Mati Suri Srimulat di Tanah Surabaya

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 28/09/2019 15:27 WIB
Mati Suri Srimulat di Tanah Surabaya Srimulat menapak ketenaran di THR Surabaya, tapi di kota ini pula grup lawak itu kini hidup segan mati tak mau. (CNN Indonesiaa/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tirai merah panggung Balai Pemuda, Surabaya, menutup ketika sajian musik dari Srimulat usai. Satu menit kemudian, tirai kembali terbuka, terlihat seorang ibu sedang merintih karena kedua anaknya terancam diambil Belanda.

Adegan berganti, menunjukkan keadaan keluarga lain. Kali ini menampilkan seorang suami yang diperankan Ahmad Rofiq meminta izin kepada Istri yang diperankan Titin untuk berjibaku di medan perang melawan belanda. Sang Istri lalu menangis bakal ditinggal suaminya.

Tapi tangisan itu tak berlangsung lama karena ia kedatangan tamu, Kepala Desa yang diperankan Eko 'Kucing'. Baru berbicara sebentar, kepala desa merayu Titin hingga akhirnya mereka indehoi.


Saat itulah tawa terdengar dari penonton yang mengisi sekitar 65 persen kursi Balai Pemuda.

Tawa lebih pecah terdengar ketika pemeran utama dari lakon bertajuk Srikandi Pelindung Ibu Pertiwi ini naik panggung. Ia adalah Srikandi yang diperankan seorang waria yang dikenal bernama Mami Octa.

Srikandi diminta Kepala Desa menjadi umpan untuk mengalahkan Belanda. Ia diminta menggoda seorang Belanda yang memimpin operasi lalu membunuhnya bila ada kesempatan. Dan rencana itu berjalan sesuai rencana, penampilan selesai.


Mati Suri Srimulat di SurabayaAksi Srimulat Surabaya saat tampil di Balai Pemuda pada 10 Agustus 2019. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Sejatinya penampilan Srimulat Surabaya yang berlangsung selama 60 menit tidak terlalu lucu. Banyak dialog yang memelesetkan kata-kata seperti Srimulat lawas, seperti Kepala Desa yang mengubah kata cocok menjadi cocot.

Kata itu ia lontarkan ketika mengomentari pakaian yang dikenakan Titin. Alih-alih berkata cocok, Kepala Desa berkata 'cocot kamu' yang berarti cerewet. Sudah puluhan tahun berlalu tetapi masih menggunakan formula yang sama. Agak membosankan sebenarnya.

Sementara Srikandi, berhasil tampil jenaka lewat berbagai celetukan yang ia lontarkan. Seperti ketika Kepala Desa memuja kecantikannya karena ia turun dari kayangan. Dengan santai Srikandi menjawab ia datang naik ojek online.

Srikandi juga memiliki tongkat sihir yang bisa mengeluarkan kekuatan bila ia merapal mantra 'kupu-kupu yang lucu' dengan nada lagu. Sayangnya adegan ini terlalu sering diulang sehingga hilang daya magis jenakanya.

Kekurangan lain adalah pemilihan pemain yang tidak sesuai dengan karakter. Salah satunya pada karakter Belanda yang justru diperankan oleh pemain berambut hitam gondrong dengan seragam TNI AD.

Padahal akan lebih baik bila karakter tersebut memiliki seragam yang mirip dengan pakaian Belanda. Ketidakselarasan antara karakter dengan cirinya amat berpotensi merusak penampilan.
Mati Suri Srimulat di SurabayaPara penonton menikmati pertunjukan Srimulat Surabaya pada 10 Agustus 2019. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Sekarat Puluhan Tahun

Namun kekacauan itu semua tergolong baik karena Srimulat masih bisa menarik cukup banyak penonton.

Sejak medio dekade 1980, pamor Srimulat Surabaya mulai menurun karena renovasi Taman Hiburan Rakyat (THR) sebagai lokasi gedung Srimulat tak jua rampung.

Mengutip buku Teguh Srimulat Berpacu dalam Komedi dan Melodi karya Herry Gendut Janarto, renovasi Gedung Srimulat selesai lebih dulu pada Juni 1987. Tapi tetap saja penonton sepi lantaran dari jalan raya menuju Gedung Srimulat berjarak 300 meter.

