Potret Nyata Ketimpangan Sosial dalam Film 'Gundala'

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 31/08/2019 15:16 WIB
Potret Nyata Ketimpangan Sosial dalam Film 'Gundala' Sutradara Joko Anwar memilih menempatkan gambaran kesenjangan sosial dan egosentris sebagai latar cerita film 'Gundala'. (screenshot via First Look Film Gundala)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film Gundala akhirnya secara resmi dirilis pada 29 Agustus 2019. Film yang diadaptasi dari komik karya Hasmi ini telah dikembangkan sang sutradara Joko Anwar sejak dua tahun silam, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pembuka seri film bertajuk Jagat Sinema Bumilangit.

Lewat film Gundala, Joko tidak hanya sekadar menampilkan sisi patriotisme yang hadir melalui sang karakter utama. Tapi ia juga berusaha menampilkan realita yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia.

Di samping itu, unsur tentang keluarga juga masih menjadi salah satu nilai utama yang diusung. Ini yang menjadi salah satu alasannya memasukkan karakter anak sebagai bagian berbagai filmnya, termasuk Gundala. Ia mengatakan dirinya sering mempertanyakan soal keberadaan anak dalam sebuah keluarga.


"Kalau orang tua enggak bisa menjamin anaknya bahagia, kenapa harus punya anak? Dia enggak minta dilahirkan tapi kita enggak bisa memberikan kebahagiaan. Jadi itu tema yang sangat konsisten dari film pertama sampai terakhir, menurut saya," ujar Joko.

Ia menegaskan, sebuah karya harus memiliki nilai personal.

"Jadi pertama, film itu harus personal. Jadi saya bikin film ini personal buat saya, yang menurut saya harus diceritakan itu apa. Kami buat karakter ini relevan dengan Indonesia sekarang. Kalau kita punya tokoh Gundala yang besar [namanya], semua orang kenal, tapi kalau enggak kita gunakan untuk menyuarakan apa yang terjadi di Indonesia kan sayang banget," kata Joko kepada sejumlah awak media di Gala Premiere Gundala di Jakarta, Rabu (28/8).

Demi mencapai keinginan itu, Joko mencoba menonjolkan kesenjangan yang kerap terjadi antara si miskin dan si kaya. Ia menyadari betul perbedaan kondisi Indonesia dengan negara-negara di belahan dunia lain, sehingga memilih mengangkat hal yang nyata.

"Salah satu yang sedang kentara banget di Indonesia kan itu [kesenjangan], kita masukkan yang lagi real. Kita enggak bisa [bikin] yang kayak Marvel lawan alien. Jadi gimana caranya supaya ini penting, kita bikin berisi apa yang ada di masyarakat Indonesia sekarang," tambah sutradara yang juga menggarap Pengabdi Setan itu.

Bagi Joko, cara tersebut menjadi upayanya mewujudkan harapan kreator Gundala, Hasmi saat menciptakan karakter Sancaka dalam komik. Ia meyakini Hasmi sendiri menyimpan banyak pertanyaan tentang kondisi sosial negara.

Potret Nyata Kesenjangan Sosial dalam Film 'Gundala' Sutradara Joko Anwar meyakini kreator Gundala, Hasmi, juga memiliki pendapat kritik sosial yang coba dituangkan lewat goresan pena. (dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures)
"Pak Hasmi dan bapak yang bikin tokoh jagoan ini, mereka ingin bersuara, saya yakin. Tapi zaman dulu kan tidak bebas seperti sekarang, jadi mereka pake [gaya] satir, sindiran dan komedi. Di masa sekarang ini, kita punya kesempatan untuk bersuara lebih bebas. Kalau enggak kita suarakan, kita mengkhianati kebebasan itu," tegas Joko.

Sebagai salah satu orang di balik konsep Jagat Sinema Bumilangit, Joko berpendapat sekarang adalah momen tepat untuk bersuara tentang kesenjangan yang terjadi di Indonesia.

