Music at Newsroom

Rayssa Dynta, Sarjana Gizi yang Pilih Jadi Musisi

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/06/2019 19:00 WIB
Rayssa Dynta, Sarjana Gizi yang Pilih Jadi Musisi Rayssa Dynta punya titel Sarjana Gizi, meski kini memutuskan menjadi musisi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Rayssa Dynta makin dipandang setelah merilis album mini bertajuk Prolog pada 2008. Dari Prolog ia mendapatkan tiga nominasi Anugerah Musik Indonesia 2018: Pendatang Baru Terbaik, Album Terbaik dan Artis Solo Wanita R&B Terbaik.

Meski baru 'diakui' pada 2008 itu, kehidupan Rayssa dekat dengan musik sejak kecil. Ia tumbuh dengan alunan piano klasik sang nenek, yang membuatnya ikut tertarik memainkannya, meski tidak berakhir sebagai pianis.

"Gue enggak pernah seserius itu les piano. Enggak pernah menyelesaikan, jadi setengah-setengah gitu kalau les," kata Rayssa kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Bukan hanya piano, Rayssa juga sempat menulis lagu pada usia dua tahun. Rayssa mengingat kegiatan itu karena ibunya sering mendokumentasikan kegiatannya saat kecil.


Berdasarkan dokumentasi ibundanya, Rayssa membuat lagu ketika sedang mengadakan pentas bersama sepupu di rumahnya. Lagu itu bercerita tentang berkebun, terinspirasi dari kegiatan berkebun bersama kakeknya setiap akhir pekan.

"Waktu itu spontan aja sih. Yang lumayan serius gue menulis lagu itu ketika SMP [2007-2010]. Sekolah gue ada proyek bikin drama dan harus ada soundtrack dan itu gue yang mengerjakan."

Masa putih birunya di SMP Al Azhar, Pondok Labu, Jakarta Selatan itulah yang kemudian menjadi jalan Rayssa untuk menjadi musisi. Ia sempat membuat band dengan tujuan senang-senang belaka, menyanyikan ulang karya musisi lain.

Rayssa berperan sebagai vokalis dalam band itu.


Meski menjadi perempuan satu-satunya di dalam band, ia 'menaklukkan' panggung demi panggung. Bermusik pun kian menyenangkan. Sampai setelah lulus SMP, Rayssa tetap tampil bersama band-nya itu. Jalan mulus pun berpihak padanya.

Rayssa berkolaborasi dengan Artificial, yang lagunya diproduser oleh Arrio dari label rekaman Double Deer. Arrio yang tertarik dengan suara Rayssa langsung mengajaknya bekerja sama. Dari sana, semua semakin lancar. Rayssa mengaku terlibat di banyak proyek meski tak sejalan dengan kuliahnya.

"Saat itu gue sambil kuliah di Jurusan Gizi Universitas Indonesia," kata Rayssa menjelaskan.

Pada 2016 Rayssa semakin aktif menulis dan merekam lagu, diproduseri Arrio yang mengenalkannya dengan musik elektronik. Proses itu menjadi alasan mengapa lagu-lagu Rayssa bergenre pop elektronik, walau sebenarnya ia lebih suka mendengarkan genre pop seperti karya Frank Sinatra dan Nat King Cole.


"Awal dengerin musik elektronik tuh gue norak banget. Gue mikir lagu sekompleks itu bisa dibikin cuma pakai komputer doang. Terus dari situ udah mulai tertarik, dan di Indonesia masih jarang," kata Rayssa bercerita.

Rayssa lulus dari kuliahnya pada 2017. Ia kemudian bekerja di salah satu perusahaan yang memproduksi obat, namun hanya bertahan selama satu bulan karena merasa tidak nyaman. Sejak itu ia menjadi sepenuhnya musisi, sampai kini.

Musik elektronik pop Rayssa Dynta dan cerita hidupnya bisa disaksikan secara streaming dalam acara Music At Newsroom CNNIndonesia.com, Selasa (25/6) pukul 14.00 sampai 15.00 WIB. (adp/rsa)