Ramin Djawadi, Racik Musik 'Game of Thrones' dan Kisah Trauma

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 14/04/2019 18:20 WIB
Ramin Djawadi, Racik Musik 'Game of Thrones' dan Kisah Trauma Ramin Djawadi, peracik musik 'Game of Thrones.' (Christopher Polk/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjelang Game of Thrones musim kedelapan, lagu tema yang selalu diputar di awal setiap episode semakin terngiang. Suara rendah cello yang terasa sendu nan gelap itulah yang ditunggu penggemar Game of Thrones setiap tahun, bahkan yang terakhir selama dua tahun.

Adalah Ramin Djawadi, orang di balik lagu tema nan ikonis itu. Komponis berdarah Iran-Jerman ini merancang lagu tema dan musik latar (score) sedemkian rupa agar cocok dengan cerita Game of Thrones, tentang perebutan Iron Throne oleh tujuh kerajaan di Westeros.

Suara cello sengaja dibikin dominan karena Game of Thrones berlatar waktu abad pertengahan, masa di mana sejumlah keluarga saling bertikai demi kekuasaan absolut.



"[Cello] bisa dimainkan sangat rendah, dan acara ini merupakan pertunjukan yang gelap, saya merasa itu adalah instrumen melodi yang hebat," kata Djawadi, dilansir Reuters.

Djawadi tak ingin asal membuat lagu tema atau musik latar. Semua elemen ia perhatikan.

Dilihat dari latar belakangnya, Djawadi memang sudah lama mendalami musik. Ia lulus dengan predikat summa cum laude dari Berklee College of Music pada 1998. Ia lalu direkrut kompinis Hans Zimmer bergabung perusahaan pembuat musik latar, Remote Control Productions.

Djawadi mulai membuat musik latar pada 1999. Kala itu ia membuat musik latar untuk gim video bertajuk System Shock 2. Kemudian ia membantu Dame Grease dan Jeff Rona untuk membuat musik latar film Exit Wounds (2001).


Namanya mulai dikenal setelah membantu Zimmer membuat musik latar film seperti Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl (2003) dan Something's Gotta Give (2003). Sampai akhirnya ia membuat musik latar sendiri untuk film Blade: Trinity (2004).

Pria 44 tahun ini sudah mengerjakan lagu tema dan musik latar untuk Game of Thrones sejak musim pertama yang mengudara pada 2011. Ia berdiskusi dengan kreator serial televisi Game of Thrones, David Benioff dan D.B. Weiss, soal penciptaan musik latar itu.

Katanya, mereka sepakat tidak mengunakan suara suling.


"Itu benar-benar berasal dari ide [kami], bahwa ini adalah karya fantasi pada masa tertentu dan kami tidak ingin memiliki suling di abad pertengahan," kata Djawadi.

Setelah enam musim menjagokan cello, Djawadi akhirnya menggunakan piano untuk membuat musik latar pada musim keenam. Unsur piano itu dimasukkan untuk melatari episode terakhir bertajuk Light of the Seven, saat Cersei Lannister meledakkan Sept of Baelor.

Nuansa Light of The Seven terasa sendu nan melankolis dengan suara piano yang dibalut gesekan cello bertempo lama. Di tengah lagu, ia memadukannya dengan alunan paduan suara, bersamaan dengan tempo yang dibuatnya semakin cepat.

Tak disangka Light of The Seven tenar dan dikenal penggemar. Dalam layanan musik streaming Spotify lagu itu diputar sekitar 58 juta kali, mengalahkan lagu tema Game of Thrones yang hanya diputar sekitar 26 juta kali. Itu jelas membuat Djawadi senang bukan kepalang.


Namun ternyata ia juga pernah merasa trauma usai menggarap musik latar Game of Thrones. Tepatnya saat membuat musik latar adegan yang menyayat hati, seperti saat Shireen Baratheon dibakar hidup-hidup dan Hodor mengorbankan nyawa demi menyelamatkan Bran Stark.

"Saya menulis dari hati karena itulah yang benar-benar saya rasakan saat itu dan menjadi sangat emosional bagi saya. Kadang saya harus melupakan dan mengambil waktu sejenak dan mengerjakan sesuatu yang lain," kata Djawadi mengungkapkan.

Musim kedelapan yang segara rilis akan jadi garapan terakhir Djawadi. Tak seperti para pemain yang bertanya-tanya soal akhir cerita Game of Thrones, Djawadi sudah menonton seluruhnya karena berkepentingan membuat musik latar.

[Gambas:Youtube]

"Saya menonton sendiri dan terpukul dengan apa yang terjadi. Saya berpikir, 'bagaimana saya 'memusikkan' ini dan apa yang akan saya lakukan dengan musik latarnya,'" tuturnya.

Meski sudah menonton seluruh cerita Game of Thrones, Djawadi termasuk orang yang pintar menjaga rahasia. Musik latar yang dibuatnya bahkan tak diperdengarkan pada istrinya.

"Saya pikir akan sangat sulit bagi saya untuk mengucapkan selamat tinggal pada lagu-lagu tema ini, pada acaranya [Game of Thrones] dan musiknya. Bagaimana tepatnya perasaan saya ketika melakukannya, saya belum tahu," kata Djawadi.
(adp/rsa)