Rupiah, 'Buah Manis' dari Seram Film Horor

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 14:35 WIB
Rupiah, 'Buah Manis' dari Seram Film Horor Rumah produksi menilai penggemar film horor konsisten dan karenanya, menjadi pasar yang menggoda. (dok. Rapi Film)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hampir setiap dua minggu sekali bioskop Indonesia diwarnai film horor baru. Bisa dibilang pola itu terjadi sejak awal era 2000-an ketika Jelangkung (2001) rilis, dilanjutkan dengan Kuntilanak (2006), Pocong (2006) dan beberapa film lain.

Menengok ke belakang, sebenarnya industri film Indonesia sudah mulai ramai dihiasi film horor pada dekade 1970-an. Satu dekade kemudian, genre horor jadi primadona. Dua rumah produksi yang rajin memproduksi film horor adalah Rapi Films dan Soraya Intercine Films.

"Memang kami lihat pasar film horor dari dulu sampai sekarang ada terus. Seingat saya dari tahun 1970 sampai sekarang enggak pernah putus," kata produser Rapi Films, Sunil Samtani, saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Pasar yang konsisten menjadi alasan utama sebuah rumah produksi membuat film horor. Dari menjual ketegangan, rumah produksi berpotensi memetik buah manis alias untung yang tak sedikit.

Menurut sutradara Kimo Stamboel, pasar tertarik dengan film horor karena terasa seperti wahana ketika masuk. Mereka yang menonton film horor memang ingin ditakuti.

"Semua adrenalin yang ada di dalam diri mereka itu memancing sesuatu, hormon yang membuat mereka senang. Gue rasa itu alasan kenapa mereka suka ditakut-takuti," kata Kimo kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Atas nama pasar, Rapi Films memproduksi minimal dua film horor dalam satu tahun. Di 2019, mereka membuat Ikut Aku ke Neraka yang edar pada Juli lalu dan Ratu Ilmu Hitam yang rilis awal November mendatang.

Sunil menjelaskan, potensi film horor lebih besar ketimbang film drama. Menurutnya dalam lima tahun belakangan, minimal satu film horor bisa mendapat 200 ribu penonton. Bila rumah produksi memperoleh Rp15 ribu dari penjualan satu tiket, setidaknya mereka bakal mendapat Rp3 miliar.

Rumah produksi jelas meraup untung bila biaya produksi dan promosi di bawah Rp3 miliar. Namun menurut Sunil, sulit membuat film horor di bawah Rp3 miliar. Bila dipaksakan, kualitas film cenderung berkurang.

"Karena bujet berpengaruh ke penentuan siapa sutradara, aktor, kru, peralatan, set, lokasi dan durasi syuting. Biasanya syuting 40 hari, [kalau bujet mepet] ada yang bisa selesai 10 hari. Untung bisa cepat (tapi kualitas belum tentu bagus)," kata Sunil.

Menurut sang produser, setidaknya biaya minimal produksi dan promosi film horor berada di kisaran Rp5 sampai Rp10 miliar. Seperti Pengabdi Setan (2017) yang ia buat, kurang lebih memakan biaya Rp6 miliar untuk produksi dan Rp3,2 miliar untuk promosi.

Buah Manis dari Seram Film Horor [emb4]Film 'Pengabdi Setan' tercatat meraup sukses besar, diprediksi mencapai puluhan miliar rupiah. (dok. Rapi Films)
"Kami bisa tahu (film untung atau tidak) dari hari pertama penayangan. Kalau hari pertama bisa dapat 100 ribu penonton, itu udah bagus banget. Pengabdi Setan kemarin hari pertama dapat 91 ribu," kata Sunil.

Meski demikian ia menegaskan bahwa tidak semua film horor pasti mendapat untung, walau sangat berpotensi. Ia mengaku pernah membuat film horor yang gagal untung. Meski demikian, Rapi Films terus memproduksi demi mendapatkan formula yang tepat.

Menurut Sunil, hal yang paling penting dalam memproduksi film horor adalah naskah dan cerita yang kuat. Ia selalu membaca naskah untuk mengetahui tingkat keseraman. Bila merasa takut saat membaca, artinya film layak diproduksi. Namun bila tidak takut, jangan harap dapat untung.

Pengabdi Setan bisa dibilang memiliki naskah dan cerita yang kuat meski tetap memiliki sedikit kekurangan. Film itu tercatat berhasil mendapat 4,2 juta penonton, diperkirakan setidaknya Rapi Films meraup pendapatan kotor sebesar Rp63 miliar. Belum lagi perolehan yang didapat dari pemutaran di 42 negara.

"Selain naskah, siapa sutradara juga banyak menarik penonton. Seperti Joko Anwar yang penggemarnya banyak, mereka sudah tahu gaya Joko kayak apa. Pemain juga berpengaruh sekali," katanya.

Bila melihat dari jenis film horor, kata Sunil, yang paling laku adalah film horor dengan banyak jump scare. Penampakan setan yang seram dan aneh masih menjadi visual favorit penonton di Indonesia.

Ia menambahkan, "Di Hollywood yang enggak percaya hal mistik (film horor laku), apalagi di Indonesia, kita percaya dengan hal-hal mistik. Jadi kesurupan, penampakan hantu dan arwah pasti ada."

Lebih lanjut, Kimo menjelaskan tantangan terbesar memproduksi film horor adalah membuat cerita yang berbeda dan menarik. Pasalnya kemunculan film horor baru yang hampir setiap dua minggu sekali mau tak mau membuat penonton selektif.

"Kami di sini harus membuat sesuatu yang sangat berbeda dan membuat orang merasakan, film horor ini fresh. Itu menurut gue lumayan sulit," kata Kimo. (adp/rea)