Komik Siksa Neraka 'Disiksa' Faktor Ekonomi di Dunia Fana

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 12:30 WIB
Komik Siksa Neraka 'Disiksa' Faktor Ekonomi di Dunia Fana Komik bertema siksa neraka juga mengalami 'penyiksaan' di dunia fana. Pernah mengalami kegemilangan, komik-komik ini tersiksa dengan perlahan-lahan dilupakan. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komik bertema siksa neraka sebenarnya juga mengalami 'penyiksaan' di dunia fana. Pernah gemilang, komik-komik ini tersiksa dengan perlahan-lahan dilupakan.

Setidaknya sejumlah faktor bernuansa ekonomi menjadi 'penyiksa' komik ini mengalami pasang-surut, termasuk faktor produksi, jalur distribusi dan pola konsumsi.

Kembali ke dekade '50-an, komik surga neraka saat itu diproduksi secara independen dengan biaya yang sangat murah. Sampai dekade '80-an, komik jenis ini dijual Rp50-250 per eksemplar, atau setara dengan Rp900-4.500 di masa sekarang.


Harga ini amat murah dibandingkan dengan komik lainnya, sampai-sampai dijuluki komik murah.

Meski murah, harga komik ini sudah memberikan untung bagi penerbit yang kebanyakan independen dan tidak memiliki modal. Mereka terus memproduksi ragam komik surga-neraka walau kadang beberapa komik produksi baru tak punya perbedaan premis dan gambar dengan sebelumnya.


Pendistribusian komik surga-neraka yang secara independen dan tak butuh biaya besar juga menunjang keuntungan para penerbit. Distribusi kerap dikerjakan oleh distributor kecil secara 'bawah tanah', tidak terlihat namun masif dan terstruktur.

Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, kolektor komik Henry Ismono menjelaskan pendistribusian secara bawah tanah sangat efektif pada masa itu. Komik surga-neraka dijual di toko perlengkapan alat salat, lapak-lapak masjid usai salat Jumat, pedagang mainan pikulan di sekolah, pesantren, dan toko buku kecil.

"Jalur distribusi ini sangat pintar. [Komik] surga-neraka paling laku di sekolah karena lebih masuk ke anak-anak. Selain itu, pendistribusian komik ini menghampiri pembaca ke akar rumput. Bukan dihampiri [pembaca]," kata Henry.

Sayangnya, pendistribusian 'bawah tanah' ini membuat total penjualan komik surga-neraka sulit tercatat. Henry sempat bertemu dengan Eroest BP yang merupakan salah satu kreator komik surga-neraka, beberapa tahun lalu.

Kolektor komik Henry Ismono mengoleksi berbagai komik Indonesia sejak 2005. Ia memiliki ribuan judul komik surga-neraka. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)Kolektor komik Henry Ismono mengoleksi berbagai komik Indonesia sejak 2005. Ia memiliki ribuan judul komik surga-neraka. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Menurut Henry, Eroest mengklaim kala bertemu itu bahwa komik surga-neraka sudah terjual ratusan ribu eksemplar. Bila klaim ini benar, angka tersebut tergolong fantastis untuk jenis buku yang diproduksi dengan bujet rendah, distribusi 'bawah tanah', dan tanpa pemasaran bermodal.

Sebagai perbandingan, novel Laskar Pelangi (2005) yang dirilis oleh penerbit resmi dan dipromosikan secara masif, juga dianggap sebagai 'best-seller' tercatat baru mencapai penjualan 600 ribu eksemplar pada 2008. Mengutip Antara, Andrea Hirata mengatakan pada 2013 bahwa sebuah buku di Indonesia sudah bisa disebut laris bila sudah terjual hanya 2.000 eksemplar.

Namun klaim angka penjualan komik surga-neraka mencapai ratusan ribu eksemplar itu bisa saja benar. Mengingat pada dekade '60-80-an menjadi momen keberuntungan bagi komik jenis ini.


Pada medio dekade '60-an, aparat mengadakan razia terhadap komik dari Barat karena dianggap tidak sesuai dengan ideologi negara.

