Eksklusif

Calum Scott soal Menjadi Manusia usai 'Britain's Got Talent'

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 10:55 WIB
Calum Scott duduk dan berbicara dengan CNNIndonesia tentang ketakutan dan kebanggaannya menjadi manusia. (Michael Loccisano/Getty Images for Lemon Lemon/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calum Scott terlihat gembira ketika menemui CNNIndonesia.com di kantor Universal Music Indonesia di kawasan Sudirman, Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia mengenakan kemeja berlengan panjang, menikmati beberapa butir anggur yang disajikan sebelum duduk dan membicarakan kondisi jalanan kota Jakarta.

"Apakah di sini selalu gila-gilaan macetnya?" tanyanya saat itu.

Tetapi sebenarnya Scott tak mempermasalahkan kemacetan yang menjadi ciri khas kota Jakarta. Tampaknya, ia memang sedang menikmati hal-hal baru yang terjadi di sekelilingnya, mengingat dulunya ia adalah seorang pekerja kantoran biasa yang gemar berolahraga dan kerap nongkrong bersama teman-teman.


Hidup Scott berubah setelah dirinya mengikuti audisi Britain's Got Talent, yang dilakukannya karena dorongan kakaknya, Jade. Kala itu, ia membawakan 'Dancing on My Own' yang diaransemennya ulang. Lagu itu membuatnya mendapat Golden Ticket, dan dari sana, kisah seorang Calum Scott sebagai seorang penyanyi bergulir.


"Saya tidak pernah menduga akan mendapat Golden Ticket. Hari itu benar-benar terasa surreal," kata Scott yang mengaku meskipun memainkan drum, namun ia bukan tipe orang yang suka pura-pura bernyanyi di atas pentas semasa kecil.

"Saya suka main drum, berada di bagian belakang panggung, tidak ada yang bisa melihat saya," katanya, seraya mengingat bahwa sejak kecil, Jade selalu menjadi bintang keluarga. Ia bahkan heran melihat kakaknya itu bisa bernyanyi di hadapan banyak penonton.

Namun berada di atas panggung, menyanyikan 'Dancing on My Own' dan mendapat respons luar biasa menjadi pengalaman menyenangkan bagi Scott. Ia berkata, selalu menyukai lagu yang dinyanyikan pertama kali oleh Robyn itu. "Tetapi versi Robyn sangat ceria, seperti mengajak berdansa, padahal lagu itu tentang kesedihan dan patah hati. Ketika saya sedang mencari inspirasi, saya menemukan aransemen indah lewat sebuah piano. Saya terkejut sendiri, lalu mulai menyanyikan lirik ['Dancing on My Own'] dan kau jadi menyadari betapa sedihnya lagu itu," ucapnya.

Ketika memainkan versinya kepada sang ibu dan kakak, keduanya pun menangis. Menjelang audisi, Scott tak berpikir punya pilihan lain kecuali 'Dancing on My Own'. Dalam sekejap, pria 30 tahun itu berpindah panggung demi panggung, dari satu kota ke kota lain, bahkan mengunjungi negara-negara yang tadinya asing.


"Ini semua perubahan hidup yang luar biasa. Saya punya penggemar dan jadi seorang figur publik. Saya ketakutan, sebenarnya. Saya ini orang yang tertutup, normal, biasa saja," katanya.

"Tetapi lalu orang-orang mulai berkomentar di media sosial saya, mengatakan ingin menonton saya bermain dan bertemu. Saya butuh waktu menerima keadaan ini. Tetapi setelah saya mulai menulis musik dan menyadari besarnya kekuatan pesan sebuah lagu, saya menyadari saya punya tanggung jawab. Ini sebuah pekerjaan penting," lanjut Scott.

Perasaan itu lantas membuat Scott serius tentang pilihannya menjadi musisi. Ia menegaskan, musik telah mengubahnya secara personal dan membantunya 'bertumbuh'. "Saya mendapat ribuan pesan yang bilang musik saya mengubah mereka, membuat mereka gembira. Hal-hal seperti itu sangat penting untuk saya. Hubungan saya dengan penggemar adalah yang terpenting," katanya.

Tetapi penggemar bukan satu-satunya hal yang dicintai Scott. Ia harus membagi cintanya dengan musik dan terutama, keluarga. 

Menjadi Manusia dalam 'Only Human'

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2