"Meletakkan pewangi di bilik akan memberi sedikit rasa senang. Anak lelaki saya ada di sini. Satu lagi (anak lelaki) di Vietnam (untuk berperang)," ujarnya sembari memegangi pembersih toilet.
"Saya senang melakukan hal ini," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Woodstock adalah kesempatan melarikan diri dari kenyataan yang melelahkan, serta membagikan pesan persatuan dan perdamaian.
Foto: Art Aigner/The Museum at Bethel Woods/Via REUTERS |
Para orang-orang tua tersenyum mendengar tawa dan kegembiraan itu. Seorang pria berkata dengan bersemangat dalam film dokumenter bertitel sama yang keluar pada 1970, "Saya pikir acara ini bagus. Anak-anak muda ini tertawa. Mereka sudah kehilangan banyak hal. (Kini) mereka menjadi diri mereka sendiri."
Bagi sebagian orang, Woodstock adalah perayaan kaum hippies. Hippies lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dan kondisi saat itu. Dengan rambut panjang tergerai, pakaian berwarna-warni, mengusung banyak cinta dan kebebasan, hippies hanya menginginkan perdamaian. Mereka menilai Perang Vietnam sebagai kejatuhan demokrasi AS.
Dari demo-demo damai di jalanan, para hippies berbondong-bondong pindah ke Bethel, New York untuk menikmati kebebasan dan kehidupan dekat alam yang diimpikan. Terlebih, Woodstock memiliki nama-nama besar sebagai penampil.
Tewasnya Martin Luther King pada April 1969 membuat kondisi sosial AS berkecamuk. Hal ini turut mendorong Woodstock menjadi bagian sejarah. (REUTERS/Moneta Sleet Jr/Johnson Publishing Co./Ebony Collection/Handout) |
History mengatakan sekitar 186 ribu tiket terjual sebelum akhir pekan. Pihak penyelenggara, yang diinisiasi oleh empat pemuda berusia di bawah 27 tahun, berpikir Woodstock hanya akan didatangi sekitar 200 ribu orang. Entah bagaimana, mereka gagal membangun loket tiket sesuai rencana sehingga pengunjung menjebol pagar sebelum hari Jumat itu berakhir.
Seakan kondisi belum cukup kacau, beberapa artis seperti Janis Joplin dan band The Grateful Dead menuntut pelunasan honor sebelum mereka naik panggung. Musisi lain melipatgandakan permintaan honor. Akibatnya, salah satu penyelenggara harus mencairkan Dana Amanah-nya.
Ketika Woodstock berakhir, penyelenggara menanggung utang jutaan dolar.
Ketika penduduk di provinsi Sullivan mendengar hal ini, mereka mendonasikan 10 ribu roti lapis, minuman botol, potongan buah, dan makanan kaleng yang dengan dukungan kepolisian setempat, diterbangkan menggunakan helikopter militer.
Sebuah artikel menyebutkan tren hippies menurun secara sosial setelah Woodstock selesai. Orang menganggap Woodstock adalah puncak perlawanan, di mana segala hal yang diyakini para hippies terwujud: perdamaian, musik, dan keharmonisan hidup. Menjelang akhir 1970-an, situasi jadi lebih lega ketika kompromi mulai terjalin antara kaum revolusioner dan pemerintah yang konservatif.
Kehidupan tidak banyak berubah setelah akhir pekan bersejarah tersebut usai. Perang Vietnam masih berlanjut, juga rasisme terhadap kulit hitam. Namun Woodstock seperti menghembuskan napas baru yang dibutuhkan masyarakat: harapan untuk perdamaian.
[Gambas:Video CNN] (rea)
Foto: Art Aigner/The Museum at Bethel Woods/Via REUTERS
Tewasnya Martin Luther King pada April 1969 membuat kondisi sosial AS berkecamuk. Hal ini turut mendorong Woodstock menjadi bagian sejarah. (REUTERS/Moneta Sleet Jr/Johnson Publishing Co./Ebony Collection/Handout)