Laporan dari Busan

'Kartu-kartu As' Kesuksesan Perfilman Korea

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 17:02 WIB
'Kartu-kartu As' Kesuksesan Perfilman Korea Ilustrasi: Film 'Extreme Job'. (dok. CJ Entertainment)
Busan, CNN Indonesia -- Film dari Korea Selatan menjadi pusat perhatian dari berbagai industri perfilman selama beberapa tahun terakhir. Bukan karena usianya saja yang sudah seabad, tetapi banyak kesuksesan yang telah ditorehkan.

Tak heran muncul banyak pertanyaan mengapa film Korea bisa mencapai posisi seperti saat ini: jadi favorit Hollywood, menjuarai berbagai festival dan penganugerahan film dunia, dan digilai masyarakat lintas bangsa juga negara.

Profesor di Busan Asian Film School (AFiS) sekaligus pengamat perfilman Korea Darcy Paquet menjabarkan kepada CNNIndonesia.com, bahwa Korea memiliki lebih dari satu 'kartu As' dalam kesuksesan industri perfilmannya.


"Perfilman Korea memiliki sejumlah kunci yang jadi kekuatannya, seperti dedikasi para aktor dan kualitas teknis yang tinggi dari film-filmnya. Namun saya pikir kunci yang terpenting adalah mereka memiliki penonton dengan minat yang tinggi," kata Paquet di sela acara Busan International Film Festival 2019.

"Para penonton tetap mendorong industri film untuk terus membuat film yang lebih baik," katanya.

'Kartu-kartu As' Kesuksesan Perfilman KoreaFilm 'Parasite' kini jadi favorit para kritikus Hollywood. (Dok. CJ Entertainment/Korean Film Council)

Namun Paquet tak menampik bahwa trik membuat para penonton terus 'lapar' dengan karya sinematik Korea adalah penempatan bintang dalam setiap proyeknya.

Seperti Indonesia, Paquet menyebut agak sulit film bisa dibuat sukses bila tak mencantumkan seorang bintang besar.

"Sistem bintang film ini memberikan banyak keuntungan untuk industri film, namun sejumlah kritikus mengkhawatirkan investor terlalu fokus pada bintangnya ketimbang cerita film," kata Paquet.

Direktur artistik dalam Wildflower Film Awards Korea tersebut juga menyebut dukungan Pemerintah Korea Selatan juga menjadi faktor penting yang mendorong industri film negara itu berkembang.

Pemerintah Korea Selatan mulai membenahi dukungan kepada industri film usai diktator Park Chung-hee yang membuat UU Film yang kolot meninggal dunia pada 1979. Amandemen UU Film pada 1984 membuat industri film Korea bisa bernafas lega.

Namun dukungan tidak berhenti sampai di situ. Berbagai kebijakan Pemerintah Korea yang sempat memperketat impor film asing dan memberi izin perusahaan Hollywood membuka kantor di Korea turut mendorong industri perfilman.

'Kartu-kartu As' Kesuksesan Perfilman KoreaPemerintah Korea Selatan mulai membenahi dukungan kepada industri film usai diktator Park Chung-hee yang membuat UU Film yang kolot meninggal dunia pada 1979. (Unknown via Wikimedia Commons)
Apalagi ketika Korea Selatan berusaha bangkit usai krisis ekonomi yang melanda Asia pada 1997. Industri film adalah satu lahan yang digarap serius untuk bisa berkembang.

"Kebanyakan kontribusi pemerintah kepada industri film adalah secara tidak langsung. Contohnya, menyediakan pendampingan pemasaran atau membiayai sekolah film dibandingkan langsung berinvestasi pada berbagai proyek film," kata Paquet.

"Ini sebagian karena Korea memiliki pasar film besar dan ekonomi maju, sehingga ada sumber keuangan lain untuk film," lanjutnya.

Terkait kegandrungan banyak orang atas film dan karya sinematik Korea Selatan, Darcy Paquet yang juga menjabat sebagai konsultan program Udine Far East Film Festival tersebut ternyata punya jawabannya.

"Saya pikir emosi dalam film Korea dikomunikasikan sangat langsung kepada penonton. Jika banyak film Hollywood berpusat di sekitar aksinya, film Korea tampaknya berpusat di adegan-adegan emosi yang intens," katanya.

[Gambas:Video CNN] (end)