1001 'Kebohongan' tentang 'Aladdin'

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 25/05/2019 11:26 WIB
1001 'Kebohongan' tentang 'Aladdin' Asal-usul Aladdin kini terungkap. Ia tidak sungguh berasal dari Timur Tengah. (dok. IMDB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah Aladdin kerap disebut sebagai salah satu cerita asli dari Timur Tengah berdasarkan Dongeng 1001 Malam. Perkara asal-usul kisah itu kemudian sempat menimbulkan kontroversi ketika produksi film versi live-action digaungkan. Aktor dan aktris yang memainkan karakter dalam film tersebut dituntut jadi representatif Timur Tengah.

Penetapan Naomi Scott sebagai Putri Jasmine diprotes karena bukan keturunan Arab, melainkan Inggris dan India.

Padahal, di balik itu sebenarnya kisah Aladdin sendiri tidak sepenuhnya berasal dari Timur Tengah. Aladdin pertama kali muncul memang dalam Dongeng 1001 Malam, kumpulan cerita rakyat Timur Tengah dari zaman keemasan Islam (abad ke-8 dan ke-13), yang pertama kali diterjemahkan ke Bahasa Inggris dan diberi judul 'Arabian Nights', lebih dari 400 tahun kemudian.


Namun, kisah-kisah itu bukan hanya berasal dari Arab saja, tetapi juga berakar pada cerita rakyat dan sastra dari Persia, Mesopotamia, India, Yahudi, serta Mesir.


Dan untuk cerita 'Aladdin's Wonderful Lamp' sendiri, sebelumnya tak menjadi bagian Dongeng 1001 Malam hingga penerjemah asal Perancis Antoine Galland menambahkannya pada 1710. Menurut buku harian Galland, ia telah mendengar cerita Aladdin dari seorang sarjana asal Suriah di Aleppo - tetapi tidak ada yang benar-benar mampu untuk menemukan sumber bahasa Arab asli untuk kisah itu.

Mengutip Screen Rant, kisah hasil pengembangan Galland itu tidak diatur berlokasi di Timur tengah, melainkan berlatar di sebuah kota di China. Aladdin pun sebenarnya bukan anak yatim piatu, tetapi ia merupakan bocah asal China yang miskin dan tinggal bersama ibunya di Maghribi, Afrika Utara, tempat penyihir berasal.

Asumsi yang membuat kisah ini kemudian disebut berasal dari Timur Tengah lahir karena nama-nama karakter seperti Putri Badroulbadour, yang kemudian diubah menjadi Jasmine, memiliki arti 'bulan purnama dari bulan purnama' dalam bahasa Arab. Penggunaan kata Sultan pun tak mencerminkan pemimpin di China yang kerap dikenal sebagai Kaisar.

Selain itu, karakter-karakter lain secara dominan disebut menyampaikan dialog sebagai cermin orang Muslim hingga lagi-lagi membuat kisahnya kemudian dianggap berasal dari Arab. Meski demikian, di waktu yang sama di China sendiri telah ada peradaban Muslim, di mana Suku Hui yang berawal dari Jalur Perdagangan Sutra adalah yang paling terkenal.

Kehadiran Naomi Scott dalam 'Aladdin' versi terbaru sempat timbulkan kontroversi. (dok. Disney)

Karena itu, cerita Galland kemudian diindikasi merupakan tradisi Orientalis dari pendongeng Barat yang menggabungkan ragam budaya dari Timur menjadi satu.

"Aladdin, yang saat ini kebanyakan orang kaitkan dengan Persia dan Timur Tengah karena film-film seperti The Thief of Bagdad (1924) dan Disney's Aladdin (1992) merupakan salah satu produksi abad ke-19 yang populer yang diatur di China karena romantisnya, alur cerita moralistik serta potensinya sebagai tontonan," ujar penulis Krystyn R. Moon di Yellowface: Creating the Chinese in American Popular Music and Performance.

"Komposer dan pustakawan kadang-kadang memilih Persia sebagai latar kisah ini karena Seribu Satu Malam berasal dari wilayah dunia itu dan, seperti China, [Persia] adalah ruang imajinatif yang populer bagi orang Amerika serta Eropa," tambahnya.


Dalam film animasi, Aladdin diceritakan tinggal di Baghdad, sebuah kota terkemuka selama Zaman Keemasan Islam. Namun, karena keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Teluk pertama, yang baru berakhir setahun sebelum produksi film membuat Disney memutuskan untuk menempatkannya di sebuah kota fiksi Agrabah.

Agrabah terletak di tepi Sungai Yordan, sementara lanskap dan arsitektur istana nyata memiliki pengaruh India dan Persia, seperti halnya pakaian para karakter. Bila merujuk pada keragaman asal-usul Aladdin ini sendiri, memang tak ada salahnya untuk juga melakukan hal yang sama pada versi film live-action. Salah satunya lewat penetapan Naomi Scott serta Will Smith yang sempat dianggap tak merepresentasikan karakter masing-masing.

[Gambas:Video CNN] (agn/rea)