Review Film: 'Stuber'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Rabu, 31/07/2019 18:43 WIB
Review Film: 'Stuber' 'Stuber' menampilkan komposisi komedi dengan laga yang pas, dan cocok bagi Anda yang ingin menonton dan tertawa tanpa pikir panjang. (Dok. 20th Century Fox via imdb.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Pas" adalah kata paling tepat untuk menggambarkan film Stuber yang bergenre komedi laga. Komposisi unsur laga dan komedi dalam film ini tidak kurang dan tak berlebihan sehingga melengkapi dan saling terkait.

Stuber bercerita tentang seorang detektif bernama Vic Manning (Dave Bautista) yang bertugas memburu penjahat bernama Tedjo (Iko Uwais). Misi itu tidak mudah karena Vic baru selesai operasi mata sehingga penglihatannya tidak sempurna.

Mau tak mau ia harus datang ke berbagai tempat untuk menyelidiki Tedjo dengan taksi online. Sampai akhirnya ia memesan Uber yang dikendarai oleh pria bernama Stu (Kumail Nanjiani).


Adegan laga dan komedi yang sesungguhnya dimulai sejak pertemuan Vic dan Stu. Vic tergesa-gesa ingin menangkap Tedjo sehingga meminta Stu mengebut. Sementara itu, Stu tak ingin mobilnya rusak sehingga menyetir dengan hati-hati.

Bukan hanya sekali, hampir setiap saat Vic dan Stu berdebat dalam berbagai hal. Stu hampir selalu kalah berdebat sehingga menuruti perintah Vic, seperti ketika ia diminta untuk menjaga salah satu penjahat yang diborgol dalam mobil.

Vic memberikan pistol berukuran kecil kepada Stu untuk berjaga-jaga bila penjahat tersebut melawan. Seketika Stu tidak sengaja menembakkan pistol ke arah kaki penjahat tersebut sehingga pendarahan.

Ekspresi Stu yang panik dan ketakutan dipastikan akan membuat tertawa. Bahkan pada beberapa saat ia terlihat seperti anak kecil yang hendak menangis dan tak tahu harus berbuat apa.
Review Film: 'Stuber'Stuber bercerita tentang seorang detektif bernama Vic Manning (Dave Bautista) yang bertugas memburu penjahat bernama Tedjo (Iko Uwais). (Dok. 20th Century Fox via imdb.com)
Adegan komedi laga yang tak kalah menarik dengan adegan di atas adalah ketika Vic dan Stu terjebak dalam suatu ruangan. Saat bersembunyi, Stu memutuskan menggunakan telepon di ruangan tersebut untuk meminta bantuan.

Alih-alih datang bantuan, telepon itu ternyata tersambung pada pengeras suara di seluruh ruangan. Hingga akhirnya Tedjo mengetahui mereka berdua masih ada dalam ruangan tersebut dan segera mengejar.

Semua adegan komedi dan laga dalam film ini benar-benar melengkapi satu sama lain. Adegan laga tidak menutupi adegan komedi, begitu pula sebaliknya. Naskah yang ditulis Tripper Clancy nampak matang dan dieksekusi dengan baik oleh sutradara Michael Fose.

Bila diperhatikan, kunci komedi dari film ini adalah sifat Vic dan Stu yang sangat bertolak belakang. Vic memiliki sifat temperamen, sementara Stu memiliki sifat ramah dan penyabar. Tentu juga karena kualitas akting Bautista dan Nanjiani yang mumpuni.

Dari segi laga, baku hantam jarak dekat dengan tangan kosong juga menarik karena dipersiapkan dengan baik. Tim Iko Uwais telah membuat koreografer yang disesuaikan dengan postur tubuh aktor.

Adegan laga paling menarik adalah ketika Tedjo berhadapan dengan Vic. Tedjo yang memiliki postur lebih kecil ketimbang Vic bisa memberikan perlawanan sehingga alur baku hantam tidak terbaca.

Film ini bisa menjadi pilihan bila ingin tertawa tanpa harus berpikir panjang. Stuber sudah sejak pekan lalu dan dapat disaksikan di berbagai jaringan bioskop di Indonesia.

[Gambas:Youtube] (end)