Trauma yang Tertinggal usai Membaca Komik Siksa Neraka

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 12/05/2019 18:21 WIB
Trauma yang Tertinggal usai Membaca Komik Siksa Neraka Tak sedikit pembaca komik siksa neraka mengalami trauma. Menurut psikolog hal itu karena ketidaksesuaian kemampuan anak-anak dengan pesan buku ini. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah toko buku di dekat perempatan Senen, Jakarta Pusat di suatu siang terik nan gerah bulan April 2019, sepi pembeli. Hanya ada dua perempuan usia kurang dari 20 tahun yang menjaga toko saling mengobrol sembari sesekali mengipaskan kertas berusaha menghilangkan panas.

"Komik siksa neraka? Tidak ada," kata salah satu dari mereka saat CNNIndonesia.com bertanya apakah mereka menjual komik siksa neraka yang legendaris bagi masyarakat yang tumbuh besar di dekade '70-90-an, atau kini berusia 24 tahun ke atas.

Merasa sangsi, kami pun memutuskan menelusuri rak-rak di toko yang juga tercatat sebagai salah satu dari penerbit komik siksa neraka yang tersisa kini. Hasilnya, sejumlah tumpukan komik siksa neraka masih tersimpan rapi dalam rak-rak berisi puluhan hingga ratusan judul buku bernuansa pendidikan agama Islam.


Buku komik siksa neraka terbitan Sandro Jaya Jakarta itu masih dalam kondisi bagus. Jelas, karena buku-buku itu cetakan ulang, entah yang ke berapa kali karena tak tercantum di buku dan pihak penerbit pun tak jua merespons permintaan wawancara dengan CNNIndonesia.com.


Per eksemplar, buku itu dijual seharga Rp5 ribu dan kami membeli sejumlah judul yang ternyata isinya mirip-mirip. Harga komik itu masih tergolong murah, karena harga bisa melonjak menjadi Rp25 ribu bila dibeli di tukang buku bekas di Terminal Bus Pasar Senen atau di pedagang buku yang berseliweran antar bus Metro Mini.

Komik siksa neraka, meskipun kini nyaris tak dikenal oleh generasi Z atau pos-milenial, adalah bukti kejayaan komik buatan lokal yang mampu meninggalkan bekas mendalam bagi pembacanya.

Kesan yang tertinggal bukan hanya karena cerita yang mengajarkan untuk berbuat kebaikan dan taat beribadah, melainkan juga kenangan buruk akan sadisnya gambar yang ada di dalam komik itu.

Sejumlah buku komik siksa neraka terbitan Sandro Jaya Jakarta.Sejumlah buku komik siksa neraka terbitan Sandro Jaya Jakarta. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Tiwi, ibu satu anak yang tinggal di Jakarta, masih ingat jelas akan kesadisan gambar komik siksa neraka. Saat berbincang dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu, wanita 27 tahun itu bahkan mengaku amat terpengaruh akan komik tersebut sampai terbawa mimpi.

"Iya, jadi takut masuk neraka kalau gue melakukan ini dan itu. Gue takut mati gue susah, hidup gue susah," lanjutnya. Bahkan ia menyebut, usai membaca komik-komik itu dulu, ia sering membaca ayat-ayat Alquran seperti ayat kursi sebelum tidur. Kebiasaan itu masih ia lakukan hingga kini.

Awalnya, kala masih bocah, Tiwi hanya mengetahui soal siksaan neraka dari ustaz tempatnya mengaji. Namun ketika pamannya membawa komik itu, dia pun penasaran dan membacanya.

"Gue sampai mimpi [habis baca komik siksa neraka]," kata Tiwi mengenang masa dirinya duduk sekolah dasar dan bermimpi bertemu penghuni neraka seperti di dalam komik. "Gue kan pas SD puasanya sering bolong-bolong, pas baca itu gue takut."


"Bahkan kalau adik gue enggak mau salat, gue yang menangis. Kalau dia enggak mau belajar, gue yang menangis. Gue takut Allah enggak suka sama adik gue. Padahal adik gue enggak belajar ya ibu gue biasa saja,"

Pengalaman Tiwi serupa tapi tak sama dengan Ria. Wanita lajang yang berusia tak jauh berbeda dengan Tiwi itu bahkan mengaku mendapatkan komik siksa neraka dari tempat pengajian Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang ia ikuti saat masih bocah.

Penggalan ayat-ayat Alquran dan firman Allah pada komik surga neraka generasi awal.Penggalan ayat-ayat Alquran dan firman Allah pada komik surga neraka generasi awal. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)
Ria yang ikut TPA sejak usia 3 tahun mengaku setiap pekan selalu diberikan komik tersebut oleh pengajar agamanya. Tujuannya, untuk menjadi bahan bacaannya dia dan teman-temannya yang masih cilik.

"Seingat gue dibagikan, tapi enggak dibawa pulang. Yang gue ingat guru ngaji bilang kalau ngomongin orang lidahnya dipotong, terus tumbuh lagi. Begitu terus sampai dosanya habis," kata Ria.

"Habis [baca komik siksa neraka] itu, gue enggak lagi ngomongin orang," kata Ria sembari tertawa. "Tapi pas sudah keluar TPA dan beranjak remaja, gue lupa begitu saja. Ya tetap saja ngomongin orang,"

Berbeda lagi dengan Sari. Wanita 28 tahun ini menyebut bahwa komik siksa neraka tak terlalu terpengaruh dengan dirinya. Ia memang menyebut sempat bergidik, namun tak sampai membuat dia trauma apalagi mendadak religius.


