Ulasan Film: 'Hit & Run'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 07/06/2019 15:50 WIB
Ulasan Film: 'Hit & Run' Joe Taslim bermain dalam 'Hit & Run.' (Dok. Screenplay Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- Usaha sutradara Ody C. Harahap menyuguhkan film laga komedi bertajuk Hit & Run rasanya kurang berhasil. Dari sisi komedi, konflik maupun logika cerita, seperti tidak dimatangkan dengan serius. Hanya ada beberapa aksi laga dan adegannya yang mampu mencuri perhatian.

Hit & Run adalah film tentang polisi selebriti bernama Tegar Saputra (diperankan oleh Joe Taslim) yang ke mana-mana selalu diikuti kamera demi kebutuhan acara reality show-nya sendiri, Hit & Run. Ya, namanya juga digunakan untuk judul film.

Suatu hari, Tegar ditugaskan untuk menangkap Coki (Yayan Ruhian), seorang gembong narkoba yang baru kabur dari penjara. Sayangnya, di misi kali ini Tegar yang terbiasa beraksi sendirian kini harus berusaha menyelesaikan misinya bersama Lio (Chandra Liow).



Masalahnya, Lio adalah seorang tukang tipu. Tak ayal, Tegar pun kesulitan.

Namun ia tak hanya 'terjebak' bersama Lio. Seiring perjalanan misinya, Tegar juga bertemu dengan Meisa (Tatjana Saphira), seorang penyanyi dangdut, serta bocah ABG Jefri (Jefri Nichol). Mereka pun bersatu menjadi satu tim untuk menangkap Coki.

Kekurangan film ini telah terlihat sejak adegan pembuka, saat Coki berusaha kabur dari penjara. Ia dibantu anak buahnya yang merobohkan dinding penjara menggunakan alat berat.

Alih-alih keren, celah Coki untuk kabur terasa tidak masuk akal. Gerak polisi dalam mencegah pelarian tersebut pun terlihat begitu lambat. Apalagi, efek yang digunakan terlihat kasar sehingga kurang menyuguhkan gambaran nyata.


Dengan kondisi yang digambarkan di Hit & Run, seharusnya Coki tak bisa lolos begitu saja.

Selain itu, poin utama yang membuat film ini jauh dari kata menghibur adalah unsur komedinya. Tak ada yang istimewa atau memicu gelak tawa dari adegan demi adegan yang disuguhkan, terutama yang melibatkan Chandra Liow dan Joe Taslim di hampir separuh awal film.

Karakter Chandra Liow yang amat berisik dihadapkan dengan karakter Joe yang masih terasa kaku dengan peran ini, membuat mereka seperti tak punya chemistry.

Peran mereka memang bertolak belakang. Yang satu polisi sementara yang satu lagi tukang tipu atau penjahat kelas teri. Namun, saat pada akhirnya mereka bersatu sebagai teman, tak ditunjukkan ada pembangunan karakter atau chemistry yang baik di antara keduanya.


Kehadiran Tatjana sebagai penyanyi dangdut di film ini pun terasa hanya sebagai pemanis. Ia yang tampil dengan celoteh-celoteh bak Syahrini tak berpengaruh untuk menambah sisi komedi. Drama antara dirinya dengan karakter Joe pun kurang maksimal.

Di sisi lain, karakter Yayan Ruhiyan sebagai penjahat kurang dibangun. Ia tak terlihat bengis, malah terasa membosankan. Padahal Yayan sudah pernah berakting untuk beberapa film Hollywood, bahkan ikut mengincar Keanu Reeves dalam John Wick: Chapter 3 - Parabellum.

Hanya karakter yang dimainkan Jefri Nichol yang terlihat cukup menarik. Ia seolah ingin keluar dari citra pemeran karakter-karakter 'bad boy' seperti di film-filmnya sebelum ini. Sayangnya, ia hanya diberi sedikit porsi dalam film ini.

Mungkin akan terasa lebih menarik, bila sejak awal empat karakter ini dibuat bersatu, dengan ragam latar belakang yang dimiliki. Hit & Run juga bisa lebih apik jika dijauhkan dari kata konyol yang justru membuat penonton mengernyitkan dahi dan tak betah di bioskop.


Kalau pun ingin menyuguhkan komedi, sebaiknya tak menggunakan model slapstick yang dalam film ini sama sekali tidak berhasil. Sebab dalam film ini, komedi yang disuguhkan justru dengan menjatuhkan atau mencela kekurangan karakter lain, yang sangat disayangkan.

Dari segi cerita, Hit & Run pun masih punya banyak kekurangan, terutama soal konflik yang dibangun. Pembangunan konflik itu, bahkan latar belakangnya, tak dijelaskan dengan klir. Penonton juga tidak dibuat punya ikatan untuk memahami masalah dalam film ini.

Apalagi, kisah dalam film ini seperti diakhiri tidak sejalan dengan apa yang sudah disampaikan pada awalnya. Contohnya, di awal film jelas terdengar dialog kepala polisi meminta Tegar Coki. Namun di akhir, karakter kepala polisi itu berkata, "Ini alasan saya kenapa sejak awal tak mau kau terlibat." Dua adegan itu jelas tidak sinkron.

[Gambas:Youtube]

Ada pula karakter yang seolah ingin dijadikan 'plot twist,' tapi justru membuat film ini kian meninggalkan banyak kejanggalan pada ceritanya.

Secara keseluruhan Hit & Run jauh dari kata hiburan yang dapat dinikmati. Film ini terasa membosankan dan seolah bermain-main dengan titah 'komedi'. (agn/rsa)