China Khawatirkan Dampak 'Demam' K-Pop

Tim, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 15:14 WIB
China Khawatirkan Dampak 'Demam' K-Pop China disebut khawatir dengan dampak gelombang K-Pop terhadap remaja di negara mereka. (REUTERS/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rupanya tak main-main bila menyebut BTS punya pengaruh amat besar, yang juga terjadi di luar Korea. Boyband populer itu dikatakan berhasil mengembangkan kebudayaan Korea secara keseluruhan.

Beberapa tahun lalu, China menetapkan larangan terhadap apapun yang berbau Korea. Maka sejak 2016, tidak ada konser, film maupun pesohor Korea di China. Keputusan itu keluar sebagai tanggapan atas perselisihan dengan ditempatkannya Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan.

Tiba-tiba, agen-agen travel China berhenti menjual Korea. Ritel-ritel Korea raksasa ditangguhkan karena pelanggaran keselamatan kebakaran, menyusul acara-acara televisi Korea pun menghilang dari layar. Respons ini disebut Bloomberg menekan pertumbuhan negara-negara yang lebih kecil dari China sebanyak 0,4 persen tahun itu.


Pencekalan tersebut dikatakan cukup berdampak terhadap industri hiburan Korea. Tiga agensi raksasa, YG Entertainment, SM Entertainment dan JYP Entertainment kehilangan salah satu kantong pendapatan, seiring dengan bintang-bintang idola yang tidak memperoleh pemberitaan di China. Sebelumnya, industri musik Korea mendapatkan $98 juta dari penjualan di China saja, membuat Negeri Ginseng itu menjadi pasar terbesar kedua setelah Jepang.


Larangan itu lantas dicabut di awal 2017 dan kini kondisinya disebut telah lebih tenang. Sejak akhir tahun 2018 lalu, penggemar K-Pop di China sudah bisa menonton konser dan histeris melihat idola dalam jumpa fan.

Sebagai salah satu jagoan Korsel, BTS turut menyebarkan demam K-Pop. Tak butuh waktu lama sampai genre tersebut kembali mewabah. Kini, timbul kekhawatiran baru terkait penampilan para member boyband khas Korea. Ditakutkan, mereka memberi nilai berbeda di label maskulinitas.

Seperti yang terlihat, member BTS memang amat bergaya. Mereka mewarnai rambut, memakai pakaian rancangan desainer, mengenakan aksesoris seperti anting dan akrab dengan kosmetik. The South China Morning Post menuliskan bahwa pemerintah China menyebut para idol tersebut sebagai 'sissy pants'.

Mereka juga mengatakan, budaya 'sakit' ini sebagai 'kemerosotan' yang bisa mengancam masa depan bangsa.

Gaya 'manis' menjadi kekhawatiran pemerintah China dengan kembali masuknya K-Pop ke negara itu. (Big Hit Entertainment)

Sebenarnya, fenomena pria berdandan bukanlah hal baru, apalagi dalam industri musik. David Bowie juga memakai kosmetik, pula Elvis Presley yang selalu tampil 'dandy'. Presley bahkan punya gerakan tari tertentu yang pada 1950-an di AS dianggap sebagai penampilan vulgar, menyerupai binatang. Sebuah gereja Katolik menulis artikel dengan peringatan besar-besar, "Waspadai Elvis Presley".

Kembali lagi ke China yang saat ini sedang waswas dengan 'serangan' K-Pop, sementara para pelaku industri lebih banyak menunggu dan mengamati.

"Orang mulai bersiap-siap. Ada banyak sekali uang di sana [China]," kata Archie Hamilton, direktur pelaksana perusahaan promosi musik yang berbasis di China, Split Works.

"K-Pop adalah pop internasional di Asia. Perusahaan-perusahaan China secara aktif menyetujui kesepakatan eksklusif dan berinvestasi di perusahaan musik. Itu menjadi bukti meningkatnya kepercayaan di pasar," kata Bernie Cho.


Perusahaan tempat Cho bekerja, disebut sebagai penyedia layanan label untuk ratusan pesohor Korea, ia tampak paham apa yang dibicarakannya. Apalagi, musisi menghasilkan lebih banyak uang saat tur dibanding dari hasil penjualan album.

Sejauh ini, BTS sendiri dilaporkan belum mendapat izin untuk pentas di China. Karenanya, mereka lantas memilih menjelajah AS dan Eropa dulu.

"Banyak artis Korea yang ingin tur di China. Pasarnya benar-benar besar, terlalu besar," kata Jordan Corse, seorang agen promotor Modern Sky Entertainment yang berbasis di Beijing.

Jepang sendiri sudah dilanda demam K-Pop. Reuters pernah menulis betapa gadis-gadis Jepang meninggalkan sekolah di kampung halaman untuk menjalani audisi menjadi seorang idol. Sekalipun demi pendidikan itu mereka harus merogoh ribuan dolar dan melepas kebebasan individu termasuk untuk punya pacar dan memegang ponsel pribadi.

[Gambas:Video CNN] (rea)