"Merinding saja sih. Ada yang berubah, tapi lebih ke kelakuan bukan ke salat," kata Sari.

"Lebih seram [majalah] Hidayah daripada komik siksa neraka," kata Sari merujuk majalah Islami yang terbit pada era 2000-an dan berisi berbagai kisah yang terjadi pada sebagian masyarakat Muslim, termasuk yang kerap disebut 'azab'.

"Ceritanya lebih dekat ke kehidupan. Rasanya nyata banget. Terus gambarnya yang menyerupai asli jadi makin nyeremin."

Kapok Sebelum Mencoba

Indikasi trauma yang ditunjukkan Tiwi dan pembaca siksa komik neraka lainnya dijelaskan oleh psikolog Vierra Adella sebagai akibat dari pendampingan yang minim oleh orang dewasa, dalam hal ini orang tua.

"Bisa jadi [trauma]. Penting orang tua untuk mendampingi, karena mereka [pembaca anak-anak] kan masih putus-putus tuh [memahami] apa yang dia baca dengan [penerapannya dalam] perilaku sehari-hari," kata Vierra saat berbincang dengan CNNIndonesia.com dalam kesempatan terpisah.

Psikolog menyarankan orang dewasa mesti memberikan pendampingan kala anak membaca komik siksa neraka.Psikolog menyarankan orang dewasa mesti memberikan pendampingan kala anak membaca komik siksa neraka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
"Bisa jadi buat anak yang sangat sensitif atau punya kemampuan mengolah emosional kurang baik, jadi amat masuk ke dalam emosi tanpa diolah lebih lanjut di otaknya," lanjutnya.

Terkait dengan alasan pengajaran agama dan moral kepada anak-anak yang kental pada keberadaan komik ini, Vierra lebih menganjurkan pengajaran moral dan agama dalam bentuk diskusi alih-alih menakut-nakuti.

Hal ini penting dilakukan karena menurut Vierra, anak di bawah 12 tahun belum bisa memaknai konsep abstrak seperti surga-neraka karena kapasitas otak mereka masih bersifat realistis.

"Cara yang efektif itu di umur tertentu diajak diskusi, jangan dibiarkan memaknai sendiri. Bisa keliru anak-anak. Akhirnya tadi, bisa terlalu memaknainya akhirnya rasa takutnya yang menguasai," katanya.


Berdasarkan ilmu psikologi, kata Vierra, perkembangan moral seseorang selalu beriringan dengan perkembangan kognitif. Dan seorang anak baru bisa memahami hal abstrak seperti keyakinan macam surga dan neraka ketika ia sudah melewati usia 12 tahun, atau yang dipahami sebagai kisaran momen akil balig.

Dengan kata lain, bila seorang anak di bawah usia tersebut yang sebagian besar duduk di usia sekolah dasar dikisahkan cerita penyiksaan berupa disetrika di neraka, mereka akan memahaminya secara mentah-mentah.

Trauma yang Tertinggal Usai Membaca Komik Siksa NerakaMenurut psikolog, bila seorang anak di bawah usia yang duduk di usia sekolah dasar dikisahkan cerita penyiksaan berupa disetrika di neraka, mereka akan memahaminya secara mentah-mentah. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Selain itu, Vierra setuju akan anggapan trauma yang muncul dari membaca komik siksa neraka ini berpotensi membuat anak-anak berpaham menjalani agama karena takut akan ancaman siksaan di neraka, alih-alih menjadi seseorang dengan perilaku terpuji.

"Jadinya, ini efek kapok sebelum mengetahui lebih banyak. Akhirnya enggak berani mencoba apapun. Ada konsep anak tidaklah salah atau berdosa sebelum akil balig, itu karena saat akil balig adalah momen anak mulai bisa berpikir panjang," papar Vierra.

"Makanya [saat akil balig], anak [diyakini secara agama Islam] sudah menanggung dosa [sendiri] karena dia sudah mengerti dampak dari perbuatannya. Dia bisa mengerem dirinya sendiri. Misal dia berteman dengan anak nakal, dia bisa memilih untuk ikut atau tidak," lanjutnya.


"Dosa kan ada di mana-mana, nah sekarang bagaimana mengajarkan anak untuk mengolah, memilih untuk tidak terlibat. Itulah fungsi berpikir, fungsi akal," kata Vierra.

Terkait dengan pendidikan moral melalui komik, Vierra mengaku tak masalah. Menurutnya, metode pengajaran secara visual lebih disukai oleh anak-anak. Namun Vierra menekankan pentingnya orang tua dan orang dewasa mengajarkan perilaku dan prosesnya alih-alih tujuan akhir yang didapat.

"Jangan konsekuensinya dulu, tapi bagaimana ke sananya ? Kalau mau dapat hadiah di akhir seperti kemenangan sejati berupa surga harus melakukan apa? Misalnya hormat dengan orang tua, menolong sesama, itu [harusnya] yang dibuat komik menurut saya. Itu lebih cocok daripada menakut-nakuti tapi enggak mengerti bagaimana cara menghindari atau mendapatkannya," kata Vierra. (end)