FOTO: 'Menitip' Doa pada Roket di Myanmar

Ye Aung THU / AFP, CNN Indonesia | Jumat, 03/05/2019 12:09 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 12 hari setelah perayaan tahun baru Myanmar, waktunya komunitas Pa'O menggelar kompetisi roket tahunan di Nantar untuk memohon hujan dan kesuksesan.

Sekitar 12 hari setelah perayaan tahun baru Myanmar, suhu biasanya naik dan hujan tak kunjung tiba. Itulah waktunya komunitas Pa’O menggelar kompetisi roket tahunan di Nantar. (Ye Aung THU / AFP)
Roket-roket mereka buat dengan tangan, tak berisi nuklir seperti milik Korea Utara atau Amerika. Selongsongnya dibuat dari bambu, tapi di dalamnya ada 40 kg bahan peledak. (Ye Aung THU / AFP)
Masing-masing roket yang dibuat sepanjang maksimal 90 cm dan berdiameter 3 cm, akan diberkati oleh seorang biksu sebelum ditembakkan ke udara. (Ye Aung THU / AFP)
Berkah biksu itu bak doa yang diantarkan ke langit. (Ye Aung THU / AFP)
Warga yang menembakkan roket itu pun tak sembarangan. Mereka mengenakan busana putih dan semacam sorban yang dililitkan di kepala, biasanya berwarna merah atau oranye. (Ye Aung THU / AFP)
Ada makna tersendiri soal sorban itu. Warna terang itu melambangkan naga, yang mereka mintai berkah agar melimpahkan hujan dan tentu saja kesuksesan, atau uang yang banyak. (Ye Aung THU / AFP)
Pa’O adalah kelompok minoritas terbesar di Myanmar. Jumlahnya kini masih 1,2 juta. Meski meyakini Budha, mereka juga masih punya jiwa animisme, percaya pada naga. (Ye Aung THU / AFP)
Mereka yakin ada naga perempuan dan kekuatan penyihir yang disebut ‘weiza’ yang akan mengabulkan permintaan mereka. Dalam konteks ini mereka meminta hujan agar panen sukses. (Ye Aung THU / AFP)
Selain ‘menitip’ doa pada roket, masyarakat Pa’O juga bernyanyi-nyanyi serta menari. (Ye Aung THU / AFP)
Roket pun tak hanya ‘dititipi’ doa. Itu juga dilombakan dengan hadiah sampai US$4.000. (Ye Aung THU / AFP)