Mengenang Komik Bertema Siksa Neraka yang Bikin Bergidik

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 08:31 WIB
Mengenang Komik Bertema Siksa Neraka yang Bikin Bergidik Bagi sebagian masyarakat muslim Indonesia, masa kecil mereka pernah ditemani dengan komik-komik bergambar sadis mengisahkan siksa neraka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu pengalaman masa kecil bagi sebagian masyarakat Indonesia yang tumbuh besar pada dekade '70-'90-an adalah membaca komik yang mampu menggerakkan tubuh untuk lebih giat beribadah. Komik-komik itu, dikenal dengan komik siksa neraka.

Komik yang mulai hilang pada pertengahan dekade '90-an dan nyaris punah ketika memasuki milenium baru itu meninggalkan kesan mendalam bagi pembacanya. Ajaran agama diperkenalkan dengan cara yang tak biasa dalam komik itu: melalui gambar penuh siksaan.

Komik itu beredar luas, mulai dari toko buku, pasar, hingga lapak di masjid-masjid dan pengajian, penjual eceran yang berkeliling di bus kota, sampai ke institusi pendidikan agama Islam untuk anak-anak atau Taman Pendidikan Alquran (TPA) di tengah-tengah pemukiman. Mulai dari kota besar seperti Jakarta, hingga ke daerah-daerah lainnya di Indonesia.


Komik bertema siksa neraka itu bertebaran dengan berbagai judul, mulai dari Taman Firdaus, Indahnya Surga Pahitnya Siksa Neraka, Siksa Neraka, Siksa bagi Mereka yang Tidak Puasa, Neraka Hawiyah, hingga Siksa bagi Para Pelacur dan Siksa bagi Tukang Selingkuh. Semuanya berisi penyiksaan.

Bagi yang belum pernah melihatnya dan belum terbayang 'siksaan' dalam buku tersebut, komik-komik itu mampu menampilkan sekumpulan orang di neraka ditombak dari berbagai arah dan target, diikat lalu disiram atau dicelup ke timah cair panas hingga daging mengelupas.


Siksaan belum selesai. Komik itu masih menampilkan banyak tubuh membengkak dan mengeluarkan belatung, ada juga manusia hidup-hidup dipotong oleh golok dan gergaji melayang, serta yang paling ikonis adalah punggung disetrika oleh setrika raksasa melayang mengejar para pendosa.

Semua siksaan itu dilakukan di tempat yang digambarkan sebagai neraka: tandus, gelap, namun penuh kobaran api di mana-mana. Dan para penghuninya, disiksa dalam kondisi bugil.

Berbagai komik dengan gambar yang membuat bergidik itu faktanya bukan muncul tiba-tiba. Mereka merupakan bagian dari sejarah kejayaan komik buatan lokal sekaligus kegemilangan bacaan bertema agama bagi anak-anak.

Alkisah, komik atau cerita bergambar di Indonesia sudah ada sejak dekade 1920-an. Kala itu, sejumlah komik dari Eropa dan Amerika digubah dan diterbitkan oleh koran.

Mengenang Komik Bikin Bergidik Bertema Siksa NerakaTampilan isi komik bertema siksa neraka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Baru pada 1931, sebuah surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu, Sin Po menerbitkan komik lokal bertajuk Put On karya orang lokal keturunan Tionghoa, Kho Wan Gie.

Sejak itu penerbitan komik kian berkembang. Komik terbit melalui surat kabar sampai 1953. Kemudian pada 1954, komik terbit dalam format buku. Sri Asih karya RA Kosasih dan Putri Bintang karya John Lo adalah sejumlah komik yang terbit pada tahun itu.

Masa kegemilangan komik masuk di dekade 1960-an. Banyak komik garapan seniman lokal diproduksi, mulai dari genre silat, romansa, fiksi ilmiah, folklore sampai genre religi atau agama. Pada komik bergenre agama, kisah surga dan neraka menjadi sajian utama.

Komik Taman Firdaus (1958) karya KT Ahmar adalah yang tercatat sebagai komik agama pertama bertema surga dan neraka. Komik itu menceritakan kehidupan dua orang berbeda karakter, Karma dan Saleh. Karma adalah orang yang selalu berbuat dosa sehingga masuk neraka, sedangkan Saleh sebaliknya.


Pengamat seni Hikmat Darmawan menjelaskan Taman Firdaus menjadi gerbang munculnya komik bertema surga-neraka sampai akhirnya komik bergenre agama itu memiliki posisi yang ajek di Indonesia. Bahkan sampai saat ini, meski tak hanya bertema surga-neraka saja.

"Itu hanya menggambarkan [surga dan neraka] berdasarkan hadis, walau kesahihan hadisnya masih perlu dipertanyakan karena banyak sumber bacaan hanya bacaan pesantren umum. Saat itu komik agama menjadi pilihan logis," kata Hikmat saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Taman Firdaus sebagai pionir genre ini menampilkan identitas asli sebagai komik bergenre agama, nyaris setiap gambar atau kisah ditampilkan bersamaan dengan ayat-ayat Alquran sebagai landasan cerita. Ayat-ayat itu dibawakan dengan tulisan Arab bersama artinya.