Belum lagi jalanan itu rusak parah karena setiap hari dilewati truk-truk proyek yang sangat berat. Penerangan juga belum ada. Hal ini melengkapi alasan penonton enggan mampir ke Srimulat Surabaya.

Padahal, Srimulat Surabaya adalah cikal bakal kejayaan Srimulat yang dikenal masyarakat Indonesia. Teguh Slamet dan Srimulat memulai perjalanan grup lawak ini di Surabaya pada 1961.

Srimulat Surabaya yang dekade '80-an dipimpin Bambang Tejo perlahan bangkit saat ada THR Surabaya Mall. Memasuki awal dekade '90-an, Srimulat Surabaya dipimpin oleh Mesran, mantan pembantu rumah tangga Teguh Slamet Rahardjo dan Raden Ayu Srimulat.
Mati Suri Srimulat di SurabayaGedung Srimulat sudah ditinggal oleh anggotanya ketika ditengok Juli 2019. (CNN Indonesiaa/Endro Priherdityo)
Teguh sendiri sudah tak lagi mengelola Srimulat secara langsung. Ia mengotonomikan tiga daerah lokasi Srimulat, Solo, Surabaya, dan Jakarta sejak pertengahan dekade '80-an.

Teguh mempercayakan masing-masing cabang Srimulat itu kepada lingkaran dekatnya, seperti Bambang Tejo yang merupakan adik dari Jujuk Juwariyah. Bambang diamanahi Srimulat Surabaya sejak 1983.

Tapi suasana kejayaan Srimulat Surabaya di tangan Bambang Tejo dan Mesran tak bertahan lama. Srimulat Surabaya kembali terpuruk pada pertengahan dekade '90-an saat dipimpin Martopo. Manajer setelahnya, Minto yang memimpin 2009 hingga 2016 juga tak mampu membangkitkan kembali Srimulat Surabaya.

Ada banyak faktor yang membuat Srimulat Surabaya kehilangan taji. Salah satunya kondisi THR yang tak lagi terurus dan berantakan, membuat penonton malas mengunjungi.

Mati Suri Srimulat di Tanah Surabaya


Hal itu belum termasuk mes para pemain Srimulat yang menjamur di sekitar Gedung Srimulat.

Salah satu yang pernah tinggal di kawasan tersebut adalah Miarsih yang bergabung sejak 1972. Ia membayar uang sewa setiap tahun sebesar Rp7,5 juta.

Baru pada 2016 ia diberikan tempat tinggal oleh Pemerintah Kota Surabaya di Rusunawa Keputih. Begitu pula dengan beberapa seniman lain yang sempat menetap di THR.

Sejak awal 2017, Pemkot Surabaya memutuskan ikut campur dalam nasib para seniman Srimulat juga komunitas seni yang mengisi THR. Pemerintah menyediakan Balai Pemuda sebagai tempat tampil empat bulan sekali dan dana sebesar Rp13 juta untuk setiap penampilan.
Mati Suri Srimulat di SurabayaSejak awal 2017, Pemkot Surabaya memutuskan ikut campur dalam nasib para seniman Srimulat juga komunitas seni yang mengisi THR. (CNN Indonesiaa/Endro Priherdityo)
"Bantuan yang kami berikan diantaranya adalah mereka masih diberi kesempatan untuk tampil di beberapa tempat. Baik itu di acara-acara formal atau acara rutin yang kita lakukan, maupun di acara-acara di luar formal, di tempat-tempat terbuka yang kita siapkan untuk mereka bisa tetap tampil," kata Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Pemkot Surabaya, Antiek Sugiharti.

Sebagai jembatan antara Pemerintah Kota Surabaya dan komunitas Srimulat, Eko 'Kucing' ditunjuk untuk mengelola grup lawak tersebut sejak 2017.

Saat tampil ia juga ikut ke panggung berperan sebagai sutradara dan pemain. Saat membuat cerita terkadang ia mengambil dari cerita yang pernah dimainkan Srimulat dulu.

"Saya punya buku-buku cerita Srimulat yang lama-lama itu. Itu enggak semua saya buka, jadi saya harus membuat cerita berdasarkan ide saya," kata Eko.

[Gambas:Video CNN]

Mengikuti Panggilan Jiwa


Kini ada 26 personel Srimulat Surabaya yang terdiri dari 13 pelawak dan 13 musisi. Dari 13 pelawak itu terdapat orang lama bernama Hera Budiwati alias Vera dan Miarsih. Sementara 11 pelawak lainnya merupakan orang baru.

