakan politik sebagai komoditas menggalang massa saat kampanye sejak 1970-an. Alasannya, dangdut adalah musik rakyat.

Salah satu contohnya adalah ketika Raja Dangdut Rhoma Irama tampil di atas panggung dalam kampanye Pilkada Jawa Timur pada 2008 lalu. Di atas panggung, Rhoma berpesan kepada penonton untuk memilih si empunya acara saat hari pencoblosan.

Tak lama, yang dimaksud Rhoma pun naik pentas dan menyapa warga. Ia lalu menyanyikan lagu Rhoma. Para penonton pun 'terjerat' karena merasa si calon gubernur itu memiliki 'kesamaan' dengan para penonton, sama-sama menyukai dangdut.

Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama saat konser deklarasi pasangan nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Ciracas, Jakarta Timur, Februari 2017.Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama saat konser deklarasi pasangan nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Ciracas, Jakarta Timur, Februari 2017. (CNN Indonesia/Abi Sarwanto)

Hal yang sama bisa jadi terulang pada lagu 'Meraih Kemenangan'. Toh, lagu ini bukan lagu kampanye pertama yang dinyanyikan Via.

Via sebelumnya sempat tampil menyanyikan lagu di acara mantan pasangan calon gubernur-wakil gubernur Pilkada Jatim 2018, Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarnoputri.

Via Vallen juga mentas di berbagai panggung kampanye, seperti di pilkada di Kalimantan juga Lampung.

Sebagai penyanyi dangdut yang memiliki fan fanatik berjuluk Vianisty dan 12 juta pengikut di Instagram, biduan berambut panjang itu membuktikan ketenarannya menjadi nilai jual yang menarik politisi menggandengnya untuk mendulang suara konstituen.


Anggapan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf ikut mengkomoditaskan dangdut demi perolehan suara tak ditampik oleh Usman.

Menurut Usman, lagu 'Meraih Kemenangan' punya kekuatan dan peluang menarik masyarakat dari kelas bawah hingga atas. Semua karena dangdut berfusi pop modern dalam lagu itu.

Ia menilai politik yang menggunakan musik untuk menggalang suara merupakan hal yang wajar. Lagipula, hampir setiap partai politik dan pihak yang sedang bertarung di pemilihan umum juga memiliki mars atau lagu.

"Lagu itu bisa dijadikan sebagai semacam, mungkin kita anggap bisa meraih suara, meraih simpati, saya kira itu umum saja dalam politik," kata Usman.

"Kalau [dianggap] menjadikan [dangdut sebagai] komoditas politik, biasa saja orang menilai itu. Karena itu sudah terjadi dimana-mana." tambahnya.

Pernyataan Usman semakin menguatkan bahwa TKN atau Jokowi-Amin mengkomoditaskan dangdut demi kepentingan politik. Memang tidak ada yang salah, tapi sebaiknya musik bisa diaplikasikan dengan baik tanpa harus menjadi komoditas. Agar musik lebih dihargai.

[Gambas:Youtube] (adp/end)