Review Film: 'Dora and the Lost City of Gold'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 23/08/2019 18:50 WIB
Review Film: 'Dora and the Lost City of Gold' Film 'Dora and The Lost City of Gold' menjadi kisah adaptasi yang mudah ditebak dan tidak memiliki kejutan. (dok. Paramount Players/Paramount Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dora the Explorer sempat menemani dan menghibur anak-anak Indonesia lewat kartun petualangan bergaya interaktif pada awal 2000-an. Bagaimana dia bersama kera peliharaannya, Boots, gemar menjelajahi hutan, memecahkan ragam teka-teki, melawan rubah pencuri, hingga berkawan dengan para binatang.

Tak luput, ransel ungu berisi ragam peralatan penuh manfaat, lengkap dengan peta yang memandunya saat bertualang.

Kini, seiring berjalan waktu, Dora dikisahkan telah tumbuh sebagai remaja berusia 16 tahun, seorang pelajar yang duduk di bangku SMA.


Sekilas gambaran itu menjadi awal cerita sang bocah dengan potongan rambut 'bob' yang kemudian diadaptasi dalam film petualangan berjudul Dora and the Lost City of Gold.

Film yang berada di bawah arahan James Bobin, sebelumnya menggarap film versi live-action Alice Through the Looking Glass dan The Muppets, ini disuguhkan sebagaimana Dora yang dikenal melalui serial kartunnya. Referensi yang digunakan Bobin pun banyak mengambil dari sumber yang sama.

Tokoh Boots, Swiper sang pencuri, kostum 'wajib' Dora berupa kaus warna ungu dan celana pendek oranye, ikut menjadi bagian. Lagu tema Dora the Explorer pun masih mengiring untuk membangkitkan nostalgia.

Dora dikisahkan menghabiskan sebagian besar usia dengan tinggal di hutan bersama kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai penjelajah. Di masa kecil, ia gemar berimajinasi bersama sepupunya Diego untuk bertualang menembus hutan belantara.

Namun, keduanya lantas tumbuh terpisah. Menginjak remaja, Dora (diperankan Isabela Moner) masih dengan dunia imajinasi tentang petualangan dan mendapatkan bimbingan pendidikan hanya dari orang tua, sedangkan Diego (Jeff Wahlberg) tumbuh di kota sebagai remaja yang mengikuti sekolah konvensional.
Review Film: 'Dora and the Lost City of Gold'Dalam versi live-action ini, Dora masih bersahabat dengan Boots, kera peliharaannya. (dok Paramount Pic)
Dora yang tumbuh dewasa di hutan terpaksa pindah ke kota karena ayah dan ibunya, Cole (Michael Pena) dan Elena (Eva Longoria) ingin memecahkan misteri kota emas yang hilang. Kota tersebut bernama Parapata. Oleh orang tuanya, Dora dititipkan untuk tinggal bersama Diego dan bersekolah di sekolah umum. Ia harus belajar berinteraksi dengan dunia luar.

Alur demi alur cukup mudah ditebak. Dari sorot mata Diego, terlihat kedatangan Dora ke kota bagai sebuah petaka. Dia malu dengan sikap Dora yang masih membawa kebiasaan selama tinggal di hutan, hal yang kemudian dianggap norak dan berbeda oleh anak-anak seusianya. Kedatangan Dora pun membuat Diego dijauhi teman-teman.

Suatu kali dalam wisata sekolah ke museum, Dora, Diego, dan dua kawan yang juga dijauhi, Sammy (Madeleine Madden) serta Randy (Nicholas Coombe) mendapat tugas mencatat berbagai barang kuno yang tersimpan. Tugas itu ternyata membuat mereka diculik oleh sekelompok orang dan dibawa ke negara lain.

Tiba-tiba, seorang pria bernama Alejandro datang dan mengaku sebagai teman orang tua Dora. Ia membantu Dora dan kawan-kawan melarikan diri. Namun di perjalanan, Alejandro mengatakan orang tua Dora telah hilang dan bahwa sekelompok tentara mencari mereka agar bisa masuk ke Parapata untuk mencuri harta karun. 

Petualangan Dora di hutan bebas yang pertama pun dimulai. 
Review Film: 'Dora and the Lost City of Gold'Dora yang tadinya dianggap norak oleh teman-teman sekolahnya terbawa dalam sebuah petualangan yang cukup membingungkan. (dok Paramount Pic)
Dengan target penonton semua umur, film Dora yang banyak mengambil referensi dari kartunnya memiliki ritme tak jauh berbeda.

Dora masih gemar bernyanyi, berbicara di depan kamera seolah penonton ikut langsung ke dalam petualangannya, hingga terjebak dalam rintangan demi rintangan. Beberapa kawan Dora seperti Benny si Sapi pun muncul sebagai kameo.

Cukup menarik, meski di satu sisi film ini juga lepas secara logika petualangan di dunia nyata.

Bobin seolah hanya memindahkan petualangan di kartun tanpa memikirkan relevansi. Seperti rubah yang bisa berbicara dan menjadi tangan kanan manusia, kemudian petualangan berhari-hari tanpa terlihat kelaparan, dan rintangan demi rintangan yang dapat diselesaikan dengan mudah.

Konflik yang terjadi pun tidak begitu intens. Alur cerita mudah ditebak. Begitu juga dengan karakter baik dan jahat.

Di sisi lain, patut diapresiasi bagaimana karakter Dora menularkan sikap positif. Di balik keceriaannya, dia digambarkan memiliki hati yang tak melulu berani dan aktif menghadapi hal apapun.

Setidaknya, meski sisi itu ditampilkan dalam porsi sedikit, gambaran tersebut cukup menunjukkan sisi manusia dari karakter Dora. Nilai-nilai kebajikan pun cukup dominan dihadirkan dalam Dora and The Lost City of Gold, sehingga menjadikan film ini layak untuk disaksikan siapapun.

[Gambas:Video CNN] (agn/rea)