Analisis

Kala Festival Musik 'Terjebak' Musisi 'Itu-itu Saja'

CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 16:45 WIB
Kala Festival Musik 'Terjebak' Musisi 'Itu-itu Saja' Penampilan berulang musisi dalam sebuah festival wajar terjadi, namun bila terlalu sering, penonton pun bosan. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Bali, CNN Indonesia -- Soundrenaline 2019 berakhir ditutup dengan penampilan Feel Koplo pada Senin (9/9) dini hari. Suasana di Garuda Wisnu Kencana 'pecah', banyak pengunjung yang berjoget mendengar berbagai lagu dengan aransemen dangdut koplo.

Kehadiran dangdut koplo di Soundrenaline menandai ciri festival musik zaman kiwari alias kekinian: menghadirkan penampil lintas genre. Pada Soundrenaline 2019 saja, terdapat penampil dari berbagai genre mulai dari metal, pop, jazz, alternatif rock sampai eksperimental.

Meski begitu, cukup banyak penampil tahun lalu yang kembali naik panggung. Dari catatan CNNIndonesia.com, dari 59 penampil pada tahun ini, ada 20 yang pernah naik panggung pada tahun lalu.


Artinya, ada 33 persen penampil tahun ini yang sudah pernah beraksi sebelumnya. Meski tidak dominan, namun jumlah tersebut terbilang cukup banyak untuk sebuah festival musik. Dan bukan hanya Soundrenaline, hal ini juga terjadi di beberapa festival musik lainnya di Indonesia.

Penampil berulang di Soundrenaline 2019 adalah Barasuara, Fourtwnty, Navicula, Burgerkill, Shaggydog, Dipha Barus, Kimokal, The Hydrant, Danilla, Efek Rumah Kaca, Maliq & D'Essentials, Seringai, Padi Reborn, The Sigit, Elephant Kind, Jason Ranti, Kelompok Penerbang Roket, FSTVLST, The Upstairs dan Mocca.

Di antara "tampang lama" itu, ada beberapa musisi yang terbilang langganan tampil di Soundrenaline, sebut saja Seringai yang sudah tampil sejak 2005. Begitu pula dengan Maliq & D'Essentials.

Untuk membedakan penampilan dari tahun sebelumnya, maka dibuatlah formulasi kolaborasi; Seringai berkolaborasi dengan marching band Universitas Udayana, sedangkan Maliq & D'Essentials menggandeng Indra Lesmana, Tuan Tigabelas, dan Rektivianto Yoewono.

Penampilan berulang musisi di sebuah festival musik sejatinya bukan hal yang aneh, bila sekali atau dua kali. Namun pengamat sekaligus akademisi musik Yuka Narendra menilai akan lebih baik bila tak terlalu sering seorang musisi sering tampil di sebuah festival.

Hal ini jadi penting. Bukan hanya memberikan kesempatan musisi lain untuk tampil, tetapi juga mencegah penonton tak bosan melihat musisi "itu-itu saja".

"Menurut saya, kalau dua kali berulang enggak masalah. Tapi kalau tiga sampai empat kali berulang itu jadi pertanyaan besar," kata Yuka Narendra kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Yuka menilai ada sejumlah alasan di balik musisi yang tampil berulang, baik baru dua kali atau pun lebih. Pertama, pasar yang menentukan. Dalam menyusun daftar penampil, penyelenggara sebagian besar pasti mengundang musisi yang laku demi mendulang penonton.

Kurator Soundrenaline 2019, Widi Puradiredja, mengakui fenomena penampilan berulang tersebut.

"Berdasarkan survei ada nama-nama yang by request tinggi, artinya punya massa yang kuat. Menurut saya, enggak apa tampil ulang. Mereka cenderung ganti konsep tiap tahun, misal Seringai bawa marching band," kata Widi.

"Artinya kita bisa lihat walau setiap tahun main [di Soundrenaline], yang nonton masih full. Artinya gede, enggak ada yang bosen dengan Seringai. Mungkin Seringai setiap manggung punya konsep atau di luar acara ini eksistensi mereka bagus." lanjutnya.

Yuka kemudian mengatakan alasan kedua adalah kekurangan musisi di satu genre. Hal ini kemudian menjadikan musisi yang sudah ada selalu diundang kembali ke festival.

Namun kalau pun ada musisi lainnya dalam sebuah genre, level yang berbeda pada masing-masing musisi membuat kesempatan juga tak tersebar merata.

"Sangat mungkin [ada pengunjung yang bosan karena pengulangan penampil]. Pasti ada kalau kemungkinan. Tapi ada juga yang mungkin tidak bosan," kata Yuka.

Dyah Paramita (36), untuk kedua kalinya datang ke Soundrenaline tahun ini. Baru dua kali, dan ia sudah merasa jenuh. 

Bagi Dyah, tahun ini terlalu banyak pengulangan musisi. Apalagi, penampil yang kembali mentas tak membawakan karya baru.

"Misalnya Danilla, Soundrenaline 2018 dia tampil dengan banyak lagu album Lintasan Waktu. Dari dia tampil tahun lalu sampai Soundrenalin 2019, dia belum ada karya baru," kata Dyah di kawasan GWK.

Menurut Dyah, ada baiknya penyelenggara menetapkan periode jeda bila ingin kembali menampilkan musisi yang pernah tampil.

Selain mencegah kebosanan, ia menilai festival musik seharusnya memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan musisi baru yang sedang merintis, sehingga tidak melulu soal komersil.

Pada akhirnya, pengulangan penampil dalam festival musik bisa jadi dilema. Menampilkan musisi besar, walaupun berulang, memang untung secara bisnis. Namun pengunjung bisa bosan, yang nantinya juga berpengaruh pada penjualan tiket.

Di sisi lain, menampilkan banyak musisi baru memang membuat festival musik terasa lebih menyenangkan bagi penonton. Tapi, penyelenggara mesti bersiap bila jumlah penonton tak sebanyak yang diharapkan. (adp/end)