Salah satu pemain baru adalah Octa yang bergabung sejak dua tahun lalu. Seniman yang lahir pada Oktober 1980 ini sudah lama mengetahui Srimulat. Ia sempat menyaksikan Srimulat secara langsung pada awal dekade 1990-an.
Mati Suri Srimulat di SurabayaSalah satu pemain Srimulat baru adalah Octa yang bergabung sejak dua tahun lalu. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Octa yang memiliki bisnis di bidang tata rias dan salon, membuat ia sering datang ke acara seni panggung untuk merias pemain. Dari situ ia bertemu Eko hingga kemudian diajak bergabung ke Srimulat.

Padahal Octa sudah terbilang berpenghasilan cukup dari salon yang ia kelola. Bila bermain di Srimulat, ia hanya mendapatkan Rp200-300 ribu sekali tampil.

"Alasan mendasar untuk saya bergabung di Srimulat walaupun saya punya salon, kekeluargaan. Itu yang lebih utama dan lebih penting gitu," kata Octa.

Ia tidak segan untuk mengaku sebagai transgender. Bila laki dan perempuan diibaratkan pagi dan malam, maka ia merasa dirinya adalah sore. Dengan begitu menurutnya kehadiran orang-orang sepertinya sangat dibutuhkan.

Octa sendiri sangat mengidolakan Kabul Basuki alias Tessy yang kerap berperan sebagai waria di panggung Srimulat. Ia menjadikan Tessy sebagai kiblat di atas panggung. Bedanya, ia tetap menjadi 'sore' di luar panggung Srimulat.

"Lain lho [dengan] mas Tessy. Dia punya keluarga itu saya salut. Itu saya yang kepengen belajar, apalagi dia punya turunan," katanya.

Selain Octa, deretan pelawak muda Srimulat Surabaya juga dihuni oleh Ahmad Rofiq yang juga bergabung sejak 2017. Pria yang lahir pada Oktober 1980 ini sering menyaksikan penampilan Srimulat lewat layar kaca.
Mati Suri Srimulat di SurabayaSelain Octa, deretan pelawak muda Srimulat Surabaya juga dihuni oleh Ahmad Rofiq yang juga bergabung sejak 2017. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Rofiq sendiri sudah lama bergelut dalam dunia seni panggung. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ia sudah bergabung dengan komunitas seni. Ia biasa memerankan karakter antagonis saat tampil di panggung ludruk.

"Saya perannya spesialis antagonis. Tapi jiwa saya jiwa pelawak. Tapi kalau saya disuruh melawak ada sedikit beban awalnya, setelah sering melawak kok masuk," kata Rofiq.

Ia mempertajam kemampuan lawaknya dengan melihat penampilan pelawak lawas lewat YouTube. Sama seperti Octa, ia juga mengidolakan Tessy yang kerap melontarkan candaan ngawur tapi berhasil membuat penonton tertawa.

Selain belajar melawak, di panggung Srimulat ia juga harus terbiasa improvisasi yang tidak biasa ia lakukan di panggung ludruk. Menurutnya porsi improvisasi dalam Srimulat sebanyak 90 persen.

Rofiq sebenarnya memiliki kesibukan selain Srimulat dan panggung seni lain. Sudah lima tahun terakhir ia menjalankan bisnis wallpaper yang menjadi sumber utama pendapatan untuk menghidupi anak istri.

Minimal Rofiq bisa mendapat Rp1 juta setiap pesanan pemasangan wallpaper, angka itu lima kali lebih besar ketimbang pendapatan dari Srimulat. Beruntung ia sudah memiliki pegawai sehingga bisa bebas tampil bersama Srimulat.

"Kalau kegiatan seni ini memang panggilan jiwa. Satu sisi saya menikmati, satu sisi berapa pun hasilnya saya enggak mikir ke arah sana. Saya berharap ada pendapatan dari seni, tapi itu nomor belakangan," kata Rofiq.

Terlepas dari curahan hati Octa dan Rofiq, Eko sengaja merekrut pelawak baru untuk regenerasi Srimulat Surabaya. Memang sulit untuk kembali bangkit seperti sedia kala, tapi setidaknya Srimulat belum tamat.

Tulisan ini merupakan bagian dari Liputan Khusus CNN Indonesia. Ikuti selengkapnya di sini: Srimulat Tak Pernah Tamat. (end/vws)