Kejayaan Didi Kempot 'Lahir Kembali' di Luar Bidikan Kamera

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 27/07/2019 13:59 WIB
Kejayaan Didi Kempot 'Lahir Kembali' di Luar Bidikan Kamera Didi Kempot memiliki kisah kejayaan dari satu panggung ke panggung lainnya, dari satu kampung ke kampung lainnya, meski jarang muncul di depan kamera. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Minggu 9 Juni 2019. Malam di tanggal itu, Didi Kempot tampil seperti biasanya, di sebuah pentas panggung di sudut kota Solo, Jawa Tengah.

Tak ada yang spesial. Acara itu sama seperti permintaan manggung di acara hajatan atau sunatan lainnya, meski spanduk di atas panggung bertengger nama sejumlah perusahaan dan media.

Didi Kempot tetaplah Didi Kempot. Ia datang seperti biasanya, kemeja batik lengan panjang, rambut gondrong rapi disisir ke belakang dan dibalut minyak rambut lalu dikuncir kuda. Tak lupa, gelombang rambutnya yang alami jadi ciri khas.


Kata orang, tampilan Didi Kempot itu 'Jamet' alias Jawa Metal. Tapi lirik dan senandungnya, sanggup bikin penggemarnya yang menyebut diri sebagai 'sadboi' dan 'sadgerls' mewek sesengukan.

Namun Didi tak akan pernah menyangka, pertunjukannya di panggung di sudut kota Solo yang belum tentu dikenal seluruh masyarakat Indonesia itu akan membawanya ke popularitas yang menarik media-media nasional mencari dirinya.

Semua karena sejumlah kicauan para sadboi dan sadgerls yang merekam aksi Didi di atas panggung itu. Kicauan-kicauan itu viral. Apalagi ditambah video reaksi penggemarnya yang 'totalitas' menghayati lagu lirih dari Didi Kempot.

Padahal, Didi juga tak sampai se-melankolis itu membawakannya di atas panggung.

Lagu yang dinyanyikan Didi dalam video viral itu adalah Cidro, sebuah lagu yang dibuat adik dari mendiang Mamiek Prakoso itu pada 30 tahun lalu.

Lagu itu dibuat dengan sederhana. Mengandung lirik lirih karena mengisahkan cinta tak berbalas, namun tak meledak sama sekali saat itu. Lagu itu kalah dengan 'Kalau Bulan Bisa Ngomong' milik Doel Sumbang.

Namun entah kenapa generasi milenial justru lebih bisa galau karena lagu itu dibandingkan 30 tahun lalu ketika Didi Kempot merilisnya pertama kali.

"Tidak bisa bikin lagu-lagu jenaka seperti itu, makanya Cidro enggak jadi jagoan [saat itu]," kata Didi saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu di Solo, Jawa Tengah.
Kejayaan Didi Kempot 'Lahir Kembali' di Luar Bidikan KameraDidi Kempot memiliki kisah kejayaan dari satu panggung ke panggung lainnya, dari satu kampung ke kampung lainnya, meski jarang muncul di depan kamera. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
"Tapi sekarang malah naik. Makanya kalau saya ketemu anak-anak muda sekarang, mimpi saya berhasil. Lagu ini kalau dari 1989 itu sudah berapa [umurnya]? Sudah 30 tahun usia lagu itu," kata Didi, sembari menikmati rokoknya yang tak pernah lepas dari tangan lebih dari semenit.

Didi juga heran mengapa kini dirinya bisa mendadak terkenal. Apalagi, tawaran manggung datang bak air bah. Jadwal untuk bertemu Didi tergolong susah bukan kepalang.

Tak jarang, ia harus meladeni lebih dari satu media sekaligus dalam satu hari seperti yang sempat terjadi saat bertemu dengan CNNIndonesia.com.

Kini, berbagai julukan harus 'terpaksa' Didi terima. Contohnya adalah 'Bapak Loro Ati Nasional' atau 'Bapak Patah Hati Nasional', 'Godfather of Broken Heart', atau 'Lord' Didi Kempot. Semua julukan itu berasal dari para penggemarnya.

"Untuk pribadi, nama Didi Kempot seperti terlahir kembali," kata Didi, teringat berbagai tingkah para penggemarnya yang 'khatam' dan otomatis bernyanyi saat ia tampil di atas panggung.

