Review Film: 'Bikeman'

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Jumat, 20/09/2019 18:48 WIB
Review Film: 'Bikeman' Secara garis besar, 'Bikeman' menceritakan tentang kebohongan seorang anak muda bernama Sakkarin pada keluarga tentang pekerjaannya. (Dok. M Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film 'Bikeman' membuat saya berada dalam posisi bingung dan sulit tertawa untuk pertama kalinya saat menonton film komedi dari Thailand. Biasanya, saya mampu terhibur melihat film komedi dari Negeri Gajah Putih itu.

Sehingga, ketika Bikeman masuk ke Indonesia pada bulan ini dan didukung nama besar Peach atau Pachara Chirathivat, saya awalnya cukup bersemangat.

Tetapi semua sirna saat menyaksikan film ini di bioskop. Peach atau Pachara Chirathivat yang sebelumnya sukses mengundang gelak tawa dalam SuckSeed dan serial Hormones tak banyak membantu mengatasi suasana garing dari Bikeman.


Bintang lain seperti Sananthachat Thanapatpisal yang juga pernah tampil dalam film komedi romantis ATM: Er Rak Error dan serial Hormones pun sami mawon.

Secara garis besar, Bikeman menceritakan tentang kebohongan seorang anak muda bernama Sakkarin pada keluarga tentang pekerjaannya.

Ia mengaku bekerja sebagai karyawan bank. Padahal ia bekerja sebagai sopir ojek.

Kebohongan itu dimulai karena Sakkarin ingin membuat ibu serta neneknya bangga. Ia ingin seperti ayahnya yang dulu sempat menjadi manajer bank dan sangat dicintai ibunya.

Kehidupan Sak pun mulai mengalami 'kehebohan' karena paman Preecha, seorang mantan polisi, mulai mencurigai gerak-geriknya. Pada plot itu lah banyak bumbu komedi yang ditaruh dalam cerita.

Namun pada saat itu pula, bumbu tersebut jadi tak terasa karena fondasi cerita komedi yang lemah. Padahal, sudah didukung dengan scoring yang cukup menggelitik.

Adegan demi adegan yang ditampilkan tak mampu membuat saya tertawa terbahak-bahak. Apalagi, promosi film ini tergolong minim sehingga membuat studio sepi bak kuburan.
Review Film: 'Bikeman'Bikeman menceritakan tentang kebohongan seorang anak muda bernama Sakkarin pada keluarga tentang pekerjaannya. (Dok. M Pictures)
Sebenarnya beberapa kali penonton tertawa karena melihat ekspresi kocak para pemain. Namun tawa kami semakin hambar karena adegan dan ekspresi itu ditampilkan berulang kali hingga penonton bosan.

Aksi Peach yang memerankan Sak juga terbilang tak terlalu menarik perhatian. Bahkan saya lupa ia jadi pemeran utamanya karena aksi pemeran pendukung jauh lebih menarik.

Meski 'garing', Bikeman sebenarnya mampu membuat penonton tersenyum, apalagi ketika hubungan romansa Sak dan Jai yang lengkap dengan gombalan-gombalan ala Dilan muncul.

Bikeman sesungguhnya film drama-komedi. Namun film ini lebih bisa menyampaikan rasa haru dibanding jenaka. Apalagi ketika Sak berbincang dengan ibunya atau Jai.

Film yang disutradarai Prueksa Amaruji ini berhasil menyampaikan pesan kepada penonton mengenai keluarga serta meraih mimpi.

Jika pembaca merupakan penggemar film Thailand dan berambisi melihat pria tampan sebagai sopir ojek online, Bikeman menjadi salah satu pilihan yang masih bisa ditonton di CGV. (end)