Woodstock 1969: Festival Musik yang Mengubah Amerika

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 14:19 WIB
Woodstock 1969: Festival Musik yang Mengubah Amerika Woodstock 1969 bukan sekadar festival musik. Ia adalah ajang yang mempengaruhi Amerika Serikat baik secara budaya maupun politik. (Foto: APTN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak diketahui namanya, tetapi pria itu sudah tua. Kamera amatir merekamnya sedang membersihkan toilet portabel di dalam bilik, mengisi tisu gulungan, dan meletakkan semacam kapur barus kecil.

"Meletakkan pewangi di bilik akan memberi sedikit rasa senang. Anak lelaki saya ada di sini. Satu lagi (anak lelaki) di Vietnam (untuk berperang)," ujarnya sembari memegangi pembersih toilet.

"Saya senang melakukan hal ini," katanya.


Pria itu baru saja membersihkan bilik-bilik toilet di festival musik Woodstock. Video diambil di festival bertajuk an Aquarian Exposition: 3 Days of Peace & Music, pesta musik yang masuk dalam daftar 50 Moments That Changed the History of Rock and Roll milik Rolling Stone (2004). Pada 2017, lokasi penyelenggaraan Woodstock bahkan terdaftar dalam National Register of Historic Places.

Kembali ke tahun 1960-an, Amerika Serikat tidak dalam kondisi baik. Konflik dengan Vietnam, yang berakhir menjadi perang berlarut-larut membuat tegang masyarakat. Mereka takut dan sedih. Dipenuhi kemarahan dan kebencian. Keluarga-keluarga kehilangan anak dan kakak di medan pertempuran.

Pada 1969, AS telah mengalami banyak hal sejak awal tahun. Di bulan April, Martin Luther King terbunuh. Dua bulan kemudian, menyusul senator Robert F. Kennedy dari klan keluarga politikus Kennedy. Di jalanan dan di kampus, suasana makin tidak aman. Di bulan Juli, Perang Vietnam memanas. Gerakan yang memperjuangkan hak-hak sipil, termasuk warga kulit hitam, semakin berani bersuara dalam periode kerusuhan dan gelombang protes.

Woodstock adalah kesempatan melarikan diri dari kenyataan yang melelahkan, serta membagikan pesan persatuan dan perdamaian.

Woodstock 1969: Festival Musik yang Mengubah AmerikaFoto: Art Aigner/The Museum at Bethel Woods/Via REUTERS
Maka di pertengahan bulan Agustus, 400 sampai 500 ribu orang bernyanyi, menari dan mabuk di lapangan berumput luas. Mereka tak menyadari tengah menjadi bagian sejarah. Saat itu sempat hujan deras, memaksa mereka berkubang dalam lumpur dan bertelanjang kaki. Mereka kotor, kekurangan air bersih dan bahan makanan, tetapi berbahagia.

Para orang-orang tua tersenyum mendengar tawa dan kegembiraan itu. Seorang pria berkata dengan bersemangat dalam film dokumenter bertitel sama yang keluar pada 1970, "Saya pikir acara ini bagus. Anak-anak muda ini tertawa. Mereka sudah kehilangan banyak hal. (Kini) mereka menjadi diri mereka sendiri."

Bagi sebagian orang, Woodstock adalah perayaan kaum hippies. Hippies lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah dan kondisi saat itu. Dengan rambut panjang tergerai, pakaian berwarna-warni, mengusung banyak cinta dan kebebasan, hippies hanya menginginkan perdamaian. Mereka menilai Perang Vietnam sebagai kejatuhan demokrasi AS.

Dari demo-demo damai di jalanan, para hippies berbondong-bondong pindah ke Bethel, New York untuk menikmati kebebasan dan kehidupan dekat alam yang diimpikan. Terlebih, Woodstock memiliki nama-nama besar sebagai penampil.
Woodstock 1969: Festival Musik yang Mengubah AmerikaTewasnya Martin Luther King pada April 1969 membuat kondisi sosial AS berkecamuk. Hal ini turut mendorong Woodstock menjadi bagian sejarah. (REUTERS/Moneta Sleet Jr/Johnson Publishing Co./Ebony Collection/Handout)
Ada Janis Joplin, simbol para hippies. Ada Jimi Hendrix, yang menyayatkan The Stars Spangled Banner, lagu kebangsaan AS melalui senar gitarnya di sela penampilan di panggung Woodstock-aksi itu masih dianggap luar biasa sampai sekarang. Ada The Who. The Grateful Dead. Santana. 32 nama dalam tiga hari, nyaris 96 jam sebenarnya, karena cuaca buruk yang beberapa kali menunda pertunjukan.

History mengatakan sekitar 186 ribu tiket terjual sebelum akhir pekan. Pihak penyelenggara, yang diinisiasi oleh empat pemuda berusia di bawah 27 tahun, berpikir Woodstock hanya akan didatangi sekitar 200 ribu orang. Entah bagaimana, mereka gagal membangun loket tiket sesuai rencana sehingga pengunjung menjebol pagar sebelum hari Jumat itu berakhir.

Seakan kondisi belum cukup kacau, beberapa artis seperti Janis Joplin dan band The Grateful Dead menuntut pelunasan honor sebelum mereka naik panggung. Musisi lain melipatgandakan permintaan honor. Akibatnya, salah satu penyelenggara harus mencairkan Dana Amanah-nya.

Ketika Woodstock berakhir, penyelenggara menanggung utang jutaan dolar.

Smithsonian Magazine menulis Woodstock kesulitan makanan sejak hari pertama. Aliran pengunjung terlalu deras hingga makanan yang telah disediakan tak mencukupi. Outlet penjual burger dan hot dog dibakar oleh orang-orang yang tak sabar mengantri. Pembawa acara berteriak dari atas panggung, meminta mereka yang memiliki makanan untuk berbagi.

Ketika penduduk di provinsi Sullivan mendengar hal ini, mereka mendonasikan 10 ribu roti lapis, minuman botol, potongan buah, dan makanan kaleng yang dengan dukungan kepolisian setempat, diterbangkan menggunakan helikopter militer.

Sebuah artikel menyebutkan tren hippies menurun secara sosial setelah Woodstock selesai. Orang menganggap Woodstock adalah puncak perlawanan, di mana segala hal yang diyakini para hippies terwujud: perdamaian, musik, dan keharmonisan hidup. Menjelang akhir 1970-an, situasi jadi lebih lega ketika kompromi mulai terjalin antara kaum revolusioner dan pemerintah yang konservatif.

Kehidupan tidak banyak berubah setelah akhir pekan bersejarah tersebut usai. Perang Vietnam masih berlanjut, juga rasisme terhadap kulit hitam. Namun Woodstock seperti menghembuskan napas baru yang dibutuhkan masyarakat: harapan untuk perdamaian.

[Gambas:Video CNN] (rea)