"Mereka memperkenalkan Didi Kempot ke dunia dengan media sosial itu. Makanya saya terima kasih. Anak-anak muda itu saya anggap benteng budaya juga, karena mereka masih mau menerima lagu-lagu semacam itu," kata Didi.

Didi wajar merasa terlahir kembali. Dulu, ketika internet belum lahir, apalagi Twitter dan Instagram, Didi berjuang manggung dari panggung hajatan ke panggung lainnya. Tak ada kicauan viral yang mempromosikan Didi, hanya dari mulut ke mulut para penggemarnya.

Penggemar Didi memang sudah seloyal itu sejak berdekade silam. Mereka memang tak datang bergerombol dengan menyewa bus, apalagi dengan atribut bendera bertuliskan "Fans Club", namun mereka baru terlihat masif saat Didi bernyanyi di satu tempat. Hal itu terlihat dari berbagai video yang kini tersedia di internet.

Didi ingat betul, dulu sekitar 2000-an, ia mesti bernyanyi di sebuah daerah lokalisasi di Semarang. Ia datang atas permintaan penggemarnya.

"Ada orang datang ngomong 'mas Didi tolong anak saya baru mau sunat kalau mas Didi dateng [untuk bernyanyi]," kata Didi. Dan benar, anak itu akhirnya mau dikhitan diiringi lagu sendu dari Didi Kempot dan nada kecrekan para pengamen.

[Gambas:Youtube]

Didi Kempot sejatinya tak pernah mematok harga khusus. Ia mengaku pernah dibayar Rp750 ribu, yang sampai saat ini jadi nominal terendah. Namun ia tak pernah patah arang. Ia punya prinsip: "suatu saat pasti aku akan dapat lebih dari ini".

Prinsip Didi itu jadi kenyataan belasan tahun kemudian. Kini, setidaknya sampai saat ini, Didi Kempot akan tampil di berbagai festival musik 'kece' mulai dari festival musik indie yang digemari anak muda di Jakarta hingga jazz berlabel internasional.

Pada akhir Juni lalu, Didi baru bernyanyi diiringi orkestra yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.

Sebelum berbincang dengan CNNIndonesia.com di Solo pun, Didi sehari sebelumnya bernyanyi di Yogyakarta dan setelah berbincang pun ia dijadwalkan bernyanyi di sejumlah daerah lainnya di Indonesia. Jadwal Didi sungguh padat.

"Sekarang saya anggap Didi Kempot terlahir kembali. Casing-nya yang beda. Panggungnya beda," kata Didi mantap.

'Lord' Didi pun semakin memantapkan posisinya dengan sering mengunggah jadwal manggung ke media sosial. Didi baru memiliki Instagram pada 2016 dan kini ikut meramaikan jagat Twit-land sejak Juni lalu. Baru sebentar 'ngeksis', Didi sudah diikuti 60 ribu pengikut di Twitter dan 46 ribu pengikut di Instagram.
Kejayaan Didi Kempot 'Lahir Kembali' di Luar Bidikan KameraKini, setidaknya sampai saat ini, Didi Kempot akan tampil di berbagai festival musik 'kece' mulai dari festival musik indie yang digemari anak muda di Jakarta hingga jazz berlabel internasional. (dok. Didi Kempot Official)
Didi Kempot sebelumnya tak pernah terpikir untuk memiliki akun media sosial sebelumnya. Ia bahkan cenderung memilih untuk tidak mengabarkan di mana ia akan tampil.

Bukan tanpa alasan, ia mengaku banyak tampil di acara hajatan yang bersifat undangan sehingga akan menyulitkan penggemarnya yang bukan undangan untuk ikut menikmati nyanyian Didi.

Padahal, Didi tergolong 'laris manis' untuk urusan manggung di kampung. "Tak pernah turun," katanya ketika ditanya soal momen "sepi job".

Mungkin alasan "tak pernah" sepi 'job' dari seorang Didi Kempot adalah sifatnya yang memang suka dengan hal baru. Ia menyebut, peluang lebar yang kini terbuka untuknya tak akan ia sia-siakan meskipun harus bolak-balik ke berbagai kota untuk "belajar".

"Usia boleh tua. Tapi karya kita harus muda terus. Mengikuti. Kalau kita bisa melahirkan karya pasti muda terus. Yang dibutuhkan kan karyanya." kata 'Lord' Didi Kempot lalu mengisap rokoknya dalam-dalam, siang itu.

[Gambas:Youtube] (adp/end)