FOTO: Kala K-Pop 'Menjajah' Jepang

Reuters, CNN Indonesia | Minggu, 05/05/2019 18:29 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Wabah K-Pop yang melanda Jepang membuat gadis-gadis setempat rela meninggalkan sekolah mereka dan mengeluarkan ribuan dolar demi pendidikan jadi idola.

Remaja Jepang dilanda demam K-Pop. Gadis-gadis di Negeri Matahari Terbit seolah berlomba-lomba menjadi idola. (REUTERS/Kim Hong-Ji) 
Mereka tak segan menghabiskan ribuan dolar untuk mengunjungi Korea Selatan sebagai basis K-Pop, untuk kemudian berusaha sekuat tenaga masuk ke Acopia, sebuah sekolah di Seoul yang 'mendidik' muridnya untuk jadi idola. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Di Acopia, mereka punya kesempatan untuk belajar menari, bernyanyi, berpose, apapun yang dibutuhkan untuk menjadi seorang idola K-Pop, termasuk mempelajari bahasa Korea. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Nao Niitsu berusia 19 tahun, seorang penggemar BTS. Ia menjalani sejumlah audisi untuk agensi Korea dalam kunjungannya ke Seoul. Dari 10 audisi, ia diterima oleh lima agensi. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Yuuka Hasumi, 17 tahun, meninggalkan sekolahnya di Jepang untuk terbang ke Korea pada Februari lalu. Ia rela menjalani hidup dengan latihan dan disiplin ekstra ketat, tanpa privasi, pacar maupun ponsel. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Nao Niitsu mengaku mengetahui beratnya menjalani pelatihan jadi idola. Ia tetap tak keberatan tidak memiliki kebebasan melakukan yang diinginkannya. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Yuuka Hasumi sepakat dengan Nao Niitsu. Ia mengaku berat melakoni pilihannya, namun keinginan mempunyai kemampuan setara idola membuatnya teguh.(REUTERS/Kim Hong-Ji)
Nao Niitsu dan Yuuka Hasumi tak hanya berdua. Bersama mereka, ada ratusan remaja Jepang yang memiliki mimpi serupa. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Demi menggapai mimpi jadi idola, gadis-gadis yang mendaftar masuk di Acopia ini harus mengeluarkan dana sekitar $3000 atau setara Rp42 juta. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Rikuya Kawasaki, 16 tahun, bertekad memberi tahu Korea Selatan bahwa Jepang pun memiliki talenta-talenta bagus. Ia gagal dalam audisi untuk Acopia di Tokyo.(REUTERS/Kim Hong-Ji)