"Orang Indonesia itu sekarang dari top sampai bottom sangat mementingkan diri sendiri, orang kaya merasa bisa melanggar hukum karena bisa lepas dari itu, punya uang segala macem. Di bawah juga seperti itu, mereka boleh melanggar hukum karena mereka mencari uang. Misal kayak mencuri. Jadi patriot sangat jarang di Indonesia, makanya negeri ini butuh patriot," katanya.

Menurut Joko, kehidupan yang dijalani karakter Gundala adalah refleksi dari yang dialami semua orang. Di zaman modern saat ini, ia melihat egosentris orang sangat tinggi, sampai abai terhadap keadilan bagi sesama.

"Gundala adalah kita semua, banyak dari kita yang enggak peduli keadilan yang di-abuse depan kita, kita diam saja. Banyak banget kayak gitu, di MRT, di Trans Jakarta ada orang dilecehkan, diam saja. Kayak Sancaka di awal. Tapi akhirnya ketika kita tidak mendiamkan ketidakadilan, nah itu kita menjadi patriot, dan Indonesia butuh patriot," kata Joko.
Potret Nyata Kesenjangan Sosial dalam Film 'Gundala' Joko Anwar (depan, berkaus warna hitam) di lokasi syuting film 'Gundala'. (dok. Bumilangit Studios/Legacy Pictures)
Joko mengungkapkan, proyek Gundala melalui proses yang tidak mudah. Untuk filmnya sendiri, sutradara berusia 43 tahun itu mengaku cukup banyak menggunakan bantuan CGI (computer-generated imagery). Setidaknya, kata dia, ada sekitar 680 shot yang menggunakan CGI dengan 99 persen yang dikerjakan vendor Indonesia.

"Penulisan dan pengembangan naskah sudah dari 2017. Pra produksi secara informal mulai Januari 2018 dan syuting September 2018. Pascaproduksi cukup lama karena kalau mau rapi CGI-nya [butuh waktu]," demikian kata Joko.

Selain menjadi sutradara Gundala, Joko sendiri juga menjadi sosok yang bakal berada di balik proses kreatif Jagat Sinema Bumilangit. Katanya, proyek itu telah memiliki benang merah cerita dan karakter masing-masing hingga 2025.
Potret Nyata Ketimpangan Sosial dalam Film 'Gundala' Foto: CNNIndonesia/Timothy Loen

Usai Gundala, proyek ini akan berlanjut ke Sri Asih, Godam & Tira, Patriot Taruna, Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir dan Patriot. Keseluruhannya, ungkap Joko, telah rampung. Dia pun dengan percaya diri menjelaskan bahwa kesinambungan antar-karakter tidak sembarangan asal 'tempel'.

"Walau karakter banyak, semua dapet porsi yang baik, gitu. Kami tidak pernah menaruh karakter hanya karena kami mau menampilkan karakter, tapi [menurut] perkembangan cerita. Misal Gundala, tadinya karakter enggak sebanyak itu, tapi ketika berjalan, aku bikin skenario kayak ajak hewan peliharaan jalan, kita biarkan dia jalan ke mana tapi kalau ngaco mau ke rumah orang, saya tarik," paparnya.

Dia menambahkan, "Saya menulis skenario juga begitu. Membiarkan karakter berkembang, tiba-tiba kok karakter ini masuk, itu organik banget."

Di balik itu, Joko mengaku tak kesulitan kala harus menyatukan karakter Si Buta dari Gua Hantu dan Mandala yang sebenarnya tak satu semesta dengan Gundala. Ketiga karakter tersebut bahkan memiliki perbedaan era dalam komiknya. Jika Mandala dan Si Buta dari Era Jawara, Gundala dirancang datang dari Era Patriot.

"Enggak sulit, malah seru. Dan sebenarnya ada hint dalam film [Gundala] ini untuk menyatukan itu," katanya, memberi sedikit bocoran.

[Gambas:Video CNN] (agn/rea)