Itu karena ritual Kolano Uci Sabea tak lagi dilakukan sejak Sultan Mudjafar Sjah wafat.
"Sejak wafatnya Sultan Mudjafar Sjah kami tidak lagi menyaksikan ritual tradisi Kolano Uci Sabea, padahal ritual itu selalu dinantikan masyarakat saat Bulan Suci Ramadan," kata salah seorang warga adat Kesultanan Ternate Ramli di Ternate, dikutip dari Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ritual Kolano Uci Sabea dilaksanakan empat kali dalam setahun, tiga di antaranya saat Ramadan. Di luar bulan puasa, tradisi itu dilakukan saat Hari Raya Idul Adha.
Biasanya, ritual yang konon sudah ada di Kesultanan Ternate sejak ratusan tahun silam itu dilaksanakan pada malam ke-15 Ramadan, malam Lailatul Qadar dan Hari Raya Idul Fitri.
Kembali ke kedaton, sultan bersama permaisuri menerima ucapan selamat. Tak sesederhana itu, lebih dulu digelar ritual pembacaan doa untuk keselamatan sultan dan daerah setempat.
Kesultanan Ternate sebenarnya sudah mengangkat seorang pelaksana, Syarifuddin Sjah untuk menggantikan Mudjafar Sjah. Namun ia masih ditolak oleh perangkat adat. Ia pun dianggap tak bisa menjalani ritual Kolano Uci Sabea karena jabatan 'pelaksana Sultan' tak dikenal.
Sejak ratusan tahun lalu, tak ada 'pelaksana Sultan' dalam sisten pemerintahan kesultanan.
Budayawan di Maluku Utara, Syahrir Muhammad pun berharap para perangkat adat di Kesultanan Ternate duduk bersama menyatukan komitmen segera memilih sultan pengganti Mudjafar Sjah.
[Gambas:Video CNN]
Sebab tak ada sultan di Ternate bisa berarti tradisi Kolano Uci Sabea tak lestari. (antara/rsa)