Komik Siksa Neraka, Media Dakwah Efektif Hasil 'Tafsir' Agama

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 10:49 WIB
Komik Siksa Neraka, Media Dakwah Efektif Hasil 'Tafsir' Agama Keberadaan komik siksa neraka di tengah masyarakat memang diakui sebagai media dakwah, namun penggambaran akan neraka belum tentu mewakili agama. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beragam pandangan muncul dari alim ulama terkait dengan komik siksa neraka yang pernah beredar di tengah masyarakat. Meski mengakui bahwa komik ini sebagai bagian dari media dakwah, keberadaannya juga mesti dilihat sebatas karya seni dan bukan mutlak mewakili agama.

Komik yang mulai hilang pada pertengahan dekade '90-an dan nyaris punah ketika memasuki milenium baru itu meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya, bahwa ada ajaran agama yang diperkenalkan dengan cara yang tak biasa: gambar penuh siksaan.

Komik itu beredar luas, mulai dari toko buku, pasar, hingga lapak di masjid-masjid dan pengajian, penjual eceran yang berkeliling di bus kota, sampai ke institusi pendidikan agama Islam untuk anak-anak atau Taman Pendidikan Alquran (TPA) di tengah-tengah pemukiman. Mulai dari kota besar seperti Jakarta, hingga ke daerah-daerah di berpenduduk muslim lainnya di Indonesia.


Ketua Bidang Pembinaan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sodikun menilai komik bertema sejenis ini memiliki keefektifan yang besar sebagai media dakwah, asalkan menggunakan referensi yang berasal dari ayat Alquran dan hadis.


"[Penggambaran siksa neraka] Itu boleh-boleh saja dan itu menurut saya itu sangat strategis juga, sangat efektif [sebagai] medium untuk dakwah," kata Sodikun kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Sodikun berpendapat bahwa media apa pun bisa menjadi wadah untuk berdakwah. Apalagi bila menyasar anak-anak untuk menanamkan moral. Dan ia berpendapat, cerita bergambar paling strategis untuk kalangan anak-anak.

Apalagi, keberadaan komik yang hanya sekadar memuat cerita fiksi tanpa nilai-nilai agama terus beredar dan dinilai mampu 'membunuh' waktu anak-anak. Sedangkan komik bermuatan moral semakin jarang.

Komik Siksa Neraka, Media Dakwah Efektif yang BersyaratTerkait dengan konten gambar yang bernuansa kekerasan, Sodikun menilai tidak menjadi masalah selama bertujuan untuk memberikan peringatan kepada pembaca terkait konsekuensi melanggar aturan agama. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
"Istilahnya yang bisa dijadikan pelajaran, pelajaran acuan, pijakan ya itu kan jarang," katanya. "Misalnya banyak orang yang korupsi, banyak orang jual jabatan itu perlu dibuat komik-komik [siksaan] itu [sebagai pelajaran],"

"Kira-kira ya komik-komik itu dengan gambar-gambar yang ironis seperti itu sangat efektif apalagi [pada era] sekarang ini," lanjutnya.

Terkait dengan konten gambar yang bernuansa kekerasan, Sodikun menilai tidak menjadi masalah selama bertujuan untuk memberikan peringatan kepada pembaca terkait konsekuensi melanggar aturan agama.

"Misalnya, kalau seandainya orang-orang berbuat -maaf- ini minum-minuman keras, kemudian dia akhiratnya begitu [disiksa]. Kemudian dia dimasukkan dengan api, memang [yang dijelaskan dalam ajaran agama] itu di sana [neraka] seperti itu," kata Sodikun.


"Jadi memang mengerikan, itu bukannya kekerasan," lanjutnya.

Di sisi lain, Katib Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyebut bahwa melihat komik bertema agama ini mestilah dengan pandangan yang jernih. Meskipun ia mengakui terdapat sejumlah ayat dan hadis yang menggambarkan kengerian neraka.

Dalam Alquran, kengerian neraka dengan siksaan di dalamnya digambarkan melalui sejumlah ayat.

Misalnya pada QS An-Nisa ayat 56, tertulis bahwa "orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab."

Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Meski menampilkan sebagian siksaan yang juga tergambar dalam komik siksa neraka, seperti dituang cairan amat panas dan memakai pakaian dari api, kitab suci tidak menggambarkan secara eksplisit siksaan versi komik lainnya, seperti disetrika atau ditimpuk palu godam berduri.

Sejumlah penggambaran siksaan lain melalui imajinasi para kreator inilah yang mesti disikapi dengan bijaksana bahwa komik siksa neraka tetaplah sebuah interpretasi manusia.

"Kalau digambar menjadi komik dengan imajinasi dari pencipta komiknya, tentu tidak bisa dianggap mutlak mewakili pandangan agama tentang neraka, misalnya. Saya menilainya sebagai karya seni saja dari penciptanya," kata Gus Yahya.

"Sebetulnya agama itu ada sisi memperingatkan, bisa juga jadi bernada menakuti, tapi tidak boleh [ditafsirkan] berlebihan sehingga orang jadi takut dengan agama," katanya.

"Ada memang di hadis, riwayat tentang apa yang ada di neraka nantinya, tapi itu sumber ajaran terbuka untuk ditafsirkan. Sebetulnya juga tidak perlu berlebihan dalam menggambarkan dan mengimajinasikan neraka itu sendiri," lanjutnya.

Salah satu siksaan yang digambarkan dalam komik siksa neraka, dijepit oleh tang raksasa bagi orang yang tak puasa.Salah satu siksaan yang digambarkan dalam komik siksa neraka, dijepit dengan tang raksasa. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Senada dengan Sodikun, Gus Yahya menilai dakwah memang bisa dalam berbagai bentuk. Namun ia menentang bila dakwah tersebut mengandung konten kekerasan, apalagi untuk dilihat anak-anak.

"Kalo misalnya diteliti dan melihat itu tidak layak untuk anak-anak, ya sudah jangan diedarkan ke anak-anak dan jangan dianggap pandangan kalau tidak layak diedarkan untuk anak-anak itu sebagai pendapat melecehkan agama," kata Gus Yahya.

Sehingga, Gus Yahya menilai perlu ada kajian secara pedagogi atau ilmu pendidikan tentang kelayakan komik siksa neraka untuk dibaca oleh masyarakat, khususnya anak-anak. Bila memang terbukti tak layak, maka pemerintah mesti mengatur peredarannya.

"Tapi kalau sebagai karya seni ya sebaiknya jangan dilarang. Tapi kan boleh membatasi peredarannya dari anak-anak di bawah umur, kalau dianggap tidak layak dilihat oleh anak-anak," kata Gus Yahya. "Seperti film 17 tahun ke atas, sama lah prinsipnya." (end)