Banyak hal yang akhirnya dilakukan masyarakat mulai dari tetap berdiam di rumah ditemani dengan lilin atau lampu darurat hingga 'mengungsi' ke pusat perbelanjaan.
Perfilman Jepang pernah mengangkat fenomena tersebut ke layar lebar dua tahun lalu dalam Survival Family. Film ini dibuat Shinobu Yaguchi setelah melihat gempa bumi, tsunami serta kebocoran reaktor nuklir di Jepang pada 2011.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga Suzuki digambarkan Yaguchi sebagai keluarga Jepang yang sibuk dengan urusan masing-masing di kehidupan sehari-hari. Sang ayah tidur-tiduran di depan televisi, sementara ibu sibuk dengan urusan dapur dan si anak yang tak bisa lepas dari gawai.
Permasalahan bermula ketika Tokyo mengalami mati listrik. Ibu kota Jepang yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya itu jadi ricuh dan berantakan karena pemadaman listrik berkepanjangan.
[Gambas:Youtube]
Keluarga Suzuki pun terkena imbasnya. Terlebih, sarana transportasi umum tak berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga mereka harus mengendarai kendaraan pribadi, bahkan berjalan kaki untuk sampai ke sekolah dan kantor.
Perkantoran dan sekolah kemudian mulai diliburkan. Ketika di rumah, karena tak banyak yang bisa dikerjakan dalam kegelapan, keluarga Suzuki menikmati keindahan langit yang tampak cemerlang karena listrik mati. Hal yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Sepeda juga menjadi transportasi yang bisa digunakan karena sarana lain tak berfungsi. Berbekal uang, makanan serta minuman seadanya, Suzuki mengajak keluarganya untuk keluar dari Tokyo.
Mereka berencana pindah ke Kagoshima, 850 mil dari Tokyo, dengan mengandalkan kertas peta. Perjuangan pun semakin terasa di sepanjang perjalanan mereka selama 108 hari.
Film ini menunjukkan hal-hal yang terpenting dalam kehidupan namun kerap diabaikan seiring dengan perkembangan teknologi. Survival Family yang berdurasi 117 menit ini bergenre komedi sci-fi.
[Gambas:Video CNN] (chri/rea)