Komik Siksa Neraka Dinilai Tak Ajarkan Dosa dengan Baik

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 14:20 WIB
Komik Siksa Neraka Dinilai Tak Ajarkan Dosa dengan Baik Komik siksa neraka memang dinilai sukses menakuti sebagian orang, namun secara komunikasi visual, media ini buruk dalam penyampaian pesan dan artistik. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi akademisi komunikasi visual, komik siksa neraka memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya, komik itu sukses menakuti orang-orang. Namun kelemahannya, komik siksa neraka yang banyak beredar di masyarakat buruk secara komunikasi dan artistik.

Dosen Komunikasi Visual Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Sandi Jaya Saputra saat berbincang dengan CNNIndonesia.com menilai komik siksa neraka yang sebagian besar memuat torture porn adalah buruk dari segi visual.

Anatomi tubuh seseorang tidak digambarkan dengan baik karena hanya ingin menampilkan sosok seram, bukan artistik. "Visual komik itu untuk mendeskripsikan apa itu neraka, dangkal. Karena hanya bertujuan menakut-nakuti saja," kata Sandi.


Meski begitu, Sandi mengaku gambar-gambar torture porn yang dibawa komik siksa neraka berhasil menakuti pembaca, termasuk dirinya saat remaja dulu.


Bagi yang belum pernah melihatnya dan belum terbayang 'siksaan' dalam buku tersebut, komik-komik itu mampu menampilkan sekumpulan orang di neraka ditombak dari berbagai arah dan target, diikat lalu disiram atau dicelup ke timah cair panas hingga daging mengelupas.

Siksaan belum selesai. Komik itu masih menampilkan banyak tubuh membengkak dan mengeluarkan belatung, ada juga manusia hidup-hidup dipotong oleh golok dan gergaji melayang, serta yang paling ikonis adalah punggung disetrika oleh setrika raksasa melayang mengejar para pendosa.

Semua siksaan itu dilakukan di tempat yang digambarkan sebagai neraka: tandus, gelap, namun penuh kobaran api di mana-mana. Dan para penghuninya, disiksa dalam kondisi bugil.

Namun ketakutan yang ditebar lewat gambar torture porn agar tidak berbuat dosa nyatanya tidak serta merta berdampak positif. Misalnya siksaan bagi orang yang berzina, dalam komik siksa neraka seringkali mengisahkan pezina menerima siksaan berupa pemotongan alat kemaluan sampai ditusuk dengan paku.

Tampilan siksaan di neraka ditayangkan di sampul demi memikat pembaca.Tampilan siksaan di neraka ditayangkan di sampul demi memikat pembaca. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
"Efeknya orang-orang tidak berzina karena takut penis dipotong, bukan karena memahami agama secara logis mengapa kita tidak boleh berzina. Logisnya suatu dosa tidak diajarkan dengan baik bila menggunakan pendekatan seperti itu," kata Sandi.

Menurut Sandi, 'keburukan' komik siksa neraka nyatanya belum selesai dengan redupnya komik itu dari peredaran. Pengaruhnya masih ada, bahkan pada karya seni lainnya. Salah satunya, tayangan serial televisi alias sinetron tentang siksa kubur.

Salah satu yang dicontohkan oleh Sandi adalah kisah azab yang diterima jenazah orang jahat dan sempat viral beberapa waktu lalu. Kisah itu menceritakan jenazah mandor jahat tercemplung ke alat pengaduk semen setelah mental akibat gerobak pembawa mayat ditabrak mobil.

"Sinetron itu secara visual buruk, sinematografi juga buruk, bagaimana jenazah bisa mental sejauh itu sampai masuk cor-an? Tapi itu populer, saya rasa ini salah satu akibat komik surga neraka tanpa disadari," kata Sandi.


Sandi menjelaskan komik surga-neraka membuat pembaca tidak bisa menikmati karya seni yang artistik. Pada akhirnya, komik jenis ini hanya mengajarkan pembaca untuk menerima saja, bukan mengajarkan berpikir dengan baik apalagi kritis.

Hal ini, menurut Sandi, berbeda dengan puisi naratif legendaris bertajuk Divine Comedy karya Dante Alighieri pada 1308-1320. Karya satra itu bercerita tentang neraka yang bisa dinikmati secara artistik dan membuat pembaca mengolahnya secara nalar.

Serial Divine Comedy yang aslinya berbahasa Italia terbagi dalam tiga babak, Inferno atau bermakna neraka, Purgatorio atau penyucian, serta Paradiso atau surgawi.

Ketiganya dibuat berdasarkan pengajaran agama terkait kehidupan usai kematian. Karya sastra ini tercatat dibuat berdasarkan pengajaran Gereja akan kehidupan setelah kematian.

Komik siksa neraka yang banyak beredar kini dipandang tak artistik.Komik siksa neraka yang banyak beredar kini dipandang tak artistik. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Namun akademisi Spanyol dan pastur Katolik Miguel Asin Palacios pada 1919 menyebut bahwa ada kesamaan antara karya Dante dengan kisah isra Mikraj Nabi Muhammad yang dituturkan kitab al-Miraj buatan Abu'l-Qasim 'Abdalkarim bin Hawazin bin 'Abdalmalik bin Talhah bin Muhammad al-Qushairi al-Nisaburi (986-1072 M). Kitab ini disebut menginspirasi Dante membuat Divine Comedy.

Kisah isra Mikraj Nabi Muhammad mengunjungi surga dan neraka ini pula yang menjadi landasan sebagian besar cerita komik surga-neraka hingga saat kini.

Dalam karya Inferno, Dante menggambarkan neraka dan siksaan yang diterima penghuninya secara sastrawi. "...mereka memiliki wajah yang dipelintir ke paha dan memaksa mereka berjalan mundur, karena mereka tak bisa memandang ke depan. ...dan karena ingin melihat ke depan, ia melihat ke belakang dan berjalan mundur.." tulis Dante dalam sebuah sajak menggambar kondisi penghuni neraka.

Narasi dari Dante ini pula yang menginspirasi pelukis Antonio Manetti (1423-1497) membuat ilustrasi dari Inferno yang kemudian menginspirasi penulis Dan Brown membuat novel serial kriminal Robert Langdon, Inferno (2013).


"Dante bicara surga dan neraka dengan cara sastrawi. Berangkat dari sastra yang baik, menghasilkan imajinasi dari karya yang baik, menjadi karya yang dan dan output mendidik masyarakat dengan baik," kata Sandi. (adp/end)