Pada akhir cerita, ayat ke-107 dari QS. Al-Kahfi dikutip sebagai pengingat bagi manusia untuk berbuat baik dan taat beribadah. "Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal." begitu arti dari QS. Al-Kahfi ayat 107.

Mengenang Komik Bikin Bergidik Bertema Siksa NerakaKomik Taman Firdaus (1958) karya KT Ahmar adalah yang tercatat sebagai komik agama pertama bertema surga dan neraka. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com, sampai awal dekade '60-an komik surga-neraka masih didominasi gambar surga.

Namanya surga, jelas digambarkan indah, nyaman, terdapat apa pun yang diinginkan manusia mulai pakaian sutra hingga hidup nyaman. Sementara itu, porsi gambar neraka yang hanya sedikit direpresentasikan. Jelas isinya ketidaknyamanan, kelam, dan terdapat orang yang disiksa dengan sangat sadis.

Seiring berjalannya waktu, permintaan komik surga-neraka semakin besar. Ada sejumlah alasan permintaan komik agama ini membludak, pertama adalah ukurannya yang tak tebal, hanya sekitar 30-an halaman.

Selain itu, komik jenis ini amat mudah didapat. Harga jualnya pun murah, sekitar Rp25-100 per eksemplar, yang di zaman sekarang setara dengan Rp900-3.500. Dari segi produksi, komik itu juga amat mudah dibuat oleh komikus dan penerbit.

Mengenang Komik Bikin Bergidik Bertema Siksa NerakaBagian dari komik 'Taman Firdaus' (1958). (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Namun seiring dengan popularitas yang menanjak, terjadi pergeseran. Surga tak lagi mendominasi penuturan komik ini. Neraka dengan drama siksaan sadis dan tampilan orang yang bugil ternyata lebih 'gurih' bagi pembaca. Produksi komik bertema siksaan neraka pun meningkat.

Menurut Hikmat, tampilan pada komik neraka itu dikenal sebagai torture porn atau gore porn. Hikmat menilai pergeseran tren itu dilatari fungsi pasar. Pasar lebih menyukai tampilan sadis yang membuat porsi konten siksa neraka menjadi dominan.

"Namanya juga torture porn, jadi kayak orang menikmati pornografi saja, tapi sajiannya sisksaan. [Siksaan yang sadis itu] ada pembenaran nasihat moral, itu siksaan kalau orang tidak mengikuti ajaran agama," kata Hikmat.


Tampilan berbagai siksaan ini nyatanya memberikan pengaruh kepada pembacanya. Seperti yang dialami oleh Tiwi, ibu satu anak yang besar di dekade '90-an dan tinggal di Jakarta. Hingga kini, ia masih mengingat berbagai siksaan itu.

"Iya, jadi takut masuk neraka kalau gue melakukan ini dan itu," kata Tiwi kepada CNNIndonesia.com. "Gue takut mati gue susah, hidup gue susah," lanjutnya. Bahkan ia menyebut, usai membaca komik-komik itu dulu, ia sering membaca ayat-ayat Alquran seperti ayat kursi sebelum tidur.

Pengalaman dari Tiwi ini menegaskan pendapat dosen Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Sandi Jaya Saputra yang menganggap sebagian besar komik siksa neraka kini hanya sekadar menakut-nakuti saja.

"Efeknya orang-orang tidak berzina karena takut penis dipotong, bukan karena memahami agama secara logis mengapa kita tidak boleh berzina. Logisnya suatu dosa tidak diajarkan dengan baik bila menggunakan pendekatan seperti itu," kata Sandi.

Mengenang Komik Bikin Bergidik Bertema Siksa NerakaSejumlah komik bertema siksa neraka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Meski menakutkan, komik siksa neraka ini dipandang Ketua Bidang Pembinaan Seni Budaya Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sodikun memiliki keefektifan yang besar sebagai media dakwah, selama benar berasal dari ayat Alquran dan hadis.

"[penggambaran siksa neraka] Itu boleh-boleh saja dan itu menurut saya itu sangat strategis juga, sangat efektif [sebagai] medium untuk dakwah seperti itu," kata Sodikun.

Di sisi lain, Katib Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyebut bahwa melihat komik bertema agama ini mestilah dengan pandangan yang jernih.

"Kalau digambar menjadi komik dengan imajinasi dari pencipta komiknya, tentu tidak bisa dianggap mutlak mewakili pandangan agama tentang neraka, misalnya. Saya menilainya sebagai karya seni saja dari penciptanya," kaya Gus Yahya.

Terlepas dari berbagai reaksi dan tanggapan akan keberadaan komik siksa neraka ini, fakta bahwa jenis bacaan ini pernah mengisi dua generasi, X dan Y, masyarakat Indonesia dan menjadi salah satu pengendali moral bagi anak-anak.


Kini, CNNIndonesia.com mencoba menelusuri lebih dalam sejarah, kenangan, dampak, hingga pandangan berbagai sisi dari komik yang masih bisa ditemukan di sejumlah lokasi itu dalam fokus Pedihnya Komik Siksa Neraka yang rilis di pekan awal bulan suci Ramadan.

Hal ini dibuat sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah memiliki karya seni yang berdampak besar bagi masyarakatnya, terlepas aspek kepercayaan dan agama yang menjadi keyakinan masing-masing individu. (adp/end)