Akan tetapi, komik bertema surga-neraka lolos razia meskipun berisi gambar bugil dan sadis. Apalagi bila tercantum "bacaan Islami untuk Madrasah, SD, dan Umum" di bagian depan atau belakang buku seperti yang hingga saat ini beredar.

Komik agama yang muncul pada dekade 70an, bercerita tentang nabi-nabi Islam dan sejarah Islam.Komik agama yang muncul pada dekade '70-an, bercerita tentang nabi-nabi Islam dan sejarah Islam. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Anggapan "bacaan agamis untuk anak-anak" ini juga keluar dari pengamat seni Hikmat Darmawan. Ia menilai, komik jenis ini bertahan karena dicap sesuai dengan ajaran agama, sedangkan komik dari Barat bertentangan dengan agama di Indonesia. Gambar yang sadis juga tidak dianggap buruk bagi anak-anak karena masih dicap sebagai simbol.

"Waktu itu tidak ada yang mempermasalahkan komik-komik eksploitatif ini secara terorganisir, enggak ada perlindungan hak asasi manusia anak, dan enggak ada organisasi advokasi konsumen. Komik itu sekadar beredar dan dibiarkan saja," kata Hikmat.

Namun keberuntungan itu tak fana. Pada dekade '80-an, mulai bermunculan jaringan toko-toko buku besar, beberapa masih bertahan hingga kini. Secara bertahap, jaringan toko buku ini mengubah pola konsumsi pembaca, dari yang biasa membeli di lapak pindah ke toko gedongan.

Berbeda dengan toko buku lapak, toko buku gedongan ini lebih banyak menjual buku-buku dari penerbit resmi ataupun impor. Hal ini pula yang membuat minat pembaca bergeser.


Alhasil penerbit komik surga-neraka mulai banyak gulung tikar karena tidak penjualan menurun. Fenomena itu bersamaan dengan sejumlah komikus yang 'pensiun'. Sampai akhirnya aspek ekonomi dalam bisnis komik bertema surga-neraka tak lagi layak.

"Tapi yang cetak ulang masih banyak. Sering kali repro saja, sangat jauh dari mutu awal. Kadang sampul dicetak di balik kertas kalender bekas. Produksi itu kan murah sekali," kata Hikmat.

Henry punya pandangan agak berbeda dengan Hikmat. Menurut Henry, komik surga-neraka tetap eksis pada era '80-an. Akan tetapi, kehadiran jaringan toko buku bertepatan dengan penurunan minat pembaca akan komik surga-neraka.

Hal ini pun disebutnya hanya terjadi di sedikit wilayah di Indonesia, seperti di kota besar. Sementara di daerah, terutama di lapak-lapak masjid dan pesantren, distribusi bawah tanah komik-surga neraka masih gencar. Namun lokasi pelosok ini tidak menjadi perhatian sehingga dianggap surut.

Komik Siksa Neraka 'Disiksa' Faktor Ekonomi di Dunia FanaPada 2015, penerbit CV Pustaka Agung Harapan yang bermarkas di Surabaya masih menerbitkan komik surga-neraka dengan gambar berwarna. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
"Saya enggak percaya kalau komik surga-neraka surut pada dekade '80an. Temuan saya di lapangan masih banyak [pada dekade tersebut]," kata Henry.

Henry menilai komik siksa neraka mulai surut ketika memasuki milenium baru. Saat itu, komik dari Jepang alias manga yang masuk ke Indonesia sejak 1988 menjadi tren. Hantaman semakin besar pada era 2010-an, kala komik digital jadi tren dan menyebabkan komik fisik tak lagi jadi pilihan.

Meski begitu, pada era 2010-an masih ada produksi baru komik siksa neraka. Pada 2015, penerbit CV Pustaka Agung Harapan yang bermarkas di Surabaya masih menerbitkan komik surga-neraka dengan gambar berwarna. Henry mengaku memiliki sekitar 10 judul komik tersebut.

"Sampai sekarang komik surga-neraka masih ada walau tidak segencar dulu. Selalu ada. Komik itu selalu memiliki tempat di masyarakat pada setiap era," kata Henry. (adp/end)